
JAKARTA – Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai fenomena inflasi susut (shrinkflation) berpeluang besar terjadi di tengah kenaikan harga plastik imbas perang di Timur Tengah yang tak kunjung usai.
Shrinkflation terjadi ketika ukuran sejumlah produk yang beredar di pasaran kian menyusut, sementara harga jualnya sama.
Menurut Huda, langkah ini biasanya diambil saat biaya bahan baku meningkat tajam. Pengusaha biasanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu menaikkan harga atau mengurangi ukuran.
“Pasokan bahan baku dari industri minyak di Timur Tengah terganggu dan membuat Chandra Asri, salah satu pabrik pembuat bahan baku plastik, mengumumkan force majeure,” ujar Huda.
Kenaikan harga plastik ini berdampak luas karena produk industri petrokimia itu digunakan hampir di semua sektor, mulai dari manufaktur hingga pelaku UMKM.
Dalam beberapa usaha, kontribusi biaya plastik bahkan mencapai 10 persen-15 persen dari harga jual.
Huda mencontohkan usaha laundry yang membutuhkan plastik berkualitas baik. Kenaikan harga plastik berpotensi mendorong kenaikan biaya layanan maupun harga barang kebutuhan rumah tangga yang menggunakan kemasan plastik.
Namun, menurut dia, kondisi ekonomi saat ini membuat pelaku usaha sulit menaikkan harga secara langsung. Oleh karena itu, pengusaha cenderung memilih mengurangi ukuran produk agar tidak merugi.
Industri makanan dan minuman disebut paling rentan menerapkan shrinkflation karena ukuran produk relatif mudah disesuaikan tanpa terlalu terlihat. Selain itu, sektor ini juga sangat bergantung pada bahan baku yang menjadi komponen biaya terbesar.
Hal itu berbeda dengan produk manufaktur lainnya yang akan sangat ketara perbedaan ukurannya. “Jadi, shrinkflation sering kali dilakukan guna menghindari kerugian,” ujar Huda.
Ia menilai biasanya masyarakat tetap akan membeli jika tidak ada kenaikan harga. Dalam hal ini, harga tetap menjadi daya tarik utama konsumen, meskipun ukuran barangnya mengecil.
Karenanya, bagi pengusaha, shrinkflation bisa menjadi pilihan utama dalam menghadapi kondisi ekonomi saat ini.
“Shrinkflation sangat besar peluangnya terjadi saat ini, tapi biasanya akan cukup ketara di jangka menengah dan panjang. Saat ini mungkin terjadi shrinkflation, namun tidak signifikan penurunan ukurannya. Ketika setahun, baru akan kelihatan penurunan ukuran,” ucap Huda.
Kenaikan harga plastik saat ini dipicu tekanan pada bahan bakunya. Pasokan nafta sebagai bahan baku utama tertekan akibat perang di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz sebagai jalur utama perdagangan minyak global.
Berdasarkan penjelasan di situs Chandra Asri, perusahaan petrokimia di Indonesia yang memproduksi bahan baku plastik dan biji plastik. cnn/mb06

