Mata Banua Online
Minggu, April 26, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

75 Persen Cadangan Beras dari Impor

by Mata Banua
16 Oktober 2024
in Ekonomi & Bisnis
0

JAKARTA – Pengamat menilai jutaan impor be­ras yang dilakukan pemerintah lantaran Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak mampu men­ye­rap gabah atau beras dalam negeri secara op­timal.

Indonesia masih mengimpor be­ras sebanyak 3,23 juta ton un­tuk periode Januari-September 2024, dengan nilainya yang men­capai US$2,01 miliar. Adapun, ma­yoritas impor beras itu berasal da­ri Thailand, Vietnam, dan Pa­kistan.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

Pengamat Pertanian dari Cen­ter of Refor on Economic (Core) Eliza Mardian menyebut bahwa le­bih dari 75% cadangan beras pe­merintah (CBP) dipenuhi dari im­por.

Eliza mengatakan bahwa lang­kah pemerintah yang meng­im­por jutaan beras ini sebagian be­sar untuk pembagian beras 10 ki­logram untuk bantuan sosial (ban­sos). Adapun, sebagian lagi un­tuk stabilisasi harga dengan men­yalurkan beras stabilisasi pa­sok­an dan harga pangan (SPHP).

“Apalagi peemerintah me­n­ca­na­ngkan pemberian beras hi­ng­ga Desember 2024. Tenu ini akan semakin meningkatkan im­por,” kata Eliza.

Menurut Eliza, kurang op­ti­ma­l­nya Bulog menyerap gabah atau beras petani ini salah sa­tu­nya karena jenis beras yang di­te­rima Bulog.

Di sisi lain, para petani ku­rang menerapkan teknologi, di ma­na masih mengeringkan gabah de­ngan mengandalkan cahaya ma­­tahari. Imbasnya, kualitas ga­bah menjadi kurang baik.

Begitu pula dengan harga po­kok penjualan (HPP) yang dinilai ku­rang adaptif terhadap pe­ru­bah­an biaya masukan pertanian dan ti­ng­kat inflasi. “Akibatnya petani le­bih berminat menjual ke bandar ya­ng hrganya bisa lebih tinggi,” ujar­nya.

Di samping itu, Eliza me­ng­ung­kap bahwa para petani juga m­e­miliki keterbatasan modal. Im­bas­nya, pra petani melakukan pen­jualan dengan sistem ijon. “Ke­tika panen, padinya sudah di­ang­kut bandar dengan harga di ba­wah rata-rata pasar karena sudah dibayar diawal ke petani. Jadi tidak bisa menjual ke Bu­log,” terangnya. Se­men­ta­ra itu, lanjut dia, petani yang ti­dak meng­gu­na­kan sistem ijon ke­rap bingung menjual hasil pro­duk­sinya ke Bulog, lantaran mi­ni­mnya in­for­ma­si dan harus me­ngeluarkan bia­ya transportasi. Kon­­disi ini be­r­be­da jika petani men­jual produksi beras ke ban­dar.

“Kalau menjual ke bandar, ban­darnya jemput bola. Petani ti­dak pusing lagi mengirimkan ba­ra­ngnya dan tidak mengeluarkan bia­ya ongkos ke Bulog. Gudang Bu­log ini kan tidak di setiap de­sa,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Eliza me­man­dang bahwa besaran impor beras ini sejatinya sangat tergantung da­ri ketangkasan dan keberhasilan pe­me­rintah dalam memitigasi dam­pak dari el nino atau la nina. Ji­ka berkaca dari 2023, Eliza me­ng­atakan bahwa produksi padi In­do­nesia turun 440.000 ton karena fe­nomena el ino.

Sedangkan angka impornya men­capai 3,2 juta ton. “Itu ka­rena berasnya bukan cuma untuk sta­bilisasi harga lewat operasi pa­sar, tetapi juga pembagian bansos ke­pada masyarakat miskin,” tan­das­nya. bisn/mb06

75 Persen Cadangan Beras dari Impor

JAKARTA – Pengamat menilai jutaan impor be­ras yang dilakukan pemerintah lantaran Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak mampu men­ye­rap gabah atau beras dalam negeri secara op­timal.

Indonesia masih mengimpor be­ras sebanyak 3,23 juta ton un­tuk periode Januari-September 2024, dengan nilainya yang men­capai US$2,01 miliar. Adapun, ma­yoritas impor beras itu berasal da­ri Thailand, Vietnam, dan Pa­kistan.

Pengamat Pertanian dari Cen­ter of Refor on Economic (Core) Eliza Mardian menyebut bahwa le­bih dari 75% cadangan beras pe­merintah (CBP) dipenuhi dari im­por.

Eliza mengatakan bahwa lang­kah pemerintah yang meng­im­por jutaan beras ini sebagian be­sar untuk pembagian beras 10 ki­logram untuk bantuan sosial (ban­sos). Adapun, sebagian lagi un­tuk stabilisasi harga dengan men­yalurkan beras stabilisasi pa­sok­an dan harga pangan (SPHP).

“Apalagi peemerintah me­n­ca­na­ngkan pemberian beras hi­ng­ga Desember 2024. Tenu ini akan semakin meningkatkan im­por,” kata Eliza.

Menurut Eliza, kurang op­ti­ma­l­nya Bulog menyerap gabah atau beras petani ini salah sa­tu­nya karena jenis beras yang di­te­rima Bulog.

Di sisi lain, para petani ku­rang menerapkan teknologi, di ma­na masih mengeringkan gabah de­ngan mengandalkan cahaya ma­­tahari. Imbasnya, kualitas ga­bah menjadi kurang baik.

Begitu pula dengan harga po­kok penjualan (HPP) yang dinilai ku­rang adaptif terhadap pe­ru­bah­an biaya masukan pertanian dan ti­ng­kat inflasi. “Akibatnya petani le­bih berminat menjual ke bandar ya­ng hrganya bisa lebih tinggi,” ujar­nya.

Di samping itu, Eliza me­ng­ung­kap bahwa para petani juga m­e­miliki keterbatasan modal. Im­bas­nya, pra petani melakukan pen­jualan dengan sistem ijon. “Ke­tika panen, padinya sudah di­ang­kut bandar dengan harga di ba­wah rata-rata pasar karena sudah dibayar diawal ke petani. Jadi tidak bisa menjual ke Bu­log,” terangnya. Se­men­ta­ra itu, lanjut dia, petani yang ti­dak meng­gu­na­kan sistem ijon ke­rap bingung menjual hasil pro­duk­sinya ke Bulog, lantaran mi­ni­mnya in­for­ma­si dan harus me­ngeluarkan bia­ya transportasi. Kon­­disi ini be­r­be­da jika petani men­jual produksi beras ke ban­dar.

“Kalau menjual ke bandar, ban­darnya jemput bola. Petani ti­dak pusing lagi mengirimkan ba­ra­ngnya dan tidak mengeluarkan bia­ya ongkos ke Bulog. Gudang Bu­log ini kan tidak di setiap de­sa,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Eliza me­man­dang bahwa besaran impor beras ini sejatinya sangat tergantung da­ri ketangkasan dan keberhasilan pe­me­rintah dalam memitigasi dam­pak dari el nino atau la nina. Ji­ka berkaca dari 2023, Eliza me­ng­atakan bahwa produksi padi In­do­nesia turun 440.000 ton karena fe­nomena el ino.

Sedangkan angka impornya men­capai 3,2 juta ton. “Itu ka­rena berasnya bukan cuma untuk sta­bilisasi harga lewat operasi pa­sar, tetapi juga pembagian bansos ke­pada masyarakat miskin,” tan­das­nya. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper