
BANJARMASIN – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kalimantan Selatan telah melakukan ujicoba budidaya tanaman sorgum yang dapat menjadi salah satu alternatif pengganti beras dimasa mendatang.
Budidaya ini membuahkan hasil panen pertama sorgun pada Februari 2026 tadi dalam masa tanam 4 bulanan.
Ketua DPW LDII Kalsel Dedi Supriatna, S.Pd, MT didampingi ketua DPW H Budiono, SSTP., menjelaskan Pengembangan sorgum di Kalsel tidak lepas dari peran peneliti sekaligus dosen, Anton Puspoyo, yang berhasil meraih juara pertama riset tingkat Kalimantan Selatan yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA).
Penelitian yang diangkatnya menyoroti potensi tanaman sorgum sebagai komoditas alternatif yang adaptif di berbagai kondisi lahan.
Keberhasilan riset tersebut juga mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan lembaga terkait karena penanaman sorgum Kalsel dilakukan dilahan bekas galian pertambanganw.
Tim dari DBPLDI juga telah melakukan survei serta dokumentasi langsung ke Kabupaten Tanah Laut untuk melihat perkembangan budidaya sorgum di lapangan.
“Hasilnya cukup menggembirakan. Tanaman sorgum terbukti mampu tumbuh dengan baik, bahkan di lahan bekas tambang. Inilah menjadi temuan penting karena membuka peluang pemanfaatan lahan-lahan yang selama ini dianggap kurang produktif, “katanya, Sabtu (7/3/2026)
Tentunya, keberhasilan budidaya inilah dapat menjadi contoh dalam upaya ketananan pangan yang akan dipublis dalam Musyawarah Nasional (Munas) LDII Di Jakarta 7-9 April mendatang sebagai salah satu inovasi untuk membangun daerah.
Meskipun setiap daerah memang memiliki potensi unggulan masing-masing. Namun untuk Kalsel, pengembangan sorgum dinilai menjadi sektor yang paling menonjol saat ini, terutama karena riset, uji lapangan, hingga implementasinya sudah berjalan dan menunjukkan hasil yang baik.
Selain potensi sebagai tanaman pangan, sorgum juga memiliki banyak kemungkinan produk turunan. Bahan ini dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, mulai dari tepung hingga aneka olahan pangan lainnya.
Ke depan diharapkan masyarakat semakin mengenal dan mencoba mengonsumsi sorgum sebagai alternatif pangan. Bahkan tidak menutup kemungkinan produk olahan dari tanaman ini akan diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat, termasuk kepada kalangan media.
Pengembangan ini diharapkan tidak hanya memperkuat sektor riset di daerah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki potensi pengembangan lahan sorgum. via

