JAKARTA – Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, kelas masyarakat tidak perlu membeli tabung CNG. Hal ini berbeda dengan skema distribusi LPG 3 kg di mana masyarakat perlu membeli terlebih dahulu tabung.
Menurut Laode, dalam skema yang masih digodok, badan usaha akan menyediakan tabung CNG 3 kg. Sementara itu, masyarakat hanya perlu meminjam tabung tersebut. Artinya, tidak ada kepemilikan tabung oleh masyarakat.
“Itu masyarakat tidak beli tabung. Tabung milik supplier gasnya. Jadi, masyarakat nanti tidak membeli. Skema yang sedang dibuat sekarang, masyarakat tidak diharuskan beli tabung,” tutur Laode di sela acara Indonesia Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026,
Dia pun mengatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan rencana impor 100.000 tabung CNG kemasan 3 kg dari China. Laode menyebut, saat ini proses pengujian sedang dilakukan.
Dia memastikan impor tersebut bakal dilakukan oleh badan usaha. Namun, dia tak menjelaskan apakah badan usaha milik negara (BUMN) atau pihak swasta yang akal mengimpor tabung tersebut. “Ini yang lakukan calon badan usahanya ya, bukan kita. Mereka yang sedang berproses sekarang,” kata Laode.
Di satu sisi, Laode belum bisa memerinci berapa perkiraan biaya impor dan harga tabung CNG 3 kg itu. Dia hanya memastikan bahwa pemerintah masih menggodok skema bisnis program CNG 3 kg sebagai substitusi LPG 3 kg alias gas melon subsidi.
Dalam kesempatan sebelumnya, Laode menjelaskan, CNG merupakan jenis gas dengan tekanan tinggi, yakni sekitar 250 bar. Sebagai gambaran, LPG hanya memiliki tekanan antara 5 hingga 10 bar saja. Artinya, diperlukan tabung khusus untuk menampung CNG agar lebih aman.
Menurut Laode, saat ini terdapat empat tipe tabung untuk CNG. Untuk tabung CNG berkapasitas 3 kg dibutuhkan tabung tipe 4 dengan bahan fiber yang ringan. Namun, tabung tipe ini untuk kemasan setara LPG 3 kg belum ada di dunia.
Oleh karena itu, Laode mengatakan, untuk melakukan uji coba mengemas CNG dalam tabung 3 kg, pihaknya perlu memesan kemasan khusus tersebut dari luar negeri.
Kementerian ESDM menargetkan uji pemanfaatan CNG sebagai alternatif pengganti LPG 3 kg rampung tahun ini. Pemanfaatan CNG untuk rumah tangga akan dilakukan secara bertahap. Artinya, implementasinya bakal dilakukan dahulu di kota-kota besar, sebagai percontohan.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, harga CNG tidak akan lebih mahal dibanding gas melon karena tetap mendapat subsidi negara.
Dia menegaskan skema subsidi untuk CNG merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah ingin memastikan transisi energi rumah tangga tidak membebani masyarakat kecil yang selama ini bergantung pada LPG bersubsidi.
Bahlil memastikan harga jual CNG kemasan setara 3 kilogram tidak akan melampaui harga LPG subsidi yang saat ini memiliki harga eceran tertinggi (HET) sekitar Rp18.500 hingga Rp19.000 per tabung. bisn/mb06

