Mata Banua Online
Minggu, April 26, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Impor Beras Dijanjikan Tak Perlu Lagi

by Mata Banua
21 April 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\April 2025\22 April 2025\7\7\master 7.jpg
SERAPAN GABAH PETANI – Kementerian Pertanian menyebut total serapan gabah nasional telah mencapai 1,3 juta ton dan diprediksi pada April bisa tembus dua juta ton. Pemerintah ini kembali sesumbar terhadap serapan gabah nasional di 2025 ini menyakini tidak akan perlu mengimpor beras lagi.(foto:mb/ant)

JAKARTA – Wakil Menteri Pertanian (Wa­mentan) Sudaryono menyampaikan rasa op­timistisnya terhadap serapan gabah na­sional di awal 2025. Ia meyakini, Indonesia ti­dak akan perlu mengimpor beras pada ta­hun ini.

Dia menyebut, berdasarkan data terakhir Ke­menterian Pertanian, total serapan gabah nas­ional telah mencapai 1,3 juta ton. “Kita ber­harap akhir April ini bisa tembus dua ju­ta ton. Sudah top, lah,” ujar Sudaryono usai menemui Joko Widodo di ke­di­a­man­nya.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

Jika target tersebut tercapai, Sudaryono me­nilai kemungkinan besar Indonesia tidak me­merlukan impor beras lagi. “Kita akan hi­tung lagi, ya. Tapi bisa jadi kita sam­paikan kepada Bapak Presiden bahwa kita ti­dak perlu impor beras,” lanjutnya.

Menurut Sudaryono, hal ini sejalan de­ngan arahan Prabowo Subianto selaku pre­si­den yang menginginkan agar kebutuhan be­ras dalam negeri dapat dipenuhi tanpa ber­gantung pada impor. Ia juga me­nam­bahkan, pemerintah berhasil menjaga sta­bi­litas harga gabah.

Ka­ta dia, saat hasil panen melimpah, harga be­ras tetap ditetapkan di kisaran Rp6.500 per kilogram.

“Kita bisa lihat sendiri, produksinya me­limpah dan rakyat senang karena gabah me­reka dibeli dengan harga Rp6.500,” ka­tanya.

Hal ini, lanjutnya, turut memacu se­ma­ngat petani untuk terus meningkatkan prod­uktivitas.

“Begitu panen diserap dengan baik, me­reka langsung semangat untuk menanam la­gi,” ungkapnya.

Meski begitu, Sudaryono mengakui ma­sih terdapat kendala dalam penyerapan ga­bah di lapangan. Beberapa wilayah seperti Lam­pung dan Sumatera Selatan disebut me­ng­alami pembelian gabah di bawah harga yang telah ditetapkan pemerintah. “La­ngsung kita kirim troubleshooter dari Bulog ke sana,” ujar pria yang juga men­jabat sebagai Ketua Dewan Pengawas Bu­log itu.

Sudaryono pun mengakui saat ini me­mang masih ada kekurangan dalam penanganan sektor pertanian. Namun, ia menegaskan bahwa kekurangan tersebut tidak sebanding dengan capaian yang telah diraih.

“Kalau ada satu-dua orang yang me­ng­eluhkan soal serapan gabah, kita akan per­baiki. Tapi satu kasus itu tidak bisa me­nu­tup sepuluh ribu atau bahkan jutaan kasus ke­berhasilan,” tandasnya. cnn/mb06

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper