Mata Banua Online
Jumat, April 3, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Gas 3 Kg Langka, Warung Makan tak Bisa Jualan

by Mata Banua
4 Februari 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\Februari 2025\5 Februari 2025\7\hal Ekonomi (05  Februari)\master 7.jpg
KETERGANTUNGAN GAS 3 KG – Susahnya mendapatkan gas 3 kg sangat memukul para pedagang makanan dipingir-pingir jalan. Selama ini mereka sangat ketergantungan sekali dengan gas 3 kg yang mereka beli melalui warung-warung kecil tanpa harus ke pangkalan.(foto:mb/ant)

JAKARTA – Keluhan kelangkaan liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram tidak hanya meresahkan masyarakat. Para pelaku usaha kecil menengah (UKM) warung makan juga resah karena mereka terancam tidak bisa berjualan.

Sejumlah pelaku UKM yang bergerak di warung makan di wilayah Depok, Jawa Barat, kerepotan mendapatkan gas 3 kg. “Kami mencari gas LPG 3 kg sejak hari Sabtu tidak ada yang jual,” ujar Wandi salah seorang karyawan warung makan Sambal Wak Kosim yang berlokasi di Jalan Raya Meruyung, Depok, kemarin.

Berita Lainnya

Harga Barang-barang Plastik Naik

Harga Barang-barang Plastik Naik

1 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Harga Beras Premium dan Medium Naik

1 April 2026

Pedagang gas dan agen gas di sekitar Meruyung dan Sawangan Depok yang biasanya menjual gas LPG 3 kg sudah tiga hari kosong. “Kami nyaris tidak bisa berjualan,” keluh Wandi.

Menurut Wandi, ia mendapat kabar beberapa pedagang makanan gerobak yang tidak memiliki gas 3 kg terpaksa tidak berjualan. “Kalau warung kami akhirnya terpaksa beralih memakai LPG 12 kg. Kalau tidak memakai gas 12 kg, kami juga terpaksa harus tutup,” ucapnya.

Padahal, kata Wandi, dalam beberapa bulan ini kondisi pembeli lagi agak turun. “Kalau kamu harus tutup karena menunggu sampai gas 3 kg tersedia di pedagang dan agen, apakah ada jaminan bahwa gas 3 kg tersedia di pedagang maupun di agen dalam beberapa hari ke depan,” ucapnya.

Pemantauan kemarin, warga mengantre di pangkalan LPG 3 kg karena tidak dijual di warung. Oleh karena itu, warga harus mendatangi pangkalan LPG terdekat, namun telah cepat kosong.

Hani, salah seorang ibu rumah tangga yang mengantre, mengatakan pembelian di pangkalan cukup menyusahkan. Sebab, dia harus bangun pagi agar tak antre lebih lama.

“Aduh rempong banget ini ya Allah, gimana ya, subuh udah bangun nyariin gas, nggak jelas banget ini,” kata Hani.

Dia mengaku biasa membeli LPG 3 kg di warung dekat rumah. Meski harganya memang lebih mahal, kata Hani, membeli LPG di warung jauh lebih gampang.

Dia mengatakan, harga LPG 3 kg di warung biasanya sekitar Rp22.000 hingga Rp23.000 per tabung. Sementara itu, harga di pangkalan Rp16.000 per tabung.

Kendati demikian, Hani menilai membeli LPG di pangkalan memiliki kekurangan lain. Dia mengatakan di pangkalan tidak bisa membeli selama 24 jam. “Lebih murah [di pangkalan], cuma harus ada usaha. Kalau malam [LPG 3 kg] mati gimana? Apalagi mau bulan Puasa, lieur gua ah,” keluhnya.

Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengatakan, Pemerintah dan Pertamina harus menjamin adanya ketersediaan gas elpiji 3 kg di pasaran. “Jangan sampai terjadi kelangkaan,” kata Ketua Harian YLKI, Tulus Abadi. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper