Mata Banua Online
Selasa, Mei 12, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Saat Berita Mengalah demi Senyum Jamaah

by Mata Banua
11 Mei 2026
in Opini
0
Petugas haji dari Media Center Haji (MCH) menemani dan mengecek identitas seorang ibu yang terpisah dengan anaknya di kawasan Masjidil Haram, Makkah, Minggu (10/05/2026).(foto:mb/web)

Oleh: Citro Atmoko

Bagi para pewarta yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH), penugasan di Tanah Suci bukanlah sekadar ajang unjuk kebolehan mengejar berita atau merangkai kata.

Berita Lainnya

Gubernur Hadiri Haul Jamak Para Muassis Ponpes Ma’arif Assunniyyah

Nasib Kesejahteraan Buruh Dalam Islam

11 Mei 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Menguatkan Peran Perempuan di Tengah Arus Transformasi Digital

10 Mei 2026

Mayoritas dari mereka adalah jurnalis yang sehari-harinya terbiasa berlarian mengejar narasumber, mengetik cepat di tengah hiruk-pikuk peristiwa, dan membidik lensa untuk mendapatkan visual paling eksklusif. Namun, ketika seragam petugas haji berwarna cokelat itu melekat di badan, ada amanah besar yang menuntut dedikasi jauh di atas tenggat waktu redaksi.

Di pelataran Masjidil Haram yang megah dan tak pernah tidur, tugas jurnalistik kerap kali harus mengalah demi satu panggilan mulia, melayani jamaah calon haji.

Tantangan terbesar saat bertugas di Masjidil Haram bukanlah sulitnya mencari narasumber atau merumuskan sudut pandang berita, melainkan menyeimbangkan tugas peliputan dengan rentetan permintaan tolong yang datang silih berganti.

Jamaah tidak tahu bahwa mereka adalah jurnalis. Yang mereka tahu, sosok berseragam cokelat tersebut adalah representasi negara yang siap menjadi tempat menautkan harapan saat mereka dirundung kebingungan di negeri orang.

Permintaan tolong yang datang wujudnya sangat beragam, nyaris tanpa henti. Mulai dari kepanikan anggota jamaah yang terpisah dari rombongannya, suami yang kehilangan jejak sang istri, anak yang panik mencari orang tuanya, hingga mereka yang kebingungan menanyakan arah menuju terminal kepulangan.

Belum lagi ragam urusan teknis seperti anggota jamaah yang meminta bantuan cara menarik uang riyal di mesin ATM, yang kehilangan sandal usai tawaf, yang kelelahan mendorong kursi roda orang tuanya, hingga yang tumbang kelelahan setelah menyelesaikan rangkaian umrah wajib di bawah terik matahari Makkah yang menyengat.

Seiring dengan semakin membeludaknya jamaah calon haji di Makkah, kepadatan di Masjidil Haram pun meningkat drastis. Akibatnya, durasi peliputan petugas MCH menjadi semakin “sulit” dan tersendat. Nyaris tidak ada ruang untuk sekadar berdiri diam merekam video, karena setiap saat selalu ada jamaah yang menghampiri untuk meminta pertolongan.

Salah satu fenomena harian yang paling menguras energi dan pikiran adalah ketidaktahuan jamaah calon haji Indonesia mengenai akses transportasi kembali ke hotel. Banyak jamaah yang belum paham bahwa terdapat tiga terminal utama di sekitar kawasan Masjidil Haram yang dapat diakses, yakni Terminal Syib Amir, Terminal Ajyad, dan Terminal Jabal Ka’bah. Di ketiga titik inilah bus Shalawat bersiaga 24 jam penuh melayani jamaah secara gratis dengan rute yang berbeda-beda.

Namun, banyak jamaah calon haji yang tersasar, baik individu maupun rombongan, karena insting “hanya mengikuti jamaah di depannya”. Sering kali, jamaah yang seharusnya pulang melalui Terminal Syib Amir, terminal krusial yang melayani lebih dari 100 ribu atau separuh lebih jamaah haji Indonesia, justru terseret arus pejalan kaki dan salah arah menuju Terminal Ajyad.

Letak Terminal Ajyad tepat di belakang Zamzam Tower dan memang relatif paling dekat secara jarak dari pelataran Masjidil Haram. Alhasil, para petugas MCH berkali-kali harus memutar otak, menunda liputan, dan berjalan bolak-balik dari pelataran Masjidil Haram ke Terminal Syib Amir demi menuntun jamaah yang kehilangan arah.

Melepas “kacamata kuda”

Di tengah hiruk-pikuk Baitullah, terselip pula beragam kisah lainnya para pewarta di lapangan. Suatu ketika, petugas MCH mendapati seorang ibu lansia duduk termenung sendirian di depan gerbang Masjidil Haram. Gurat ketakutan tergambar jelas di wajahnya yang mulai keriput.

Saat dihampiri dan ditanya mengapa ia sendirian, sang ibu menjawab lirih bahwa ia sedang menunggu suaminya menunaikan shalat Isya. Padahal, kumandang azan Isya masih setengah jam lagi. Naluri kemanusiaan sang petugas seketika mengambil alih.

Petugas itu pun duduk menemani sang ibu sembari menyodorkan makanan ringan. Pertahanan sang ibu seketika runtuh, ia menangis terisak. Air mata itu bukan karena sedih, melainkan rasa lega dan tenang karena di tengah lautan manusia asing, ada sosok berseragam yang peduli menghampirinya.

Di sudut lain, ada pula jamaah calon haji lansia yang langkahnya gontai, tak kuat lagi menopang badan. Wajahnya memerah terpapar panasnya cuaca ekstrem Makkah.

Mengingat jumlah petugas haji yang berjaga di kawasan Masjidil Haram amat terbatas, petugas MCH yang tadinya sedang mengumpulkan bahan liputan pun langsung mengambil alih. Ia membantu mendorong jamaah tersebut menggunakan kursi roda menyusuri kontur jalanan yang menanjak menuju Terminal Jabal Ka’bah.

Namun, tugas rupanya belum usai. Sekembalinya dari terminal ke pelataran masjid, seorang lansia lain sudah menanti untuk dibantu karena kakinya tak sanggup lagi melangkah. Begitu terus, petugas tersebut mendorong kursi roda bolak-balik mengantar jamaah ke terminal hingga empat kali berturut-turut. “Alat tempur” untuk liputan pun dibiarkan tersimpan di dalam tas.

Kisah lain yang tak kalah menyentuh datang dari seorang bapak yang terpaksa berjalan tanpa alas kaki melintasi pelataran yang panas karena kehilangan sandalnya. Petugas yang khawatir kaki sang bapak akan melepuh terluka, dengan sigap mengeluarkan sandal jepit cadangan dari dalam tasnya. Sandal itu memang sengaja ia bawa dari Tanah Air khusus untuk diberikan kepada jamaah calon haji yang kehilangan sendalnya.

Selain urusan logistik dan fisik, petugas MCH juga dituntut sigap menjadi mediator. Pernah suatu ketika, saat antrean masuk Masjidil Haram sedang sangat padat, seorang bapak mengambil gambar barisan askar atau petugas keamanan Arab Saudi. Karena ketatnya aturan otoritas setempat, bapak tersebut langsung ditarik menepi dan ditahan.

Kebetulan, seorang petugas MCH tengah antre tepat di belakangnya. Menyadari sang jamaah sedang dalam masalah, petugas MCH segera maju untuk mendinginkan suasana. Karena askar meminta video di ponsel bapak itu dihapus, petugas pun membantu menghapusnya sembari menenangkan sang bapak.

Petugas lantas memberikan penjelasan kepada askar bahwa bapak tersebut sama sekali tidak mengerti jika mengambil gambar petugas keamanan di area tersebut dilarang keras. Sang bapak akhirnya terbebas dari masalah dan bisa kembali fokus beribadah.

Berada di lapangan sekompleks Masjidil Haram memberikan pelajaran berharga bagi para wartawan yang tergabung di Media Center Haji (MCH). Mereka tidak bisa mengenakan “kacamata kuda” hanya demi kelancaran sebuah peliputan.

Saat menjepretkan kamera ponsel di sekitar Masjidil Haram, berkali-kali petugas harus ikhlas menghentikan pekerjaannya saat pundaknya ditepuk oleh jamaah yang bertanya berbagai macam hal atau memohon pertolongan.

Apakah lelah? Sudah pasti. Pekerjaan utama meracik berita sering kali tidak berjalan mulus seperti standar penugasan pada umumnya. Rencana peliputan bisa buyar seketika saat ada lansia yang kelelahan atau rombongan yang tersesat.

Namun, di balik seragam cokelat yang basah oleh keringat itu, lebih banyak rasa senang yang menyelimuti hati. Lelah menyusuri pelataran Masjidil Haram dan terminal-terminal bus terbayar lunas tanpa sisa, tergantikan oleh senyuman tulus, genggaman tangan yang erat, serta lantunan doa dari para tamu Allah.

Deriak tuts papan ketik atau tangkapan lensa mungkin bisa menciptakan berita yang bagus, tapi memberikan uluran tangan di Tanah Suci adalah jejak amal yang abadi. (ant)

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper