
Dalam tradisi lisan masyarakat Banjar, menunaikan ibadah haji sering disebut sebagai memenuhi “panggilan” Nabi Ibrahim. Ungkapan ini tentu memiliki landasan religius yang kuat, terutama berkaitan dengan perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar datang berhaji ke Baitullah sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. Namun demikian, jika ditelaah lebih mendalam, “panggilan” Nabi Ibrahim sesungguhnya tidak hanya terbatas pada ibadah haji dan umrah semata. Dalam berbagai doa yang termaktub dalam Al-Qur’an, khususnya pada Surah Ibrahim ayat 35–41, Nabi Ibrahim memohon banyak hal yang berkaitan dengan kehidupan spiritual, sosial, dan peradaban umat manusia.
Doa-doa tersebut mencakup permohonan agar sebuah negeri menjadi aman, dijauhkan dari kemusyrikan, dikaruniai keturunan yang taat beribadah, dilembutkan hati manusia agar mencintai pusat-pusat ibadah, dianugerahi rezeki yang baik, dilimpahkan kesadaran spiritual, dijadikan bersyukur atas karunia memiliki generasi, hingga permohonan ampunan bagi kedua orang tua dan seluruh orang beriman.
Memenuhi “panggilan” Nabi Ibrahim dapat dimaknai secara lebih luas sebagai upaya mewujudkan nilai-nilai tauhid, membangun kehidupan yang damai dan religius, memakmurkan rumah ibadah, memperkuat institusi keluarga, serta menumbuhkan kepedulian sosial dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Pergi haji hanyalah salah satu manifestasi dari panggilan besartersebut, sementara substansi yang lebih mendasar adalah melanjutkan visi ketauhidan dan peradaban yang diperjuangkan Nabi Ibrahim sepanjang hidupnya.

Suasana Masjidil Haram di Makkah, Arab Saudi, saat ibadah haji.( Foto: mb/Dok. MINA)
Dari isidoa-doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim (seperti tersurat dalam surah Ibrahim ayat 35-41) tergambar bahwa begitu banyak aktivitas yang dapat dikatakan sebagai memenuhi panggilan Nabi Ibrahim, seperti menegakkan shalat, membangun negeri, hingga berdoa untuk keampunan orang tua dan kaum mukminin.
Posisi Nabi Ibrahim dalam syariat Nabi Muhammad
Nabi Ibrahim menempatiposisi yang sangat istimewa dalam syariat Nabi Muhammad. Tidak ada nabi yang namanya—beserta keluarganya—begitu sering disebut dalam ibadah kaumMuslimin selain beliau. Dalam setiap shalat, umat Islam senantiasa membaca salawat Ibrahimiyah pada tahiyyat akhir, sebuah doa yang tidak hanya berisi penghormatan kepada Nabi Muhammad, tetapi juga pengagungan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Bahkan, dalam redaksi salawat tersebut tersirat permohonan agar Nabi Muhammad dan umatnya memperoleh keberkahan, kemuliaan, dan derajat sebagaimana yang telah dianugerahkan Allah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim merupakan figur sentral dalam mata rantai spiritual para nabi dan menjadi teladan utama dalam ketauhidan, pengorbanan, serta kepasrahan kepada Allah.
Keistimewaan Nabi Ibrahim juga tampak dalam Al-Qur’an, di mana namanya diabadikan menjadi salah satunama surah, yaitu Surah Ibrahim, surah ke-14. Tidak hanyaitu, kisah, doa, dan perjuangan beliau tersebar di banyak ayat Al-Qur’an, menandakan besarnya perhatian wahyu terhadap figur beliau. Dalamtradisi Islam, Nabi Ibrahim bukan sekadar tokoh sejarah kenabian, tetapi juga simbol universal tentangkemurnian tauhid, pembangunan peradaban, dan keteladanan keluarga beriman yang jejak spiritualnya terus hidup dalam praktik ibadah umat Islam hingga hari ini.
Ajaran-ajaran Nabi Ibrahim pada hakikatnya memiliki kedudukan yang sangat fundamental dalam syariat Nabi Muhammad. Banyak ajaran pokok dalam Islam sesungguhnya merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari warisan spiritual Nabi Ibrahim. Tauhid yang murni, kepasrahan total kepada Allah, ibadah kurban, haji, pembangunan keluarga yang saleh, doa-doa untuk kebaikan negeri dan keturunan, hingga semangat pengorbanan dan keikhlasan, semuanya menjadi inti ajaran Islam yang terus hidup dalam syariat Nabi Muhammad.
Karena itu, Nabi Ibrahim sering disebut sebagai bapak para nabi dan peletak dasar tradisi tauhid yang diwariskan lintas generasi. Syariat Nabi Muhammad tidak memutus mata rantai ajaran Ibrahim, melainkan mengukuhkan, menyempurnakan, dan menjadikannya sebagai bagian penting dari ibadah umat Islam. Hal ini tampak dalam berbagai ritual utama Islam: salawat Ibrahimiyah dalam shalat, manasik haji yang mengikuti jejak perjuangan keluarga Ibrahim, ibadah kurban yang meneladani keikhlasan beliau dan Nabi Ismail, serta penegasan Al-Qur’an agar umat Islam mengikuti “millah Ibrahim” (agama dan jalanhidup Ibrahim) yang lurus.
Dengan demikian, mengenang Nabi Ibrahim bukan sekadar mengenang tokoh sejarah kenabian, tetapi juga menyadari bahwa nilai-nilai yang beliau perjuangkan telah menjadi ruh dari berbagai ibadah pokok dalam Islam. Setiap Muslim, pada hakikatnya, sedang menapaki jalan spiritual Nabi Ibrahim ketika ia menegakkan tauhid, melaksanakan shalat, berkurban, berhaji, berdoa untuk keluarganya, dan menyerahkan hidupnyasepenuhnya kepada Allah.Itulah “panggilan Nabi Ibrahim”.
Keikhlasan Inti Syariah Nabi Ibrahim
Peristiwakepasrahan Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, yang diabadikan Allah dalam Surah Ash-Shaffatayat 102–111 merupakan inti terdalam dari syariat ketundukan kepada Allah yang diwariskan kepada umat manusia. Peristiwa tersebut menggambarkan puncak keimanan dan kepasrahan seorang hamba dalam menjalankan perintah Tuhan, sekalipun perintah itu sangat berat secara kemanusiaan, yakni penyembelihan seoranganak yang sangat dicintai. Nabi Ibrahim tidak menempatkan cinta kepada anak di atas cinta kepada Allah, sementara Nabi Ismail pun menunjukkan ketulusan luar biasa dengan kesediaannya menerima keputusanTuhan tanpa penolakan.
Kepasrahan yang demikian tulus akhirnya berbuah nikmat dan kemuliaan yang besar. Allah menggantikan Ismail dengan seekor sembelihan yang agung sebagai tanda diterimanya pengorbanan dan keikhlasan mereka. Peristiwa ini menegaskan bahwa dalam setiap ketulusan dan pengorbanan di jalan Allah selalu tersimpan rahmat dan pertolongan-Nya. Karena itu, ibadah kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan simbol pendidikan spiritual tentangkeikhlasan, pengorbanan, dan penyerahan diri secara total kepada kehendak Allah. Di balik pengorbanan yang tampak berat, terdapat kenikmatan iman dan kemuliaan yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang ikhlas.
Pada akhirnya, “panggilan Nabi Ibrahim” bukan hanya seruan untuk datangke Tanah Suci dan menunaikan ibadah haji, tetapi panggilan abadi untuk meneguhkan tauhid, membangun keikhlasan, memperkuat keluarga, memakmurkan ibadah, serta menghadirkan kehidupan yang penuh ketundukan kepada Allah. Jejak spiritual Nabi Ibrahim terus hidup dalam denyut syariat Islam dan mengalir dalam berbagai ritual utama umat Muslim hingga hari ini. Karena itu, semakin seorang Muslim menghayati nilai-nilai pengorbanan, kepasrahan, dan ketulusan yang dicontohkan Nabi Ibrahim, semakin dekat pula ia dengan hakikat ajaran Islam yang sejati. Di tengah kehidupan modern yang sering dipenuhi godaan materialisme dan egoisme, panggilan Nabi Ibrahim sesungguhnya adalah panggilan untuk kembali kepada kemurnianiman, keteguhan tauhid, dan keikhlasan dalam mengabdi kepada Allah.Semoga.

