Mata Banua Online
Senin, Mei 18, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Mafia Bikin Harga Tinggi Ditengah Stok Melimpah

by Mata Banua
17 Mei 2026
in Ekonomi & Bisnis
0
(foto;mb/web)

JAKARTA – Pemerintah mulai te­rang-terangan menuding praktik ma­fia pangan sebagai penyebab harga ba­han pokok tetap tinggi meski pro­duksi dan stok melimpah.

Kondisi itu dinilai menjadi ano­mali yang menunjukkan persoalan pa­ngan nasional bukan lagi semata pro­duksi, melainkan tata niaga dan dis­tribusi yang dikuasai segelintir pe­laku besar.

Berita Lainnya

Harga Sapi Mulai Naik

Harga Sapi Mulai Naik

17 Mei 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Penumpang Pesawat Dilanda Ketidakpastian Penerbangan

17 Mei 2026

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kenaikan harga se­jumlah komoditas seperti beras dan min­yak goreng tidak masuk akal jika me­lihat posisi Indonesia sebagai produsen besar dunia.

“Indonesia anomali, kok stok banyak, kadang harga beras di satu tempat, minyak goreng naik, padahal kita adalah produsen terbesar dunia,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut me­ngindikasikan adanya permainan dis­tribusi dan spekulasi oleh mafia pa­ngan. Pemerintah pun meminta sa­tuan tugas pangan fokus memburu pro­dusen dan distributor besar yang di­duga memainkan pasokan, bukan pe­dagang kecil di tingkat eceran. “Yang dicari adalah produsen dan dis­tributor besarnya,” katanya.

Amran menegaskan pemerintah tidak akan berkompromi terhadap prak­tik spekulasi pangan. Dia men­co­ntohkan penindakan mafia minyak goreng yang disebutnya me­ng­ha­silkan 76 tersangka dalam satu tahun. Pernyataan Amran mengemuka di tengah sorotan terhadap tingginya harga pangan di tingkat konsumen, meski stok nasional relatif aman dan produksi sejumlah komoditas me­ni­ng­kat.

Situasi tersebut memunculkan per­tanyaan mengapa harga tetap ma­hal sementara petani justru tidak menikmati keuntungan besar. Eko­nom Institute for Development of Economics and Finance M. Rizal Taufikurahman menilai persoalan utama berada pada rantai distribusi pangan nasional yang panjang dan tidak efisien. “Tingginya harga pa­ng­an di level konsumen tetapi tidak dini­kmati petani menunjukkan adanya mas­alah serius pada rantai distribusi pa­ngan nasional,” ujarnya ketika di­hu­bungi.

Dia mencatat harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani pada 2025 rata-rata sekitar Rp6.669 per kiloram, sementara harga beras di kon­sumen jauh lebih tinggi setelah melewati peng­gi­li­ng­an, distribusi, dan perdagangan.

Artinya, margin terbesar justru di­nikmati pelaku distribusi dan per­dagangan, bukan petani sebagai produsen utama. Dia mengemukakan ko­mo­ditas yang paling rentan ter­hadap praktik manipulasi pasar antara lain beras, minyak goreng, gula, ca­bai, dan daging sapi.

Karakteristik komoditas tersebut umumnya memiliki permintaan ti­nggi, distribusi panjang, serta ke­terlibatan impor atau kuota besar se­hi­ngga rawan penimbunan dan per­ma­inan stok. Inflasi pangan pun ma­sih menjadi sumber utama tekanan biaya hidup rumah tangga. Menurut Rizal, kelompok volatile food pada 2025 masih banyak dipengaruhi har­ga beras, cabai, bawang, dan ayam ras yang sangat sensitif terhadap ga­ngguan distribusi.

Di sisi lain, mantan Sekretaris Ke­menterian BUMN Said Didu me­nilai praktik mafia pangan selama ini berjalan sistematis melalui manipulasi data, pengaturan kuota impor, hi­ngga penguasaan rantai distribusi nasional. Menurut dia, mafia pangan mem­peroleh keuntungan besar teru­tama dari impor komoditas strategis se­perti gula. “Coba bayangkan, im­por gula 6 juta ton itu bisa mendekati Rp100 triliun. Ini tempat permainan yang sangat nyata,” ungkapnya. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper