KETIKA itu saya masih wartawan muda, pemula. Baru kerja 2 tahun sebagai jurnalis koran terbesar di Kalsel, Harian Banjarmasin Post. Kantornya waktu itu masih di Jl Haryono MT Banjarmasin, sebelum akhirnya menempati gedung megah seperti sekarang di Jalan Syar’ie Musyaffa, bagian utara Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
Praktis setiap hari harus bolak ballik Banjarmasin – Banjarbaru. Sepanjang 36 kilometer naik motor.atau 72 kilometer dalam satu hari. O ya, sejak tamat kuliah dan bekerja di Banjarmasin Post, saya dan keluarga menetap di Kota Banjarbaru.
Sengaja saya tidak mengajak pindah keluarga di Banjarbaru, karena istri saya kerja sebagai PNS di sebuah instansi Balitbangtan Departemen Pertanian. Daripada istri saya yang cape, mending saya yang bolak balik. Itu pemikiran saya.
Cape? Iya tentu saja. Karena selain naik motor, begitu tiba di kantor langsung mendapatkan tugas peliputan lapangan. Yang bisa berlangsung hingga sore atau malam hari. mencari berita sekaligus melaporkannnya dalam bentuk tulisan. Kebetulan waktu itu saya ditugaskan sebagai wartawan olahraga.
Tahun 1994, terjadi akuisisi terhadap Banjarmasin Post oleh Kelompok Kompas Gramedia (KKG) di bawah bendera Persda (kelompok Pers Daerah). Terjadi perombakan besar-besaran terhadap manajemen Banjarmasin Post pasca akuisisi. Entah itu di struktur perusahaan maupun redaksi.
Saat itu KKG menurunkan tim pendampingan di tiga sektor utama yang menjadi nadi bisnis perusahaan jurnalistik. Yaitu di bidang perusahan, percetakan dan bidang redaksi. Tim asistensi ini berasal dari Persda, salah satu kelompok usaha KKG yang berpusat di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta.
Persda ini menaungi banyak koran daerah se Indonesia yang menjadi rekan kerja sama mereka, entah dalam bentuk akuisisi ataupun kerjasama manajemen biasa.
Nama resmi Persda adalah PT Indopersda Primamedia yang tugas awalnya adalah membantu surat kabar lokal yang membutuhkan bantuan.
Di antaranya yang saya ingat adalah Koran Tifa Irian di Irian Jaya (sebelum berubah menjadi Papua), Pos Kupang di Kupang NTT, Bernas Yogya, Mandala Bandung, Harian Surya Surabaya, Sriwijaya Post Palembang, Serambi Indonesia di Banda Aceh, Kaltim Pos di Samarinda. Dan terakhir adalah harian Banjarmasin Post.
Tentu saja KKG tidak main-main dalam menurunkan tim pendampingan khususnya di Bagian Redaksi. Para punggawa jurnalis hebat milik mereka diturunkan ke Banjarmasin untuk memperkuat bukan hanya morfologi bisnis, percetakan, tapi juga tim redaksi. Tujuannya adalah agar Banjarmasin Post kembali bangkit, dan valueable.
Di situlah untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan Yusran Pare. Yusran Pare dalam salah satu Tim pendamping dari Persda. Yang lainnya adalah M Yamin dari Palembang, Yusran dari Palembang, Victorawan Sophiaan, adik dari artis politisi almarhum Sophan Sophiaan yang berada di bawah kepemimpinan Pemimpin Redaksi H Purnama Kusumaningrat (alm).
Mereka-mereka ini yang menghandle, mendongkrak, memompa, performa keredaksian bersama para jurnalis lokal.
Lalu Yusran Pare? Karena lebih senior dan berasal dari Bandung, kami memanggilnya dengan Kang Yusran. Lebih spesifik dan lebih akrab lagi. Sapaan akrab kami adalah Kang JPX. Itu inisial dia dalam menulis berita.
JPX, inisial yang aneh dan mengundang tanya. Kalau JP kita dengan mudah mencerna sebagai inisial namanya, tapi huruf “X” di belakang JPX itu apa artinya ya? Kelak akan saya tulis di bagian lain tulisan ini.
“Halo, assalamu’alaikum… nang kaya apa habar bubuhan piyan….. “ itu sapaan pertama si Akang bertandang ke desk sport ketika menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Mabes Banjarmasin Post Jalan Haryono MT. kebetulan saya dipercaya sebagai Redaktur Olahraga. Naik pangkat ceritanya, setingkat di atas reporter, yang saat itu masih membawahi 5 reporter sport.
Tentu saja kami terkejut dengan sapaan sok akrabnya itu. Tersenyum lebar, berpakaian hitam hitam, dengan tas pinggang item dan pipa rokok di mulutnya. Rambutnya setengah gondrong berponi dengan belahan di tengah. Tongkrongan dia lebih mirip seniman ketimbang jurnalis.
Usut punya usut Kang JPX ternyata memiliki asal usul Banjar, meski lahir di Sumedang Jabar, tapi ayah keduanya berasal dari Banjarmasin, tepatnya dari Kelurahan Basirih. Pantas saja dia sok2an ngomong Banjar.
Kedatangan dan perkenalan pertama itulah yang kemudian membawa kami berjalan lebih jauh dalam turut serta membesarkan Banjarmasin Post kelak di kemudian hari. yang akan saya tulis di serial berikutnya.
Kabar duka pada Selasa, 2 Juli 2024 kemarin itulah yang membuat saya membuka kembali kenangan bersama Kang JPX dalam 25 tahun silam.
Kang JPX yang lahir 5 Juli 1958 tersebut, menghembuskan nafas terakhirnya setelah kolaps usai gowes Rute Sumedang – Subang via Seelawi. Aktivitas olahraga yang rutin dia geluti selama 10 tahun terakhir. Dan menjadi lebih intens setelah beliau pensiun sebagai Pemimpin Redaksi Tribun Jabar.
Sang Guru Jurnalis dan masterchef banyak koran daerah itu kini telah dipanggil Sang Pencipta dengan meninggalkan banyak jejak rekam sejarah kewartawanan nusantara. br
Oleh
Budhi Rifani, Mantan Redaktur Pelaksana Tabloid BeBAS

