Mata Banua Online
Minggu, April 26, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

PGRI Minta Kurikulum Merdeka Belajar Dikaji Ulang

by Mata Banua
6 November 2024
in Headlines
0

 

Berita Lainnya

JCH Kloter 01 Asal Banjarmasin Diberangkatkan ke Madinah

JCH Kloter 01 Asal Banjarmasin Diberangkatkan ke Madinah

23 April 2026
Polisi Analisis Video JK, Terkait Laporan Terhadap Ade Armando-Abu Janda

Polisi Analisis Video JK, Terkait Laporan Terhadap Ade Armando-Abu Janda

23 April 2026

JAKARTA – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) meminta pemerintah mengkaji ulang kurikulum Merdeka Belajar yang diterapkan Mendikbudristek Nadiem Makarim.

Ketua PGRI Unifah Rosyidi menilai ada sejumlah kebijakan pendidikan di era sebelumnya yang perlu dikaji ulang. Menurutnya, perubahan kurikulum sah saja dilakukan demi perbaikan mutu pendidikan nasional.

“Soal Merdeka Belajar, itu kemasan yang dipaksakan,” kata Unifah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (6/11).

Unifah menyoroti beberapa aspek Merdeka Belajar yang menurutnya keliru. Pertama, penghapusan ujian nasional (UN). Dia berkata kebijakan itu justru menghilangkan kesempatan memetakan mutu pendidikan.

Dia berkata asesmen nasional (AN) yang dibuat sebagai pengganti UN tidak bisa merekam mutu pendidikan nasional. Padahal, pemetaan itu diperlukan untuk merumuskan ulang kebijakan pendidikan.

Unifah juga menyoroti program guru penggerak yang menjadi bagian Merdeka Belajar. Dia berpendapat program ini hanya menimbulkan kecemburuan di antara para pengajar.

“Yang penggerak dikasih semua keistimewaan, yang ini (bukan guru penggerak), enggak,” ujarnya.

Dia juga merasa Merdeka Belajar hanya slogan. Padahal, metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered learning) bukan hal yang baru.

“Pembelajaran orang dari tahun 80-an saja sudah ada CBSA, cara belajar siswa aktif. Jadi, student centered yang sekarang diagung-agungkan itu bukan sesuatu barang baru,” ujarnya.

Unifah mendukung bila Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengkaji ulang kurikulum Merdeka Belajar. Dia berharap perubahan kurikulum dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan nasional.

“Jadi adjustment-nya bukan berdasarkan keinginan menterinya, tapi kebutuhan bangsa menghadapi tantangan. Kebutuhan nasional adjustment-nya,” ucap Unifah. web

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper