
SUMEDANG – Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Wartawan senior dan mantan pemimpin redaksi (Pemred) Banjarmasin Post dan Tribun Jabar, Yusran Pare meninggal dunia setelah pingsan saat bersepeda di kawasan Rancakalong, Sumedang, Selasa (2/7).
Selly Andina Miranti, wartawan Tribun Jabar yang berkomunikasi dengan anggota rombongan sepeda Yusran Pare mengatakan bahwa Yusran tiba-tiba ambruk.
“Kata temannya, pas beliau lagi gowes terus ambruk ke pinggir, pingsan,” kata Selly. Setelah diperiksa denyut nadi, ternyata Yusran Pare tak menandakan denyut hidup.
“Meninggal. Pas kejadian lagi gowes di Rancakalong,” katanya.
Yusran Pare yang menjadi Pemred Banjarmasin Post Group periode 2009-2017 itu, kemudian dibawa ke RSUD Sumedang. Yusran tiba diantarkan ke RSUD Sumedang pada pukul 10.30 WIB.
“Tidak diketahui (sebabnya), soalnya datang ke RSUD telah dalam keadaan meninggal,” kata Direktur RSUD Sumedang, dr Enceng saat dikonfirmasi TribunJabar.id.
“Kami, keluarga besar RSUD Sumedang menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT,” katanya.
Yusran Pare dikenal keluarga sebagai sosok yang bersemangat dan gemar berolahraga sepeda.
“Om itu, senang bersepeda. Salah satu olahraga favoritnya,” kata Putri, keponakan Yusran Pare, saat ditemui di Jalan Pacuan Kuda, Selasa (2/7).
Putri menuturkan, beberapa bulan yang lalu Yusran sempat mengeluh sakit kaki hingga tidak bisa berjalan.
“Meskipun dalam kondisi sakit dia semangat untuk sembuh seperti sediakala,” ujar Putri.
Mantan Pemimpin Redaksi Tribun Jabar dan Banjarmasin Post itu, dikenal keluarga sebagai orang yang family man. Dia mengatakan, Yusran hobby membaca dan menulis.
Siapa sangka, hobby tersebut mengantarkannya untuk berkarier di industri media dengan menjadi bagian di Kompas Gramedia.
“Atas nama keluarga, saya meminta maaf apabila almarhum memiliki kesalahan. Mohon doanya agar diampuni segala dosa-dosanya,” ucapnya.
Yusran Pare yang kelahiran Sumedang, menulis biografi singkatnya sendiri (Otobiografi) dan menjelaskan banyak hal, terutama pengalamannya di dunia jurnalistik. Data ini juga sekaligus menunjukkan bahwa Yusran adalah sosok yang humble.
Dikutip dari blog probadinya, yusranpare.wordpress.com: Ia menulis; Lahir di Sumedang, Jawa Barat 5 Juli. Suami dari hanya seorang istri, Esbhita Harlina, dan ayah bagi tiga anak. Sulung, Arga Sinantra Rahmat, laki, lahir 1983. Tengah, Laras Sukmaningtyas lahir 20 Februari 1988. Bungsu, laki, Andika Megaswara, lahir 15 November 1996.
Saya mulai belajar menulis tahun 1979 di Bandung Pos, dan hingga kini masih belajar di Tribun Jabar. Ilmu menulis, saya juga serap dari Mandala yang digandeng manajemen KOMPAS-Gramedia ( 1988/89 ).
Lalu melanjutkan pendidikan di Bernas ( 90/93 ), Sriwijaya Post ( 93/95 ), Sempat singgah ke Banjarmasin Post sebelum belajar di Pos Kupang (95/96 ) di bawah bimbingan Pater Damyan Godho, dan Romo Dion DBP.
Kembali ke Bernas ( 96/98 ) untuk melanjutkan pelajaran, kemudian ke Banjarmasin Post lagi sampai kembali ke Bandung pada tahun 2000. Bersekolah di Metro Bandung yang kemudian bermetamorfosis jadi Tribun Jabar, kemudian belajar kepada guru besar Febby Mahendra Putra SH, di Tribun Batam (05 dan 06).
Sejak Maret 2007 diberi tugas belajar di Banjarmasin (lagi), sehingga harus wira-wiri Bandung-Banjarmasin secara berkala. April 2008 di Pontianak, Kalbar.
Di situ ada Ronald Ngantung, guru yang begitu sabar, ramah dan selalu tampak gembira. Belajar itu ternyata menyenangkan, terutama untuk orang kurang ilmu seperti saya. Maka sampai hari ini saya masih terus belajar membaca dan menulis. trb


