
Oleh: Sean Filo Muhamad
Membaca Buku – Faeyza Kenzie (kiri) dan Muhammad Nasir (kanan), membaca buku bacaan yang dibagikan dalam kegiatan Literasi Bahasa Pasir Buncir yang digelar di desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (1/6).(foto:mb/ant)
Matahari perlahan merangkak naik, mengusir kabut pagi yang menyelimuti kawasan lereng di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Udara sejuk khas pegunungan masih sangat terasa ketika puluhan anak berkumpul di sudut sebuah pelataran sederhana. Perhatian mereka tersita pada tumpukan benda berbentuk persegi panjang yang baru saja tiba di kampung mereka.
Di antara kerumunan itu, Faeyza Kenzie (8) tampak membolak-balikkan halaman sebuah buku bergambar dengan mata berbinar. Jemari mungil siswa kelas 2 sekolah dasar tersebut meraba sampul yang masih kaku dan licin, seolah memastikan benda di pangkuannya adalah nyata.
Tidak jauh darinya, Muhammad Nasir (11), siswa kelas 5 SD Cinagara 03, ikut mencondongkan badan. Keduanya tengah asyik mengamati gambar rasi bintang dan pesawat luar angkasa yang tercetak jelas di atas kertas baru. Saat ditanya apa cita-cita mereka kelak, dengan kompak dan suara lantang mereka menjawab, “Ingin jadi astronot.”
Mimpi melanglang buana ke luar angkasa itu terdengar begitu megah. Namun, keseharian yang harus dilewati oleh Faeyza, Nasir, dan puluhan kawan sebayanya justru menuntut daya juang ekstra. Jangankan untuk membayangkan teknologi roket peluncur, untuk bisa sekadar mengakses pendidikan dasar yang memadai saja, mereka harus bersahabat dengan kontur alam pegunungan yang menantang.
Faeyza dan Nasir adalah gambaran kecil dari tunas-tunas muda yang tumbuh di Kampung Wangun Jaya dan Kampung Mekar Jaya. Keduanya merupakan bagian dari wilayah administratif Desa Pasir Buncir. Di permukiman ini, terdapat sekitar 350 kepala keluarga (KK) yang menggantungkan hidup sehari-hari. Di balik keasrian alamnya yang menyejukkan mata, wilayah ini menyimpan tantangan tersendiri, terutama dalam hal mendekatkan akses pendidikan dasar bagi warganya.
Despi Hermawati, seorang kader desa yang sehari-hari mendampingi tumbuh kembang anak-anak di kedua kampung tersebut menuturkan kondisi keseharian yang sudah berlangsung sejak lama. Untuk mencapai gedung sekolah dasar yang berlokasi di dekat jalan utama desa, anak-anak harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar dua kilometer. Perjalanan itu bukan menyusuri trotoar mulus, melainkan melewati jalan setapak yang sempit, menukik, berkelok, dan tidak memungkinkan untuk dilalui oleh kendaraan roda empat.
Kondisi tersebut akan semakin membutuhkan ketangguhan, ketika anak-anak ini beranjak remaja. Jarak menuju sekolah menengah pertama (SMP) terdekat bisa mencapai hingga dua kali lipat dari jarak menuju SD. Perjalanan panjang setiap hari dengan akses mobilitas yang terbatas tentu membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang kuat. Tantangan akan semakin berlapis bagi mereka yang berniat melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas (SMA), mengingat lokasinya berada di kecamatan lain dengan jarak tempuh yang jauh lebih panjang.
Keterbatasan infrastruktur dan jauhnya titik akses pendidikan ini, pada gilirannya, pelan-pelan ikut memengaruhi dinamika sosial di tengah masyarakat. Kelelahan fisik anak serta biaya transportasi yang harus disiapkan membuat sebagian orang tua merasa kesulitan untuk menyekolahkan anak mereka hingga jenjang yang lebih tinggi.
Menurut Despi, minimnya keterjangkauan akses pendidikan dasar hingga menengah ini memicu rantai efek yang menyentuh tingkat literasi warga. Tantangan sosiologis yang paling kentara adalah bergesernya pandangan sebagian masyarakat tentang masa depan anak muda setempat.
Tanpa adanya jembatan kemudahan untuk bersekolah lebih tinggi, banyak generasi muda di Kampung Wangun Jaya dan Mekar Jaya yang akhirnya dipersiapkan untuk membangun rumah tangga, sesaat setelah mereka menamatkan bangku SMP. Menikah di usia remaja kerap dipandang sebagai pilihan paling rasional, ketika akses untuk melanjutkan pendidikan terasa terlampau berat.
Meski demikian, masyarakat setempat sama sekali tidak berpangku tangan. Kesadaran untuk terus membekali anak-anak dengan ilmu pengetahuan tetap menyala terang. Lewat semangat gotong royong dan kemandirian, warga berinisiatif mendirikan sebuah lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD) secara swadaya. Bangunan yang digunakan pun adalah wujud kepedulian tulus dari salah seorang warga yang merelakan rumah pribadinya untuk dialihfungsikan menjadi ruang belajar sederhana.
Kehadiran PAUD ini menjadi fondasi awal, sebelum anak-anak menempuh perjalanan jauh menuju SD. Akan tetapi, ruang belajar tetap membutuhkan bahan bacaan yang memadai. Selama ini, ketersediaan buku di sana amat terbatas. Terakhir kali anak-anak mendapatkan asupan bahan bacaan adalah dari sumbangan sebuah program bakti sosial universitas pada tahun 2006. Lembaran-lembaran usang tersebut terus dibaca bergantian oleh anak-anak dari generasi ke generasi.
Anak-anak mengikuti kegiatan baca buku bersama dalam kegiatan Literasi Bahasa Pasir Buncir yang digelar di desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (1/6/2026). ANTARA/Sean Filo Muhamad
Merespons kondisi ketersediaan buku dan dinamika sosial masyarakat tersebut, sebuah langkah kolaboratif akhirnya terwujud melalui gerakan bertajuk “Literasi Bahasa Pasir Buncir”. Gerakan yang diinisiasi oleh Ikatan Penggerak Swadaya Masyarakat Indonesia (IPSMI) ini hadir menyapa sekitar 70 anak usia 4 hingga 12 tahun di kedua kampung tersebut, dengan membawa 250 buku baru hasil kolaborasi bersama Perpustakaan Nasional dan Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Kehadiran buku-buku bersampul cerah ini bukan sekadar ditujukan untuk menambah koleksi bacaan atau seremonial belaka, melainkan dirancang sebagai pintu masuk untuk mengubah pola pikir.
Hal ini sejalan dengan pandangan Penggerak Literasi Desa Pasir Buncir, Neni Herlina. Ia menekankan bahwa menumbuhkan budaya membaca harus dihidupkan sebagai sebuah gerakan bersama yang berakar dari lingkungan terkecil di masyarakat. Baginya, literasi tidak hanya berhenti pada kemampuan mengeja deretan kalimat di atas kertas, tetapi jauh lebih dalam dari itu, yakni tentang cara membangun nalar berpikir, memperluas wawasan, dan pada akhirnya mampu mencetak generasi yang bisa membawa perubahan positif bagi desa maupun bangsa.
Semangat yang sama juga diyakini oleh Kartika Puspitasari, selaku penggerak swadaya masyarakat. Ia menilai pendekatan literasi ini akan menjadi katalis yang memperkuat partisipasi sosial masyarakat desa secara menyeluruh. Melalui kebiasaan membaca yang terus dipupuk, perlahan akan lahir tatanan masyarakat yang lebih sadar akan potensi dirinya, lebih mandiri, dan kreatif. Masyarakat dengan literasi yang baik inilah yang kelak mampu berkontribusi penuh dalam pembangunan desa secara berkelanjutan.
Untuk memastikan gerakan membaca ini terus berkesinambungan dan tidak berhenti seketika, Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (Umbara) turut mendampingi kegiatan warga. Lewat pendampingan ini, masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda di Pasir Buncir, diharapkan semakin termotivasi menjadikan buku sebagai bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan sehari-hari, sekaligus menumbuhkan keberanian untuk berkarya bagi kemajuan desanya.
Menjelang siang, riuh rendah suara anak-anak yang mengeja kata masih terdengar di sudut Kampung Wangun Jaya. Melalui hadirnya buku-buku baru ini, anak-anak Pasir Buncir perlahan menemukan pelabuhan bagi imajinasi mereka. Lembar demi lembar buku yang dibaca diharapkan mampu menyibak cakrawala baru, menggantikan pandangan bahwa setelah SMP anak harus segera dinikahkan, dengan keyakinan bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup.
Bagi Faeyza, Nasir dan kawan-kawannya, tumpukan buku itu memang tidak bisa seketika memangkas jarak berkilo-kilometer menuju sekolah mereka. Namun, jendela ilmu tersebut telah memangkas jarak antara mereka dengan cita-citanya, menjaga asa bahwa mimpi menjadi astronot dari lereng Pasir Buncir adalah sesuatu yang sangat layak untuk terus diperjuangkan. (ant)

