Mata Banua Online
Sabtu, April 25, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Cegah Deflasi Berlanjut, Pemerintah Harus Apa?

by Mata Banua
4 September 2024
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2024\September 2024\5 September 2024\7\Halman ekonomi (05 Sept )\7\Halman ekonomi (05 Sept )\master 7.jpg
DEFLASI – Deflasi yang sudah terjadi 4 bulan berturut-turut harus menjadi perhatian Pemerintah, terutama dalam membuat kebijakan yang cenderung mempunyai dampak negatif terhadap konsumsi rumah tangga. Komuditas telur ayam, merupakan salah satu penyumbang terjadiya deflasi Agustus 2024.(foto:mb/ant)

 

JAKARTA – Pengamat Ekonomi Celios Nailul Huda menyoroti terkait deflasi yang dia­lami Indonesia selama empat bulan ber­turut-turut. BPS mencatat Indonesia me­ng­alami deflasi sejak Mei hingga Agustus 2024. Per Agustus 2024, BPS melaporkan de­f­lasi 0,03 persen.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

Nailul Huda menilai kondisi deflasi ya­ng terjadi saat ini memang lebih banyak di­pengaruhi oleh faktor domestik. Pada def­lasi sebelumnya seperti di tahun 2008-2009 mi­salkan, faktor krisis global menyebabkan deflasi terjadi beberapa bulan berturut-turut.

Sedangkan di masa pandemi covid-19 ju­ga sama ada faktor extra ordinary yang men­yebabkan permintaan melemah. Se­men­tara saat ini, kata Nailul, faktor deflasi ban­yak disebabkan oleh pelemahan daya beli ya­ng disebabkan kebijakan pemerintah yang ku­rang tepat.

“Saya melihat kondisi harga komoditas ma­sih bisa dibilang oke meskipun terjadi pe­nu­runan. Covid-19 sudah berjalan be­be­rapa tahun ke belakang dan perdagangan glob­al juga sudah dibuka,” kata Nailul Rabu.

Sementara, jika dilihat pada tahun 2022 pe­me­rintah menaikkan harga pertalite yang pa­da akhirnya menggerus daya beli. Selain itu, kondisi pelemahan daya beli kelas me­ne­ngah juga disebabkan faktor pelemahan in­dustri dan investasi yang seret. “Jadi treat­ment terhadap isu deflasi saat ini ber­be­da dengan kondisi deflasi tahun-tahun se­be­lumnya,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mengatasi deflasi ya­ng berkelanjutan Pemerintah harus pintar mem­buat kebijakan yang cenderung mem­punyai dampak negatif terhadap konsumsi ru­mah tangga.

“Rencana kenaikan tarif PPN tahun de­pan bisa dibatalkan. Pembatasan pertalite ha­rus dilakukan secara matang dengan me­li­hat unsur keadilan bagi penerima sub­si­di,” pungkasnya.

Ekonom Indonesia Strategic and Eco­no­mic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita, menilai risiko dari deflasi yang ber­kelanjutan dalam empat bulan adalah pe­nu­runan tingkat konsumsi rumah ta­ng­ga.

Sehingga sangat berpotesi akan me­ne­kan angka pertumbuhan ekonomi di kuartal III tahun ini, karena kontribusi konsumsi ru­mah tangga sangat besar kepada per­tum­buhan ekonomi nasional.

Risiko lanjutanya yakni prospek in­ves­tasi untuk beberapa sektor yang terkait de­ngan konsumsi rumah tangga dan daya beli sehari-sehari masyarakat akan mem­bu­ruk di satu sisi. Bahkan berpotensi ter­ja­dinya PHK alias gulung tikar, misalnya un­tuk sektor consumer good, manufaktur, te­r­utama tekstil, dan properti. lp6/mb06

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper