
BANJARMASIN – Rencana besar Bank Kalsel untuk segera meluncurkan diri sebagai Bank Devisa mendapat dukungan sekaligus catatan strategis dari kalangan parlemen.
Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) dari Fraksi PKS, Firman Yusi mengusulkan agar Bank Kalsel mulai mengorientasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) secara tematik untuk membangun ekosistem ekspor yang kuat di Banua.
Secara khusus, ia mendorong agar dana tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan tersebut dialokasikan untuk mencetak dan membina wirausaha muda ekspor (young exportpreneurs) di Kalsel.
“Status Bank Devisa ini harus membawa dampak instan dan nyata bagi perekonomian masyarakat bawah. Salah satu cara paling efektif adalah memanfaatkan dana CSR untuk melahirkan eksportir-eksportir baru dari kalangan generasi muda,” ujarnya, Senin (1/6).
Menurut legislator PKS ini, Kalsel memiliki kekayaan potensi alam yang sangat luar biasa dan tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan. Produk pertanian, perkebunan, perikanan, hingga kerajinan khas daerah memiliki peluang pasar yang sangat besar di luar negeri (global).
Sayangnya, potensi yang melimpah ini belum tergarap secara optimal karena minimnya pelaku usaha lokal yang menguasai teknik dan jaringan pasar internasional.
“Permintaan dari negara lain terhadap komoditas non-tambang kita sebenarnya terus mengalir. Masalahnya ada pada pemenuhan standar, kontinuitas produk, dan literasi ekspor. Di sinilah CSR Bank Kalsel bisa masuk, yaitu membiayai pelatihan, pendampingan mutu, hingga membuka akses pasar bagi para wirausaha muda kita,” katanya.
Firman pun menyarankan agar Bank Kalsel segera mempererat sinergi dan melakukan koordinasi yang lebih intensif dengan Dinas Perdagangan Kalsel, agar gagasan besar ini tidak berjalan sendiri-sendiri.
Menurutnya, dinas perdagangan memiliki data pemetaan pasar, regulasi ekspor, serta jaringan yang bisa dikolaborasikan dengan kemampuan finansial dan fasilitas perbankan yang dimiliki Bank Kalsel.
Untuk mewujudkan ekosistem tersebut, ia menjabarkan beberapa langkah konkret yang dapat di akomodasi, antara lain pengembangan Export Academy, yaitu program inkubasi khusus bagi pemuda Kalsel untuk belajar regulasi, kepabeanan, dan strategi mencari pembeli (buyer) luar negeri.
Kemudian, Bantuan Standarisasi Produk, yaitu bantuan pendampingan sertifikasi internasional (seperti organik, halal global, atau sertifikasi mutu lainnya) bagi produk UMKM potensial, dan Fasilitasi Business Matching untuk membantu mempertemukan produk hasil karya wirausaha muda Kalsel dengan calon pembeli dari mancanegara.
“Jika ekosistem ini terbentuk, Bank Kalsel tidak hanya sukses bertransformasi menjadi Bank Devisa secara transaksional, tetapi juga menjadi pahlawan pertumbuhan ekonomi baru yang inklusif di Kalimantan Selatan,” pungkasnya. rds

