MASA-MASA saya bergabung, nebeng nginap dan bergaul di Mess Banjarmasin Post adalah era di mana saya menimba banyak ilmu bukan hanya jurnalistik, bisnis media melainkan pula nilai nilai kejurnalistikan.
Dan itu lebih banyak terjadi di sebuah meja kecil bundar, yang dikelilingi kursi2 plastik, di ruang tengah mess. Bukan pada saat ngantor dan memburuh di ruang redaksi. Melainkan usai ‘orgasme’ ba’da deadline tadi.
Dari sekian banyak anggota tim asistensi Persda, dengan Kang Yusran saya menjalani pergaulan atau kenal dekat sekitar 10 tahun, antara 1994, hingga saya resign di tahun 2005.
Selama itu, hanya sesekali Kang Yusran ditugaskan keluar kota. Rotasi ke beberapa Koran daerah lainnya macam Harian Surya Surabaya, Harian Sriwijaya Pos (Sripo) Palembang hingga ngetem di kantor Persda Palmerah.
Tapi rotasi itu tak berlangsung lama. Hanya beberapa bulan, dia kemudian balik lagi ke Banjarmasin.
Selain dengan Kang JPX (Kang Yusran), saya juga bergaul dan menimba banyak ilmu dengan anggota tim asisrensi lainnya yang tentu saja menjadi penghuni tetap Mess BPost.
Utamanya M Yamin, pria kalem murah senyum asal Sripo Palembang. Yamin sangat kenyang pengalaman saat melakukan operasi yang sama bagi harian Sripo. Hingga kemudian Sripo menjadi salah satu bintang di jajaran media local Kelompok Kompas Gramedia (KKG).
Itulah sebabnya, yang membuat Yamin diangkut KKG ke Banjarmasin untuk misi serupa.
Yamin (kami memanggilnya Mas Yamin, padahal dia asli Palembang) adalah angkatan pertama tim ”kopassus” KKG yang boyongan ke Banjarmasin. Tugas utamanya “mengamankan jalur”, semacam prakondisi untuk kedatangan tim-tim lainnya di berbagai divisi.
Oh ya, pascaakuisisi, Kompas menempatkan orang-orangnya di posisi-posisi utama kepemimpinan. Dari mulai pemimpin redaksi, pemimpin perusahaan, hingga tingkat manajer.
Itu perkara biasa dan wajar. Kompas ingin mendapatkan garansi bahwa investasi dana dan SDM nya aman dan profitable.
Pemimpin Redaksi (Pimred) baru BPost menggantikan posisi HJ Djok Mentaya (Pimred lama, owner, founder BPost) adalah H Purnama Kusumaningrat.
Kesan pertama ketika pertama dikenalkan adalah orangnya tegas, leader banget, cerdas, luas wawasan dan sedikit angkuh. Dia juga berpenampilan dandy, sporty dan rapih.
Kelak setelah beberapa pecan bertugas, kesan angkuh itu ambyar semua. Ternyata, orangnya sangat gaul banget, dari level atas hingga top down, dia kenal semua, bukan hanya kru redaksi tapi juga divisi lain. Bahkan sampai latar belakang dan keluarganya.
Ketika bapak saya wafat, Pak Pur melayat ke pemakaman di Barabai, sebuah kota kabupaten yang berjarak 168 kilometer dari Banjarmasin, pulang pergi. Itu penghormatan luar biasa bagi saya yang hanya seorang jurnalis pemula ini, disamperi bosnya.
Itu yang kemudian membuat saya bersimpati berat padanya. Sama seperti dengan Kang Yusran.
Pak Pur (demikian kami menyapanya) asli Bandung juga ternyata, tapi lama berkarier di Harian Kompas dalam berbagai level kepemimpinan, sebelum akhirnya ditugaskan ke Banjarmasin.
Dengan Pak Pur, Mas Yamin, Kang Yusran dan tim asistensi inilah setiap harinya kami berinteraksi untuk membuat produk koran Banjarmasin Post ini siap dan layak sampai ke tangan pembacanya. Melebihi dari era sebelumnya.
Misi boleh dibilang sukses dan tuntas, utamanya bagi divisi redaksi. Hal yang sama juga terjadi di divisi usaha yang dilakukan oleh tim asistensi lainnya dari kantor pusat.
Kesuksesan itu terlihat dari penampilan perwajahan BPost yang berubah total. Perombakan manajemen redaksi di mana untuk pos-pos strategis dii sioleh orang-orang muda local dipadukan dengan awak manajemen lama yang masih memiliki visioner.
Perubahan mekanisme kerja keredaksian dan kru tata letak yang terlihat lebih efisien dan menjamin perjalanan ini menjadi lebih comfort.
Dan yang paling utama adalah perubahan KontenBPost. Baik dari segi bahasa, pemberitaan, penjudulan, pemilihan kalimat dan sasaran pembacanya. Perubahan market pembaca dari kelas menengah ke bawah akhirnya dibalik menjadi bacaan yang disukai kelas menengah ke atas.
Salah satu penciriannya adalah tidak lagimenonjolkan pemberitaan kriminalitas recehan.
Yang dulunya disajikan dengan berita yang bombastis sensasional dilengkapi dengan foto-foto vulgar, kini dibikin lebih soft.
` Posisinya digeser ke halaman dalam, meski opsi selling poinnya tidak pernah tergeserkan di market pembaca urang banua.
Kerja keras, etos norma kerja, kualitas produk itu pada akhirnya tidaklah sia-sia. BPost mengalami lonjakan oplah yang demikian progresif.
Dari sebelumnya berada di kisaran jumlah cetak 2.500 lembar koran, meningkat ke 6.500. lalu naik lagi ke angka 12 ribu, Bahkan pada suatu titik pernah menyentuh angka 22.000 eksemplar per hari.
BPost menjadi the rising star baru di jajaran koran-koran lokal Kelompok Kompas Gramedia.
Dan para penghuni Mess Banjarmasin Post adalah salah satu di antara banyak orang yang mengantarkan BPost ke race line yang sebenarnya, kalau meminjam istilah balapan Formula 1. (bersambung)
Oleh Budhi Rifani
Mantan Redaktur Pelaksana Tabloid BeBAS

