
JAKARTA – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mewaspadai nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah.
Faisal mengingatkan, pelemahan rupiah berlarut ini tentunya akan membuat barang-barang impor menjadi lebih mahal.
Alhasil itu akan membuat beban industri yang harus meng-impor bahan baku semakin tinggi. Imbasnya, konsumen di dalam negeri pun akan turut terkena dampak kenaikan harga untuk beberapa barang, dalam hal ini Faisal mengambil contoh produk obat-obatan.
“Hampir semua sektor itu memiliki ketergantungan terhadap impor walaupun dengan level yang berbeda-beda. Yang paling besar ketergantungn impor pada sektor-sektor seperti obat-obatan, farmasi,” ujar dia.
Selain obat-obatan, ia juga melihat produk industri manufaktur semisal untuk sektor otomotif hingga elektronik pun cukup memiliki ketergantungan terhadap impor bahan baku dan bahan penolong.
“Industri tekstil juga kita tahu bahwa kapas mengimpor. Lalu industri makanan beberapa bahan antaranya kita belum cukup produksinya di dalam negeri,” imbuh Faisal.
Menurut dia, kondisi ini jadi penyebab kenapa pelaku industri relatif mengalami peningkatan impor. Lantaran proses produksi yang kompleks, di mana tidak semua bahan bakunya bisa didapat di Indonesia.
“Walaupun kita juga mengekspor, sebagian kita juga mengimpor pada jenis-jenis tertentu. Apalagi yang saya katakan tadi, untuk obat-obatan tingkat impornya masih relatif termasuk yang paling tinggi,” kata Faisal.
Sebelumnya, harga BBM milik PT Pertamina (Persero) disinyalir akan kembali mengalami kenaikan mulai Juli 2024, menyusul nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah.
Padahal, Pertamina telah menahan harga BBM non subsidi miliknya naik sejak awal-awal tahun hingga Juni 2024, meskipun kurs rupiah dan harga minyak dunia fluktuatif.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal menilai, kenaikan harg BBM non subsidi semisal Pertamax cs dalam waktu dekat memang tak terelakkan.
Selain karena rupiah yang membuat ongkos impor BBM membengkak, harga minyak dunia yang terus bergerak naik jadi alasan kuat lain. “Sangat mungkin harga BBM yqng non subsidi naik, apalagi harga minyak sekarang cenderung bergerak ke atas USD 80 per barel,” kata Faisal.
Kendati begitu, ia tak bisa memperkirakan bagaimana gejolak harga BBM ke depan hingga akhir tahun. Lantaran beberapa faktor bisa mempengaruhi baik dari sisi positif ataupun negatif, semisal respon kebijakan fiskal pemerintah terhadap situasi saat ini.
Terkait ketidakpastian ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat berjanji akan menghitung dan mempertimbangkan kemampuan fiskal negara terkait potensi kenaikan harga BBM setelah ditahan sejak awal tahun.
“Semuanya dilihat fiskal negara. Mampu atau tidak mampu, kuat atau tidak kuat,” kata Presiden Jokowi beberapa waktu lalu, dikutip dari Antara. rep/mb06

