
JAKARTA – Harga gabah yang sudah menembus level tinggi saat panen raya berisiko menguji stabilitas harga beras pada kuartal II/2026, ketika produksi nasional mulai turun dan luas panen menyusut.
Di tengah stok pemerintah yang besar, pasar menghadapi tekanan baru karena kompetisi bahan baku di tingkat penggilingan masih ketat.
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras untuk konsumsi pangan masyarakat pada April-Juni 2026 sebesar 9,61 juta ton. Angka itu turun 0,87 juta ton atau 8,30% dibanding periode sama tahun lalu.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan penurunan tersebut sejalan dengan berkurangnya luas panen padi.
Pada periode yang sama, luas panen diperkirakan mencapai 3,16 juta hektare, turun 0,26 juta hektare atau 7,64% secara tahunan. “Sementara itu, potensi produksi beras pada Aprl sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan sebesar 9,61 juta ton atau menurun sekitar 8,30 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” ujarnya dalam paparan data BPS Mei 2026.
Turunnya produksi menandai fase panen raya mulai berakhir. Secara musiman, kondisi itu lazim terjadi setelah lonjakan produksi pada Februari dan Maret. Namun, tahun ini pasar menghadapi persoalan tambahan karena harga gabah sudah tinggi bahkan sebelum memasuki musim gadu.
Produksi padi dalam bentuk gabah kering giling pada April-Juni 2026 diperkirakan 16,68 juta ton, turun 1,51 juta ton atau 8,31% dibanding periode sama 2025. Sebelumnya, produksi beras Maret 2026 juga turun 3,67% menjadi 5,04 juta ton.
Di lapangan, pelaku usaha penggilingan menyebut harga gabah kering panen jauh melampaui harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Di sejumlah sentra, harga gabah di penggilingan disebut sudah berada di kisaran Rp7.600 hingga Rp8.200 per kilogram. Kenaikan bahan baku itu menekan margin penggilingan karena pada saat bersamaan harga jual beras dibatasi melalui harga eceran tertinggi. Kondisi tersebut membuat sebagian pelaku usaha kehilangan ruang usaha, terutama penggilingan kecil dan menengah.
Pengamat pertanian Khudori menilai tekanan di pasar gabah terjadi karena perebutan pasokan masih sangat kuat, termasuk dari jalur pengadaan pemerintah. Menurut dia, selama kebutuhan serapan tinggi dan produksi mulai menurun, harga gabah berpotensi bertahan mahal.
“Ketika harga GKP tinggi, bahkan tinggi sekali, mitra maklon masih berpeluang membeli gabah dan menyetorkan beras hasil giling ke BULOG,” ungkapnya.
Dia menilai kondisi itu berpotensi membuat harga gabah tetap tinggi memasuki musim gadu pada Juni-September, ketika produksi biasanya lebih rendah dibanding masa panen raya.
Meski demikian, pemerintah menilai kondisi pasokan nasional masih aman. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa mengatakan penurunan produksi April-Juni lebih mencerminkan pola musiman dan masih dapat ditopang stok nasional serta Cadangan Beras Pemerintah. Menurut dia, per April 2026 stok CBP mencapai 5 juta ton. bisn/mb06

