JAKARTA – Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Haryadi atau Titiek Soeharto menyoroti kondisi stok lama beras Bulog mulai berkutu. Dia mewanti-wanti agar stok lama tersebut segera ditangani.
Hal tersebut diungkap Titiek dalam Rapat Kerja Komisi IV dengan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Dia meminta agar stok lama beras Bulog itu dilepas segera dan tidak diberikan kepada masyarakat krena kualitas yang kurang baik.
“Saya rasa tidak aman ya pak Menteri. Karena kalau beras itu sudah terlalu lama disimpan di gudang, itu kami lihat sendiri sudah ada kutunya, walaupun kutu bukan kutu hitam, kutu putih, tapi tetap aja itu bukan beras yang fresh gitu ya, kalau terlalu lama disimpan,” ujar Titiek dalam Raker tersebut
Menanggapi pernyataan tersebut, Mentan Amran menegaskan telah melakukan penanganan. Dia pun memastikan beras dengan kondisi buruk tak akan diberikan kepada masyarakat.
“Mau impor, mau dalam negeri, yang penting rusak bu, enggak boleh dilepas keluar. Kita ketati sekarang.Kenapa? pernah terjadi bu, 2016-2017, beras yang keluar, maf berkutu seperti ibu sampaikan. Jangan terulang itu bu. Kami waktu itu, Menteri di sini juga, itu jadi polemik,” kata Amran.
“Jadi kami sangat hati-hati sekarang Bu, dengan pengalaman itu. Juga pada saat Ibu sampaikan dulu, 6 bulan lalu kalau tidak salah, 2024, kami langsung mempercepat fumigasi, yang masih bagus, tetapi yang kurang bagus, langsung dikeluarin bu. Itu kami sudah sepakat dengan Bulognya,” sambung dia.
Amran menjelaskan, ada stok sisa beras 1,7 juta ton dari perolehan sejak 2024 lalu. Namun, stok ini akan lebih dahulu dikeluarkan dari gudang seiring dengan sejumlah program penyalurannya.
Dia memastikan penyaluran dilakukan dengan memperhatikan kualitas beras masih baik untuk dikonsumsi masyarakat.
“Kami ikut monitor terus ini rencana kita bu ketu kita akan keluarkan 360 ribu ton, itu bansos ini kita prioritaskan yang lebih awal masuk (gudang). Kedua, kita akan keluarkan 1,2 juta ton berarti ini habis, hampir habis, karena (totalnya) 1,5 juta ton (sebagian disalurkan pada program) SPHP,” bebernya.
Diberitakan sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memamerkan jumlah cadangan beras pemerintah (CBP) sebesar 4 juta ton yang dikuasai Perum Bulog. Namun, agka itu tak berarti menggambarkan seluruh hasil panen lokal.
Dia menjelaskan, Bulog hanya menyerap 10 persen dari total hasil panen beras dalam negeri. Bisa dibilang, jumlah panen beras RI 10 kali lipat lebih besar dari cadangan yang dimiliki Bulog.
“Jangan dipikir beras 4 juta (ton) itu adalah total semua panenan rakyat kita, salah. Bulog hanya membeli 10 persen, kemungkinan dari total panenan ini yang diserap oleh Bulog hanya 10 persen saja,” kata Sudaryono dalam Inonesia Connect by Liputan6, di SCTV Tower, Jakarta. lp6/mb06

