Mata Banua Online
Minggu, Februari 8, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Kejar Imunisasi Bisa Kurangi Penyebaran Penyakit Infeksi

by Mata Banua
18 November 2024
in Mozaik
0
D:\2024\November 2024\19 November 2024\11\Halaman 1-11 Selasa\kejar.jpg
(foto:mb/web)

Kepala divisi infeksi dan penyakit tropis SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Brawijaya Dr. dr. Irene Ratridewi Sp.A(K) M.Kes mengatakan mengejar imunisasi harus dilakukan dengan serius untuk mengurangi penyebaran penyakit infeksi yang mengintai anak-anak.

“Jadi mulai dari pemerintah pusat sampai dengan daerah itu juga bersama-sama melakukan tindakan yang dapat mengurangi atau menurunkan penyebaran dari penyakit ini. Jadi sama seperti pada waktu kita kemarin menghadapi pandemi COVID-19, harus sama seriusnya,” kata Irene dalam diskusi daring mengenai penyakit infeksi yang sering menyebabkan wabah di sekolah, yang diikuti di Jakarta, Selasa

Berita Lainnya

Awas, 7 Makanan Ini Tidak Boleh Dipanaskan Kembali, Bisa Jadi Racun

Awas, 7 Makanan Ini Tidak Boleh Dipanaskan Kembali, Bisa Jadi Racun

3 Februari 2026
7 Ciri-Ciri Orang yang Diam-Diam Membenci Kita, Perhatikan Gesturnya

7 Ciri-Ciri Orang yang Diam-Diam Membenci Kita, Perhatikan Gesturnya

3 Februari 2026

Irene mengatakan mengejar imunisasi perlu dilakukan untuk mengurangi penyebaran infeksi yang semakin banyak muncul setelah adanya pandemi COVID-19. Hal ini karena terjadi penurunan vaksinasi selama pandemi dan risikonya 80 juta anak berada dalam bahaya dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi seperti varisella atau cacar air, dan mumps (gondongan).

Mirip dengan infeksi COVID-19, pada ketiga penyakit tersebut jika tidak dilakukan vaksinasi maka infeksinya akan menjadi parah dengan orang-orang yang memiliki komorbid.

“Banyak sekali yang disrupted artinya ditunda atau bahkan mungkin tidak dikerjakan sama sekali, masih ditunda, kemudian dikerjakan, jadi telat vaksinnya, ada juga yang 14 persen itu malah tidak divaksin sama sekali, 27 persen patuh, tetap vaksin,” katanya.

Irene mengatakan hal ini perlu menjadi perhatian dari pemerintah untuk memastikan penyebaran vaksinasi ke seluruh daerah aman agar masyarakatnya bisa segera melaksanakan imunisasi secara lengkap dengan baik.

Sampai dengan 2020 di Indonesia sebagian besar vaksin sudah disebarluaskan di antaranya mumps atau gondongan dan varicella atau cacar air meskipun belum termasuk dalam program vaksinasi dari Kementerian Kesehatan, sementara HFMD atau flu Singapura sudah ada vaksinnya namun tidak meliputi seluruh virus yang menyebabkan flu Singapura tersebut.

Irene mengatakan saat ini infeksi penyakit yang paling diderita anak usia sekolah adalah gondongan dengan 6.000 kasus, flu Singapura sekitar 1.600 kasus dan cacar air.

“Memang sebaiknya segera dikejar vaksinasinya itu akan jauh lebih baik daripada tidak divaksin sama sekali. Kalau misalkan sudah divaksin tapi kok masih sakit juga, asalkan timing vaksinasinya tepat, saat antibodinya bagus atau naik, maka gejala klinisnya akan lebih ringan, bahkan tidak bergejala sama sekali dibandingkan mereka yang tidak divaksin,” ucapnya. ant

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper