JAKARTA – Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan menyebut memanasnya konflik di Timur Tengah mulai merembet kepada kenaian harga impor sapi hidup di tingkat produsen.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah memengaruhi jalur distribusi dan logistik internasional, termasuk komoditas pangan impor.
“Memang ini walaupun jauh ya perangnya itu geopolitik, tapi memang memengaruhi transportasi. Oleh karena itu, juga beberapa pangan impor itu melakukan penyesuaian. Misalnya sapi, sapi hidup, tetapi masih dalam batas harga eceran tertinggi, hanya sedikit,” kata Zulhas dalam konferensi pers.
Zulhas menjelaskan, penyesuaian harga sapi hidup tergolong minim, yakni hanya sekitar Rp1.000 per kilogram (kg) hidup dari harga acuan penjualan (HAP) sebelumnya sebesar Rp58.000 per kg hidup menjadi Rp59.000 per kg hidup.
“Harga eceran tertinggi itu per kilonya Rp58.000 [per kg hidup] sapi hidup. Itu kira-kira berubah menjadi Rp1.000-an saja. Seribuan, penyesuaiannya seribuan,” ujarnya.
Menurut dia, pemerintah sebelumnya menetapkan kuota impor sapi hidup hingga sekitar 1 juta ekor. Namun, realisasi impor yang sudah masuk belum dipastikan jumlahnya.
Kendati demikian, Zulhas memastikan harga daging sapi di tingkat konsumen tidak mengalami perubahan alias masih berada dalam rentang HAP, yakni sekitar Rp130.000-Rp140.000 per kilogram. “Kalau daging sapi di pasar masih dalam HET [HAP]. HET-nya kan Rp130.000-140.00 [per kilogram] masih di situ, ya, bisa Rp130.000, bisa Rp134.000, bisa Rp139.000. Jadi nggak ada perubahan,” beber dia.
Selain sapi, penyesuaian harga juga terjadi pada komoditas kerbau, yang mengalami kenaikan dari kisaran Rp80.000 per kg menjadi Rp90.000 per kg.
Sebelumnya, Kmenterian Pertanian (Kementan) mengingatkan adanya tekanan kenaikan harga sapi impor dari Australia yang berpotensi mengganggu keseimbangan harga dan pasokan di dalam negeri. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan Makmun menyampaikan bahwa harga sapi bakalan, baik betina maupun jantan, mengalami kenaikan signifikan per April 2026.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap biaya impor dan berpotensi menekan margin pelaku usaha di dalam negeri. “Jadi feeder heifer itu per tanggal 20 April itu harganya sudah di US$4. Pengalaman kami tahun-tahun sebelumnya tidak pernah melebihi angka US$3,5. sedangkan yang jantan, bakalan jantan sudah di angka US$4,56, dan kalau dibuat rata-rata US$4,32,” kata Makmun.
Berdasarkan perhitungan CIF sapi impor dari Australia per 20 Aril 2026, harga dasar (FOB) tercatat sebesar US$4,07 per kg untuk feeder heifer dan US$4,56 per kg untuk feeder steer, dengan rata-rata US$4,32 per kg. Dia menjelaskan, setelah memperhitungkan biaya asuransi, transportasi, serta proses karantina di dalam negeri, harga sapi hidup impor melonak jauh di atas HAP.
Jika dikalkulasikan, setelah ditambahkan biaya angkut (freight) sebesar US$0,15 per kg dan asuransi sekitar 1,5%, nilai CIF di pelabuhan Indonesia mencapai kisaran US$4,28-US$4,78 per kg atau rata-rata US$4,53 per kg, dengan asumsi nilai tukar Rp17.150 per dolar AS. bisn/mb06

