ORGASME kami, yang berada di garis akhir produksi Banjarmasin Post adalah menyaksikan dan merasakan bagaimana harian ini masuk ke fase naik cetak setiap harinya.
Itu artinya seluruh proses pracetak: yang dilakukan dari pagi hingga dini hari mencapai titik nadirnya.
Dari mulai penugasan liputan wartawan di seluruh desk dan daerah, penetapan foto & berita headline, cek dan ricek narsum, editing berita & montasefoto, update peristiwa harian terkini.
Sementara di bagian lay out kerja rodi juga dihelat: pembuatan dummy, penataan perwajahan, input file masuk tata letak, editing dan koreksi, hingga akhirnya menjadi plat.
Itu semua udah selesai digeber. Sebelum akhirnya seluruh plat cetak saya paraf sebagai status confirm dari saya selaku manajer produksi.
Saya kemudian lapor kepada Pak Pur (H Purnama Kusumaningrat). Kalau kata Pemimpin Redaksi ini lanjutkan, itu artinya waktunya bagi tim lay out buat menggotong banyak plat yang sudah kelar di finish untuk dieksekusi divisi percetakan yang berada di seberang Gedung Gajah Manyusu.
Dan itu semua terjadi dari antara pukul 24.00 hingga pukul 02.00. dini hari menjelang sahur.
Itulah dimana para pejuang garis mati ini (deadline) mendapatkan puncak kepuasan kerjanya.
Lega dan plong. Kelegaan dan keplongan ini terkadang kami rayakan kecil-kecilan. Sebagai rasa syukur, sudah terbebas dari belitan kerja,
Entah sekadar party tipis-tipis di mess. Atawa nongki-nongki di bar coffee shop sekitaran. Di tahun 1994, café hanya ada di resto papan atas, THM atau hotel berbintang.
Tidak seperti sekarang café dan coffe shop bertaburan di mana-mana. Bahkan di samping gardu kampung saya, dua café berdiri, meski hidangan tampilannya tetap bau warung-warung.
Kalau lagi capek atau bokek (lebih banyak bokeknya siiih..) maka kami, nongki2nya cukup di mess saja. Ngopi-ngopi plus martabak terang bulan itu sudah pasti. Dan tentu saja ngudud.
Hampir seluruh tim asistensi (Kang JPX, Mas Itong, Kang Jahar, Mas Yamin dll) bermuasal dari mazhab yang sama, ahlul hisab kelas berat, kecuali Pak Pur.
Peminpin Redaksi kami ini pola hidupnya sangat sehat ini. Bagi dia, no cigarettes, no drugs. Sehingga penampilannya selalu dandy lagi sporty.
Oh ya, selain martabak, sesekali juga kami menikmati makanan mewah ala chef resto tapi bikinan sendiri.
Asal tahu saja ye, baik Kang Yusran, Mas Itong, Kang Jahar, Mas Yamin adalah juru masak handal untuk ukuran seorang yang berprofesi jurnalis yang pernah saya temui.
Ketika pertama kali mendarat di Banjarmasin, Mas Itong memiliki kulkas sendiri di mess. Semua isi kulkas penuh dengan bahan makanan mentah. Dari sayur, ikan, daging, telur, bumbu2an, rempah-rempah.
Semuanya dia beli di Hero Supermarket. Termasuk perlengkapan masak, Mas Itong udah isi paling lengkap dah.
Tukang masak jago lainnya adalah Kang Yusran. Dia bisa masak menu apa pun. Dan rasanya lezat banget. Bahkan kalau makanan berlebih, kan Yusran akan ngundang kru redaksi, buat disikat bareng-bareng.
Bedanyadengan Mas Itong, Kang Yusran justru beli bahan makanan mentahnya di pasar tradisional. Yang membelikan adalah Acil Sehat, seorang office woman yang khusus ditugaskan melayani para tamu di mess.
Pernah suatu saat, ketika pagi di bulan Ramadhan. Saya terbangun oleh wanginya bumbu makanan yang menyebar ke segenap ruang mess.
Begitu saya menuju pantry, sudah terhidang aneka makanan panas buat sarapan. “Silakan disantap..”ucap Kang Yusran, yang duduk di meja makan sambil nyengir ke arah saya.
Acara party tipis-tipis ba’da deadline Banjarmasin Post ini menjadi tambah seru begitu turut join Haji Iffan. Salah satu senior saya di BPost ini sehari-haria dalah pengasuh rubrik mingguan, yang diselip di lembaran koran.
Pada saat BPost Group melahirkan “anak pertamanya” di tahun 1998, yang berupa Tabloid BeBAS, Haji Iffan menjadi wakil saya di tingkat redaktur pelaksana. Kelak kemudian di tahun 2004 Haji Iffan resign. Dia lantas mendirikan Harian Mata Banua (MB) dan dia menjadi CEO-nya hingga tetap eksis s mpai saat ini.
Meski bukan pejabat tinggi di keredaksian, Fachruddin Noor Ifansyah (demikian nama lengkap Haji Iffan) ini orangnya gaul banget. Pergaulan Haji Iffan sangat luas dari level jongos hingga bos.
Joinnya Haji Iffan membuat vibes informal meeting kami jadi tambah seru, hangat, kocak dan mendebarkan. Monggo simak di sesi berikutnya ya. (bersambung).
Budhi Rifani
MantanRedakturPelaksana Tabloid BeBAS

