
JAKARTA – Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan rencana pemerintah memoratorium atau menghentikan sementara ekspor kelapa demi menghentikan lonjakan harga belum bisa dilakukan.
Pasalnya, saat ini usulan penghentian sementara dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) masih perlu dibahas lebih lanjut dalam rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Perekonomian di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Farid Amir menyampaikan pembahasan ini aan mempertimbangkan berbagai aspek agar kebijakan yang diambil tidak merugikan pihak mana pun.
“Usulan Kementerian Perindustrian sudah diajukan ke Kemenko Perekonomian, sebagaimana diatur pada PP 29/2021 maka akan dilaksanakan rakortas di Kemenko Perekonomian untuk membahas usulan dimaksud. Semua sisi pertimbangan akan dibahas pada rakortas sehingga diharapkan tidak ada pihak yang dirugikan,” ujar Farid Amir.
Harga kelapa memang tengah melonjak. Pedagang pasar menyebut harga kelapa parut sudah melonjak hingga Rp25 ribu per butir.
Salah satu pedagang di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, mengatakan hrga kelapa parut melonjak imbas perebutan pasokan. Pedagang yang tak ingin disebutkan namanya tersebut mengklaim banyak kelapa yang dikirim ke China.
“Dari sebelum puasa udah naik karena rebutan pasokan di petaninya karena dikirim ke luar, ke China,” katanya.
Jika sebelumnya ia menjual kelapa hanya Rp15 ribu per butir, sekarang harganya Rp25 ribu per butir ukuran besar. Sementara untuk ukuran kecil dibanderol Rp20 ribu butir, dari sebelumnya hanya Rp12 ribu per butir.
Merespons lonjakan harga itu, Kemenperin mengusulkan ekspor kelapa bulat disetop sementara atau ditangguhkan (moratorium) imbas lonjakan harga di Tanah Air serta produknya langka. cnn/mb06

