
BANJARBARU – Berasarkan data Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan dari Januar hingga April 2026 telah terjadi 86 kali bencana alam di Kalsel.
“Dari 86 kali bencana alam di Kalsel itu didominasi bencana angin ribut atau dikenal angin puting beliung sebanyak 71 kali,” kata Kabid Penanganan Bencana pada Dinas Sosial Provnsi Kalsel, H Achmadi, SSos di Banjarbaru, Minggu (10/5).
Menurut Madi (sapaan akrabnya) dari 71 kali bencana angin puting beliung hingga April 2026 ini, terbanyak terjadi di Kabupaten Banjar tercatat 21 kali, disusul 10 kali di Kota Banjarbaru.
Selain itu, ada sembilan kali di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan masing-masing tercatat tujuh kali di Kabupaten Tapin dan Kabupaten Barito Kuala (Batola).
Selanjutnya, empat kali di Kabupaten Kotabaru dan Kota Banjarmasin serta masing-masing tiga kali di Kabupaten Tanah Laut (Tala) dan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu), dua kali di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dan satu kali di Kabupaten Balangan.
Kemudian, ada 13 kali bencana banjir masing-msing dua kali di Kabupaten Tapin, HST dan Kabupaten Balangan serta masing-masing satu kali di Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar, HSS, HSU, Tabalong, Batola dan Tala.
Sementara itu, telah terjadi dua kali bencana tanah longsor yakni masing-masing satu kali di Kabupaten Banjar dan Kabupaten Tapin.
Madi menyebutkan akibat bencana alam selama empat bulan ahun 2026 di Kalsel itu menyebabkan 76.753 kepala keluarga (KK) atau 232.699 jiwa terdampak.
Dari bencana alam tersebut, sebut Madi, korban terbanyak terdampak di Kabupaten Banjar mencapai 37.971 KK atau 107.557 jiwa, disusul Kabupaten HSU tercatat 14.326 KK atau 41.694 jiwa dan Kabupaten Batola 8.752 KK atau 25.491 jiwa.
Akibat bencana alam di Kalsel itu, lanjutnya, menyebabkan 83 buah rumah penduduk mengalami kerusakan barat, 148 rumah rusak ringan dan 42.581 rumah mengalami kerusakan ringan, terbanyak di Kabupaten HSU tercatat 13.086 buah.
Ketika ditanya asumsi kerugian akibat bencana alam selama empat bulan tahun 2026 itu, Madi menyebutkan asumsi sementara kerugian ditaksir mencapai Rp216,195 miliar.
Kerugian akibat bencana alam sekitar Rp216,195 miliar tersebut terbesar dialami Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) sekitar Rp65,430 miliar, disusul Kabupaten Banjar sekitar Rp45,125 miliar dan Kabupaten Batola ditaksir Rp35,735 miliar.
Disamping itu, Kabupaten HSS ditaksir Rp17,385 miliar, Kabupaten Tapin Rp20,115 miliar, Kabupaten Balangan Rp9,640 miliar, Tabalong Rp7 miliar, Kabupaten Tala Rp7,765 miliar, Kabupaten HST sekitar Rp7,015 miliar dan Kota Banjarbaru Rp390 juta.
Dalam kesempatan itu, Madi mengingatkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana alam banjir, tanah longsor dan angin puting beliung untuk meningkatkan kewaspadaan, guna mengurangi resiko akibat bencana itu. ani

