Mata Banua Online
Minggu, April 26, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Produsen Tahu-Tempe Keluhkan Tingginya Harga Kedelai

by Mata Banua
8 Mei 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\Mei 2025\9 Mei 2025\7\7\7\master 7.jpg
KELUHAN PENGRAJIN TAHU – Para pengrajin tahu tempe mengeluhkan tingginya harga kedelai selama sekitar dua bulan terakhir. Ada lonjakan harga yang dari awalnya Rp 8.000-an per kilogram kini sudah Rp 9.000 lebih, bahkan hampir Rp 10 ribu. Kenaikan harga kedelai tidak terlepas dari perang dagang yang tengah berlangsung dan berpengaruh ke Indonesia.9foto:mb/ant)

JAKARTA – Gabungan pelaku usaha yang ber­naung dalam Koperasi Produsen Tahu Tem­pe Indonesia (Kopti) Jawa Tengah (Ja­teng) mengeluhkan tingginya harga kedelai se­lama sekitar dua bulan terakhir.

Hal itu disampaikan Kopti ketika m­e­la­ku­kan audiensi dengan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi di kantornya

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

“Tentang permasalahan kedelai ini yang su­dah biasa menjadi topik setiap tahun pas­ti­nya, karena ada lonjakan harga yang dari awal­nya Rp 8.000-an (per kilogram), ini su­dah Rp 9.000 lebih, bahkan hampir Rp 10 ribu,” ungkap Ketua Kopti Jateng Sutrisno Supriantoro ketika ditanya apa yang di­bahasnya dalam audiensi bersama Ahmad Luthfi.

Di menambahkan, kenaikan harga ke­delai telah berlangsung selama sekitar dua bu­lan terakhir. “Yang kita sampaikan ke be­liau (Ahmad Luthfi) adalah kekhawatiran ki­ta dan kita berharap adanya dukungan da­ri pemerintah pusat terhadap gejolak yang ter­jadi,” ucapnya.

Menurut Sutrisno, kenaikan harga ke­de­lai tidak terlepas dari perang dagang yang te­ngah berlangsung antara Amerika Serikat (AS) dan China. “Ini pengaruhnya ke kita. Stok-stok dari importir juga sudah menipis,” uja­r­nya.

Dia menjelaskan, 90 persen impor ke­de­lai Indonesia berasal dari AS. Namun ki­ni China menolak membeli produk kedelai Ne­geri Paman Sam. Sutrisno menyebut, hal itu turut berpengaruh pada pasokan kedelai ke Indonesia.

“Karena biasanya titip angkutannya. Da­ri Amerika sana, lewat China, langsung ke Singapura, ke Indonesia. Nah sekarang ka­lau China enggak (membeli kedelai AS)? Ini salah satu faktor menjadikan harga ke­delai naik,” kata Sutrisno.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi me­ng­ungkapkan, tata niaga kedelai diatur pe­me­rintah pusat. Namun dia mengatakan aka mem­bantu menyampaikan keluhan dari Kopti Jateng. “Untuk tata niaga kedelai me­mang harus koordinasi kementerian terkait. Ki­ta harus menyesuaikan kebijakan pusat,” ujarnya.

Sementara itu Asisten Ekonomi dan Pem­bangunan Sekretariat Daerah Pemprov Ja­teng, Sujarwanto Dwiatmoko, me­nam­bah­kan, saat ini harga kedelai memang me­ng­alami kenaikan. Namun dia mengeklaim ang­kanya masih di bawah harga acuan pe­m­erintah (HAP), yakni Rp 12 ribu per ki­lo­gram. Oleh sebab itu Pemprov Jateng be­lum bisa mengambil kebijakan intervensi de­ngan pemberian subsidi. “Saat ini harga ra­ta-rata kedelai Rp 11.100 (per kilogram), ja­di belum bisa diintervensi dengan me­ng­e­luarkan subsidi,” kata Sujarwanto. rep/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper