JAKARTA – Sejumlah harga pangan dan komoditas di dalam negeri diprediksi mengalami kenaikan menjelang lebaran. Operasi pasar dilakukan untuk meredam kondisi tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan terdapat potensi lonjakan harga pada komoditas cabai rawit dan telur ayam menjelang momentum Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan komoditas tersebut perlu menjadi fokus pengendalian inflasi daerah karena permintaannya biasanya meningkat menjelang Lebaran.
Di sisi lain, Amalia menuturkan telur ayam ras menjadi komoditas yang paling perlu diwaspadai menjelang Lebaran. BPS mencatat harga rata-rata nasional telur ayam ras pada pekan pertama Maret 2026 mencapai Rp32.475 per kilogram dan tertinggi di level Rp100.000 per kilogram di Kabupaten Intan Jaya dan Kabupaten Mamberamo Tengah, dengan 210 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga.
Amalia menjelaskan di sejumlah daerah harga telur ayam ras bahkan sudah jauh melampaui harga acuan penjualan (HAP). Di Buton Utara, misalnya, harga telur ayam ras mencapai sekitar Rp37.293 per kilogram atau 24,31% di atas HAP dengan kenaikan IPH 14,69%.
Selain telur ayam ras, cabai rawit juga masih menjadi perhatian karena harganya masih tinggi secara nasional. BPS mencatat harga rata-rata cabai rawit mencapai Rp71.429 per kilogram pada pekan pertama Maret 2026. BPS mencatat cabai rawit mengalami kenaikan IPH di 49,17% wilayah dengan harga tertinggi mencapai Rp200.000 per kilogram di Kabupaten Nduga.
Pedagang berjualan cabai rawit Pedagang berjualan cabai rawit Sementara itu, harga daging ayam ras secara nasional juga telah berada di atas HAP dengan rata-rata mencapai Rp41.181 per kilogram. BPS mencatat daging ayam ras mengalami kenaikan IPH di 48,99% wilayah dengan harga tertinggi Rp100.000 per kilogram di Kabupaten Intan Jaya.
Di sisi lain, bawang merah secara nasional mulai menunjukkan tren penurunan meskipun masih sedikit berada di atas HAP Rp41.500 per kilogram atau dibanderol Rp41.906 per kilogram. Komoditas ini terpantau mengalami penurunan IPH di 41,67% wilayah di Indonesia. Lebih lanjut, BPS mencatat harga minyak goreng relatif stabil dan cenderung menurun. Secara nasional, harga rata-rata minyak goreng dengan kualitas curah, premium, dan Minyakita turun 0,40% menjadi Rp19.319 per liter.
Untuk Minyakita, rata-rata harganya adalah Rp16.441 per liter atau turun 1,64% dibandingkan Februari 2026, meski masih melampaui harga eceran tertinggi (HET).
Sementara itu, untuk meredam harga sejumlah komoditas yang melambung, Kementerian pertanian berencana melakukan operasi pasar cabai dan bawang merah di 20 titik di Jakarta.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Muhammad Agung Sunusi mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan pasokan komoditas hortikultura tetap tersedia bagi masyarakat. “Kami akan melakukan aksi cabai dan bawang merah harga terjangkau, yang kami mulai titiknya nanti, kurang lebih insya Allah di 20 titik Pasar Pemantauan SP2KP atau Info Pangan gerai Perumda Pasar Jaya,” kata Agung. bisn/mb06

