Mata Banua Online
Jumat, April 24, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Pembeli di Pasar Tanah Abang Anjlok 50 Persen

by Mata Banua
8 Oktober 2024
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2024\Oktober 2024\9 Oktober 2024\7\7\Halman ekonomi (09 Oktober   )\hal 7 - 2 klm (KIRI).jpg
HARGA CABAI – Harga cabai rawit terus merangkak naik, yang kemarin 0,43% sehingga tembus Rp44.460 per kg.(foto:mb/ant)

 

JAKARTA – Asosiasi Pe­da­ga­ng Pasar Tanah Abang mengakui da­ya beli masyarakat turun dras­tis. Hal ini tercermin dari ber­ku­rangnya pembeli lebih dari 50 per­sen.

Berita Lainnya

Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026
Stok Beras Bulog 5 Juta Ton, Rekor Tertinggi

Stok Beras Bulog 5 Juta Ton, Rekor Tertinggi

23 April 2026

Ketua Asosiasi Pedagang Pa­sar Tanah Abang Yasril Umar me­ngatakan kondisi ini terjadi se­jak pandemi covid-19 dan belum ju­ga membaik sampai saat ini.

“Tren belanja masyarakat, khu­susnya pedagang grosir dae­rah/mancanegara secara umum me­nurun jauh, terutama sejak co­vid-19 yang lalu. Lebih dari 50 per­sen (turun­nya),” ujar Yasril Se­lasa (8/10).

Menurutnya, selain daya beli mas­yarakat yang menurun, tren be­lanja yang anjlok juga di­se­bab­kan oleh beberapa faktor lainnya, se­perti budaya belanja mas­ya­ra­kat yang berubah ke online.

Kemudian, juga disebabkan oleh banyaknya muncul pasar non­formal sekitaran Pasar Tanah Aba­ng hingga banyaknya barang im­por yang membanjiri kawasan pa­sar terbesar di Asia Tenggara ter­sebut.

Selain itu, ia menyebutkan pa­ra pedagang daerah sekarang su­dah mulai meninggalkan Tanah Aba­ng dan lebih memilih mem­be­li bahan atau kain langsung ke pab­rik.

“Pedagang daerah yang bia­s­a­nya belanja ke Tanah abang, se­karang langsung ke pengrajin di sentra-sentra industi pakaian ja­di (potong kompas), seperti, Ban­dung, Tasikmalaya, Pe­ka­lo­ng­an, Solo dan lain-lain,” te­ra­ngnya.

Senada, Ketua Umum Aso­si­asi Pengelola Pusat Belanja In­do­nesia (APPBI) Alphonsus Widjaja mengatakan penurunan be­lanja juga terjadi di mal. Tu­run­nya sekitar 5-10 persen.

Menurutnya, hal ini di­ka­re­na­kan kondisi keuangan mas­ya­ra­kat kelas menengah bawah ya­ng makin sulit. Sehingga, banyak ya­ng memilih harga murah untuk ba­rang yang sama.

“Dikarenakan uang yang di­pe­gang semakin sedikit, maka sa­at ini pola belanja masyarakat ke­las menengah bawah cenderung un­tuk membeli barang ataupun pro­duk dengan nilai atau harga sa­­tuan yang lebih kecil atau mu­rah,” jelasnya.

Menurutnya, daya beli mas­ya­rakat turun bahkan terjadi sejak awal tahun dan makin parah se­te­lah Hari Raya Idulfitri 2024. Ko­n­disi penurunan paling parah ter­jadi di luar pulau Jawa.

Alphonsus berharap tren pe­nu­runan ini akan terbantu men­je­lang Pilkada dan libur Natal-Ta­hun Baru mendatang. Meski me­mang tidak akan membantu ki­nerja pusat perbelanjaan secara sig­nifikan. “Sehingga rata-rata ki­nerja keseluruhan 2024 akan tetap lebih baik dari 2023, meski han­ya akan tumbuh single digit sa­ja,” pungkasnya. cnn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper