Mata Banua Online
Sabtu, April 25, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Kemarau Basah Diprediksi hingga Oktober

by Mata Banua
8 Juli 2025
in Ekonomi & Bisnis
0

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geo­fisika (BMKG) memperkirakan curah hujan di atas normal di sebagian besar wilayah In­do­ne­sia akan berlangsung hingga Oktober 2025, sei­ring dengan berlanjutnya anomali curah hu­jan yang terjadi sejak Mei 2025.

Kepala BMKG Dwikorita Kar­­nawati menjelaskan bahwa hu­jan akan terus turun pada mu­sim kemarau di Indonesia, imbas dari melemahnya Monsun Aus­tralia.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

“Melemahnya Monsun Aus­tra­lia yang berasosiasi dengan mu­sim kemarau turut men­ye­bab­kan suhu muka laut di selatan In­donesia tetap hangat dan hal ini berkontribusi terhadap ter­ja­di­nya anomali curah hujan ter­se­but,” kata Dwikorita dalam Kon­fe­rens Pers bertajuk `Per­kem­ba­ng­an Cuaca dan Iklim’ secara da­ring.

Selain itu, gelombang Kelvin ak­tif yang terpantau melintas di pe­sisir utara Jawa, disertai per­lam­batan dan belokan angin di Ja­wa bagian barat dan selatan me­micu penumpukan massa udara.

Konvergensi angin dan la­bi­li­tas atmosfer lokal juga terpantau ku­at sehingga mempercepat per­tumbuhan awan hujan. Adapun ber­dasarkan iklim global, BMKG dan beberapa pusat iklim du­nia memprediksi suhu muka air laut di Samudra Pasifik (El Niño-Southern Oscillation/ENSO) dan suhu muka air laut di Samudra Hindia (Indian Ocean Dipole/IOD) akan tetap be­­rada di fase netral pada se­mes­ter kedua 2025.

Kondisi tersebut menjadi in­di­kasi kuat bahwa sebagian wi­la­yah Indonesia akan mengalami cu­rah hujan di atas normal dari ya­ng seharusnya selama musim ke­marau. Fenomea ini disebut ju­ga dengan kemarau basah.

Pemantauan kondisi iklim ini se­ja­lan dengan prediksi BMKG pa­da Maret 2025. Saat itu, BMKG menyebutkan kemarau ta­hun ini akan mengalami ke­mun­duran pada sekitar 29% Zona Musim (ZOM).

Kemunduran terutama terjadi di wilayah Lampung, sebagian be­sar wilayah Jawa Bali, Nusa Te­nggara Barat (NTB) dan Nusa Te­ng­gara Timur (NTT). Pe­man­ta­uan hingga akhir Juni 2025 me­nun­jukkan bahwa baru sekitar 30% Zona Musim di Idonesia yang telah memasuki musim ke­ma­rau.

“Angka ini hanya setengah dari kondisi normal, di mana se­cara klimatologis sekitar 64% Zona Musim biasanya telah me­ng­alami musim kemarau pada ak­hir Juni,” tambah Dwikorita.

Dwikorita turut menyoroti cua­ca ekstrem yang mengintai se­jum­lah wilayah destinasi wisata, pa­dat penduduk, dan aktivitas trans­portasi tinggi.

Oleh karena itu, peringatan di­ni telah dikeluarkan sejak 28 Ju­ni agar aktivitas libur sekolah da­pat termitigasi.

Beberapa wilayah yang perlu di­waspadai adalah sebagian Pu­lau Jawa bagian barat dan tengah (te­rutama Jabodetabek), Sulawesi Se­latan, NTB, Kalimantan Ti­mur, Maluku, dan Papua. Wi­l­a­yah tersebut sudah terkonfirmasi ter­jadi hujan intensitas lebat, sa­ng­at lebat, hingga ekstrem pada be­berapa hari terakhir. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper