Oleh: Siti Sarah
Memasuki tahun baru 2025 rakyat Indonesia mendapatkan kado pahit dari pemerintah berupa kenaikan PPN menjadi 12%. Menurut pemerintah, pajak ini dikenakan kepada barang-barang yang tergolong barang mewah. Namun adanya kanaikan ini tetap saja menimbulkan keresahan di masyarakat, diantaranya adanya demo yang dilakukan oleh mahasiswa dan juga penandatanganan petisi sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan tersebut. Akan tetapi sepertinya berbagai penolakan dari masyarakat tidak menggoyahkan tekad pemerintah untuk melanjutkan kebijakan tersebut.
Sungguh disayangkan saat Indonesia menapaki era baru dengan terjadinya pergantian pemimpin,namun harus dihadapkan dengan kebijakan yang tidak memihak kepada rakyat. Padahal banyak lapisan masyarakat yang berharap adanya perbaikan kesejahteraan mereka dengan pemimpin yang baru saja terpilih.
Kalau kita cermati sebenarnya sudah ada berbagai pajak yang harus dibayar oleh rakyat kepada negara. Dari waktu ke waktu kewajiban membayar pajak diwajibkan kepada rakyat,seperti pajak bumi dan bangunandan pajak kendaraan bermotor. Ketika ada kebijakan baru berupa kenaikan PPN, tentu akan menambah beban masyarakat walaupun di katakan hanya untuk barang mewah saja. Namun tetap saja akan ada efek kepada masyarakat. Sejatinya seluruh warga negara apakah dia tergolong mampu ataupun kurang mampu seharusnya memperoleh kemudahan untuk mengakses berbagai kebutuhan hidup.
Memang sudah menjadi keniscayaan dalam sistem kapitalis saat ini aturan berupa pajak di berlakukan. Karena pajak memang merupakan salah satu pendapatan negara.Namun seringkali kita mendapati ada kalangan tertentu malah mendapatkan keringanan,bahkan pengampunan pajak hanya karena dia seorang kapital dan mungkin sebagai pendukung kekuatan politik tertentu. Ini bukti bahwa kebijakan pajak ini hanya membebani masyarakat kecil.
Dapat kita bayangkan ketika banyak persoalan yang mendera masyarakat saat ini berupa kemiskinan, PHK, lapangan kerja sulit didapat kini ditambah lagi dengan kenaikan pajak tentu akan semakin menambah masalah. Dari sini kita melihat bahwa pemimpin dalam sistem kapitalis tak akan memberikan kesejahteraan kepada masyarakat. Kesejahteraan hanya berpihak pada segelintir orang yakni para pemilik modal. Lalu apakah kita bisa berharap bahwa kesejahteraan itu akan kita raih dalam sistem kapitalis hari ini? Tentu saja tidak.
Kita sebagai seorang manusia yang beriman, telah meyakini bahwa rezeki manusia itu telah ditetapkan sebelum manusia itu di ciptakan dan kita tidak tidak meragukan hal tersebut. Kita sebagai manusia diperintahkan untuk berusaha untuk mendapatkan rezeki tersebut. Namun Islam Islam juga memiliki sejumlah aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari ranah individu sampai pada ranah negara
Indonesia adalah negeri yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah, kekayaan alam berupa barang tambang, laut yang luas, dan hutan yang membentang. Namun ketika semua itu tidak dikelola sesuai syariat maka hanya bisa di nikmati oleh para pemilik modal, padahal amanat undang-undang menegaskan bahwa kekayaan negaraseharusnya di kelola untuk kesejahteraan rakyat.
Berkaitan dengan pajak ini, dalam Islam pajak bukanlah salah satu pos penerimaan negara. Pajak hanya diberlakukan ketika kondisi kas negara sedang kosongdan itu pun hanya pada segelintir orang,yaitu orang Kaya saja. Pajak tidak dikenakan secara merata kepada warga negara. Jadi dalam islam pajak bersifat situasional, bukan terus menerus apalagi dengan berbagai macam jenis pajak.
Seorang pemimpin adalah periayah bagi masyarakat yang dipimpin, juga sebagai pelindung. Seorang pemimpin akan di minta pertanggung jawaban di akhirat kelak atas kepemimpinannya. Pemimpin berkewajiban untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk meraih kesejahteraan,tentunya dengan menerapkan kebijakan yang sesuai dengan syariat. Akses terhadap berbagai kebutuhan dengan harga yang semurah-murahnya bahkan gratis. Kita berharap bahwa kita akan memperoleh pemimpin yang mencintai rakyat dan rakyat pun juga mencintainya dan itu hanya akan diperoleh ketika pemimpin itu bertakwa kepada Allah SWT.

