
BANJARBARU – Gubernur Kalimantan Selatan, H Muhidin melakukan gerak cepat menyelesaikan pembangunan untuk kepentingan Banua, salah satunya kelanjutan pembangunan jembatan penghubung Batulicin di Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu)-Kotabaru.
Gubernur Kalsel, H Muhidin didampingi Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI, Hanif Faisol Nurofiq melakukan peninjauan kawasan pembangunan proyek Jembatan Pulau Laut di Tanjung Serdang, Desa Salino, Kecamatan Pulau Laut Tengah, Kotabaru, Rabu (1/1) pagi.
Peninjauan infrastruktur strategis jalan dan jembatan di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru itu diusulkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Jembatan sepanjang 3,75 Km dan paling dalam kurang lebih 20 cm.
Dalam peninjauan tersebut, H Muhidin turut didampingi Sekdaprov Roy Rizali Anwar beserta jajaran pejabat eselon II seperti Plt Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Isharwamto, Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, M Fitri Hernadi.
Selain itu, Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Bapenda) Kalsel, Subhan Nor Yaumil, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Hj Suparmi dan Plt Kepala Dinas PUPR Kalsel, M Yasin Toyib, Kepala Dinas LH, Hanifah Dwi Nirwana dan Kadishut Hj Fathimatuzzahra.
“Kita meninjau Jembatan Pulau Laut antara Batulicin-Kotabaru dan masih dikerjakan, tetapi sebenarnya sudah habis waktu, maka denda hingga harus selesai sampai 50 hari dan semoga tahun depan bisa segera tuntas dilaksanakan cepat,” kata Gubernur Kalsel, H Muhidin didampingi Menteri LH RI, Hanif Faisol Nurofiq.
Tahap awal ini dilakukan pembangunan pondasi, H Muhidin menjelaskan akan dikerjakan sekitar 350 meter dan telah dikerjakan sebelumnya 400 meter. Jadi total 750 meter yang sudah dibangun dalam pengejaran proyek jembatan Pulau Laut.
Muhidin berharap pengerjaan jembatan ini tidak ada hambatan dalam pembangunan infrastrukturnya. “Saya berharap ini bisa cepat selesai, target tiga tahun jembatan Pulau Laut sudah bisa dinikmati masyarakat Kalsel,” pungkasnya.
Sementara itu, Menteri LH RI, Hanif Faisal Nurofiq menegaskan bahwa jembatan Pulau Laut ini sangat penting digarap untuk masyarakat Kalsel bahkan regional di Pulau Kalimantan dan ini menjadi pintu masuk dan keluarnya lintas perdagangan ke depannya.
“Kalau sungai di Banjarmasin itu telah terlaporkan bahwa disimentasi hampir 400 meter per kubik dan per harinya dan dikerjakan Pemprov Kalsel melalui PT Ambapers itu hanya mampu 100 ton/hari, jadi masih tersisa 300 ton,” beber Hanif.
Pendangkalan Sungai Barito itu menjadi masalah dalam perairan di Pelabuhan Banjarmasin, sebut Hanif, pemulihan itu relatif lama, sehingga diperlukan jembatan Pulau Laut ini disegerakan.
Hanif mengatakan, Jembatan Pulau Laut sebagai alternatif dalam meningkatkan sektor perekonomian warga Kalsel. Sebab, kedalaman air di pulau ini sangat mampu menampung sejumlah kapal-kapal industri.
“Kita bisa membayangkan, kalau ini Jembatan Pulau Laut ini sudah selesai, maka pintu masuk dan keluarnya terjadi di sini. Dan Pemprov Kalsel telah mendesain sedemikian rupa, tinggal eksekusi saja lagi,” ungkap Hanif.
Plt Kepala Dinas PUPR Kalsel, M Yasin Toyib menjelaskan bahwa pembiayaan pengerjaan proyek Jembatan Pulau Laut ini akan diambil alih oleh Pemerintah Pusat, sebab telah diusulkan menjadi PSN.
Tahun 2024 ini telah dianggarkan Rp200 milyar dari sisi Batulicin, kemudian sisi Kotabaru sekitar Rp300 Milyar.
“Tahun 2025, telah dianggarkan Rp300 Milyar sisi Batulicin dan Rp450 Milyar sisi Kotabaru, jadi total 1,2 Triliun, sementara diperlukan Rp5,9 Triliun sehingga diperlukan lagi dana sekitar Rp4,7 triliun,” ungkap Yasin Toyib.
Dalam hal itu, Yasin menerangkan sebenarnya target penyelesaian infrastruktur pembangunan Jembatan Pulau Laut ini dapat dikerjakan dua tahun. Lantaran, menurutnya karena pembiayaan yang cukup besar tadi maka menjadi pertimbangan hingga 3 tahun.
“Insya Allah, tahun 2029 akan selesai Jembatan Pulau Laut dan dapat dinikmati masyarakat, tentunya kawasan ini akan menjadi pelabuhan besar nanti,” tandasnya. mr/adpim/ani

