
Pendidikan anak usia dini adalah pendidikan yang diberikan kepada anak usia di bawah tujuh tahun. Di Indonesia kategori anak usia dini adalah anak berusia 0 tahun hingga 6 tahun. Anak usia dini lahir ke dunia dengan membawa segenap potensi (kecerdasan) yang dianugerahkan Tuhan, namun potensi-potensi tersebut tidak akan berkembang dan muncul secara optimal pada diri anak jika tidak distimulasi sejak usia dini. Sudaryanti (2010: 3) mengungkapkan anak usia dini merupakan masa keemasan (golden age) yang hanya terjadi satu kali dalam masa perkembangan kehidupan, sekaligus masa yang kritis bagi kehidupan anak. Penelitian menunjukkan bahwa sejak lahir anak memiliki 1000 milyar sel otak, sel ini harus dirangsang dan didayagunakan agar terus hidup dan berkembang dan jika tidak dirangsang, sel ini akan mengalami penerunan dan berdampak pada pengikisan segena potensi yang dimiliki anak. Anak usia dini memiliki sikap spontan, baik dalam melakukan aktivitas maupun saat berinteraksi dengan orang lain.
Anak tidak bisa membedakan apakah perilaku yang ditunjukkan dapat diterima oleh orang lain atau tidak dapa diterima, jika orang dewasa (seperti: orang tua, guru) tidak menyampaikan atau memberitahukan kepada anak secara langsung tentang-perilaku-perilaku yang diharapkan masyarakat, memberikan contoh kepada anak tentang sikap-sikap yang baik, dan membiasakan anak untuk bersikap baik dalam kehidupan sehari-hari di manapun anak berada.
Namun yang menjadi bahan pertimbangan dalam pembentukan sikap anak agar menjadi individu yang bersikap baik adalah anak usia dini belum mengetahui banyak hal tentang bagaimana harus berperiku yang dapat diterima oleh masyarakat. Oleh karena itu peran pendidikan dibutuhkan untuk membantu penanaman karakter pada anak sejak usia dini melalui pendidikan karakter.
Perkembangan sosial anak dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor baik dari dalam diri anak maupun dari luar seperti keluarga dan lingkungan bermain. Sejalan dengan Mayar (Rahmadianti, 2020: 61) faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial pada anak usia dini yaitu lingkungan keluarga seperti keharmonisan keluarga, perlakuan orang tua, dan harapan orang tua terhadap anak. Sedangkan faktor dari luar rumah seperti teman sebaya, guru serta hubungan orang anak dengan orang dewasa. Menurut Susanto dalam (Nandwijiwa & Aulia, 2020) faktor yang memengaruhi perkembangan sosial anak adalah keluarga, kematangan diri, status sosial, pendidikan dan intelegensi.
Lingkungan keluarga adalah lingkungan pertama bagi anak, semua tingkah laku yang muncul pada anak adalah hasil dari mencontoh perilaku dari orang tua. Orang tua adalah orang yang lebih tua atau dituakan yang terdiri dari ayah, ibu, kakek dan nenek, orang tua memiliki kewajiban mengasuh dan mendidik anak. Menurut Rizki & Hanik (2021: 19) mengartikan secara khusus orang tua adalah ayah dan ibu.
Diperjelas oleh Ruli (2020: 144) orang tua adalah komponen keluarga terdiri dari ayah dan ibu yang merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah, orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam mengasuh, mendidik, membimbing dan membina anak-anaknya untuk mencapai tahap perkembangan agar anak siap untuk memasuki kehidupan bermasyarakat. Peran orang tua terhadap anak adalah memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan.
Dalam perkembangan sosial peran orang tua sangat besar, selain memberikan kepercayaan dan kesempatan anak untuk bersosialisasi orang tua juga dapat memberikan penguatan lewat pemberian rangsangan atau pembinaan terhadap perkembangan sosial anak. menurut (Istiadaningsih et al., 2021: 26) peran orang tua adalah tugas atau kewajiban orang tua dalam menjalankan tugas mendidik, mengasuh, dan membimbing anak-anaknya merupakan bentuk tanggung jawab dari orang tua.
Jadi sangat tepat bagi orang tua mengenalkan anak dengan lingkungan luar atau lingkungan sosial agar perkembangan anak dapat berkembang secara optimal, karna apa yang anak pelajari di awal kehidupan akan berdampak pada kehidupan yang akan mendatang.
Kita mengambil contoh dari bayi yang memiliki kecerdasan luar biasa yaitu kenkulus. kenkulus adalah julukan untuk bayi berusia 22 bulan yang bernama Kenneth, putra dari Kevin Immanuel (ayah) dan Chika (ibu), yang sedang menjadi sorotan.
Kenneth diakui sebagai bayi jenius karena kemampuannya yang luar biasa. Karena kenneth ini hafal rumus matematika, mengetahui urutan dan nama planet, bahkan kenkulus hafal organ manusia. Hal ini jelas bahwa kenneth ini bayi yang sangat jenius. Keberhasilan kenneth tidak terlepas dari peran dan dukungan kedua orang tuanya, yang pasti akan menjadi inspirasi banyak orang tua yang ingin memiliki anak cerdas seperti kenneth. Awalnya orang tua kenneth hanya membacakan buku kepada kenneth walaupun kenneth di rasa belum mengerti, karena menurut mama kenneth 1000 hari pertama adalah golden age, tinggal peran orang tuanya saja apa yang dikasih dari orang tua kepada anaknya seperti di bacakan buku, stimulus yang maksimal dan jangan lupa gizi yang seimbang juga mempengaruh tumbuh kembang anak.
Awalnya orang tuanya hanya sering membacakan buku dan menjelaskannya saja namun suatun ketika anak paham dan membuat orang tuanya kenneth terkejut sehingga orang tuanya kenneth menyadari bahwa jika kenneth di ajari akan mengerti karena kenneth memiliki fokus yang sangat baik. Jadi, orang tuanya tetap konsiten menstimulus kenneth dengan buku dan penjelasan yang orang tuanya paham hingga sekarang.
Maka dari peran orang tua sangat penting sekali untuk perkembangan atau tumbuh kembang anak. Tetap konsiten mnegajari anak perlahan-lahan walaupun anak belum paham tetapi percayalah anak akan paham jika orang tua terus-menerus menjarinya.

