Mata Banua Online
Rabu, April 22, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Andil Kartini Masa Kini dalam Industri Kereta Api

by Mata Banua
21 April 2026
in Opini
0
Sosok Nadhifatul Kamilah (kanan) saat bertugas di Unit Welding Examination and Inspection”di PT INKA (Persero) di Kota Madiun, Jawa Timur.(foto;mb/ant)

Oleh : Louis Rika Stevani

Siang itu, suasana workshop bagian welding atau pengelasan di PT Industri Kereta Api atau PT INKA (Persero) yang ada di Kota Madiun, Jawa Timur, berlangsung normal, seperti biasa.

Berita Lainnya

Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Mendorong Daya Saing UMKM Melalui Penguatan Industri Halal

21 April 2026
Ikhtiar Jakarta Entaskan Kemiskinan dengan Memudahkan Akses Pendidikan

Ikhtiar Jakarta Entaskan Kemiskinan dengan Memudahkan Akses Pendidikan

20 April 2026

Suara bising, perpaduan mesin dengan plat baja yang dipotong, disambung, dan dilas terdengar dari aktivitas para kru yang terlatih dalam mengerjakan tugasnya. Kegiatan pengelasan itu untuk membentuk bagian komponen-komponen penting dari proyek pembuatan kereta api.

Di antara para kru dan percikan api yang keluar dari nyala busur las listrik, saat melelehkan logam tersebut, terlihat sosok Nadhifatul Kamilah, sedang mengecek hasil pengelasan yang dikerjakan.

Kartini masa kini itu terlihat cekatan. Dengan teliti, perempuan tersebut melakukan inspeksi visual untuk melihat hasil las yang dilakukan krunya guna menilai tingkat kerapian, pengukuran dimensi, penetrasi, kekuatan, hingga ketahanan sambungan.

Sesekali tangannya yang memegang spidol putih dan senter menandai beberapa bagian pada hasil yang kurang pas untuk ditindaklanjuti.

Perempuan kelahiran Kabupaten Tuban tersebut merupakan manufacturer data report (MDR) Unit Welding Examination and Inspection di PT INKA yang tugasnya, di antaranya melakukan kontrol kualitas pengelasan guna memastikan sesuai standar proyek BUMN pembuat kereta tersebut.

Pekerjaannya membutuhkan keahlian khusus. Lulusan D4 Teknik Pengelasan, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya tersebut sangat menyukai profesinya yang terlibat langsung dalam pembuatan kereta api di sejumlah proyek INKA.

Anak kedua dari tiga bersaudara itu berasal dari keluarga pegawai pemerintahan. Sang ayah adalah pensiunan pegawai negeri sipil, sedangkan ibu masih aktif sebagai PNS.

Selain memiliki keahlian khusus, profesi yang digelutinya, saat ini juga merupakan pilihan karir yang strategis, tanpa memandang gender. Karenanya, ia mendapatkan kesempatan yang sama dengan pekerja laki-laki dalam berkontribusi memproduksi kereta yang menjadi kebanggaan bangsa, demikian ungkap perempuan yang akrab disapa Ipeh itu, kepada ANTARA.

Dalam industri manufaktur, ia sadar bahwa lingkungan kerjanya merupakan mayoritas kaum maskulin. Meski demikian, Ipeh memastikan diri untuk berkarya dengan profesional, berkompeten, dan berdedikasi tinggi.

Terlebih, dalam teknik pengelasan, dibutuhkan beberapa hal penting yang harus dipenuhi, utamanya dalam standar perusahaan di bawah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, mulai dari keselamatan kerja, persiapan material, sampai evaluasi hasil akhir.

Berkarya tanpa batas

Dalam proyek pembuatan kereta di ruang-ruang INKA, dibutuhkan proses desain, produksi, hingga kontrol kualitas yang dijalankan, sesuai dengan standar dan kompeten.

Adalah sosok Fitria Nofita Sari. Perempuan yang bertugas sebagai quality inspector final inspection and testing di INKA tersebut menilai kemampuan seseorang tidak dibatasi oleh status gender.

Siapapun boleh berkarya tanpa batas untuk menjawab tantangan industri perkeretaapian dan transportasi yang semakin dinamis.

Lulusan D4 Perkeretaapian Politeknik Negeri Madiun tersebut memiliki tugas sangat penting dalam memastikan seluruh rangkaian kereta api memenuhi standar kualitas, keamanan, dan fungsionalitas, sebelum diserahterimakan kepada pelanggan.

Di tempat workshop yang didominasi kaum laki-laki, Fitria mengaku memiliki tantangan untuk selalu beradaptasi, sekaligus mendapatkan pengalaman baru yang membuka wawasannya.

Dalam menekuni profesi, perempuan asal Kabupaten Magetan itu tidak hanya melakukan kontrol kualitas bagian interior kereta, melainkan harus secara keseluruhan. Maka, berada di bawah kereta yang “kotor” sambil mengecek bagian bogie, bukan merupakan hal yang canggung bagi Fitria.

Bogie merupakan komponen krusial kereta api yang berfungsi sebagai penopang badan kereta, peredam getaran, dan pemandu roda agar tetap stabil melintasi rel. Sehingga, pengecekan bagian tersebut harus dilakukan dengan cermat dan tepat.

Dalam konteks ini, standar kontrol yang dilakukannya bukan lagi soal kewajiban, melainkan bentuk komitmen terhadap kualitas. Di antaranya tentang fungsional terhadap komponen kereta serta pengecekan visual dan dimensi pada berbagai komponen fabrikasi guna memastikan agar sesuai dengan desain dan memenuhi standar.

Situasi proses produksi kereta api di salah satu workshop PT INKA (Persero) di Kota Madiun, Jawa Timur. ANTARA/Louis Rika

Manufaktur perkeretaapian

Bagi Ipeh dan Fitria, Kartini masa kini bukan hanya soal emansipasi atau sejarah belaka, tetapi lebih merupakan kesempatan bagi para wanita Indonesia seluruhnya untuk mendapatkan pendidikan dan berkarir setara dengan pria, sesuai minat dan kemampuan.

Mereka melihat, saat ini mulai banyak muncul keterlibatan perempuan dalam dunia manufaktur, teknik, hingga teknologi lainnya, yang identik dengan dunia laki-laki.

Menurut mereka, wanita saat ini sangat boleh untuk berkarir di ladang apa saja, bahkan yang selama ini terstigma sebagai ruang khusus laki-laki, dengan kerja kasar maupun berat. Citra mengenai bengkel atau workshop yang melekat kuat, kini tak hanya milik kaum laki-laki.

Industri manufaktur tidak hanya tentang tenaga fisik, tetapi juga soal inovasi, kecerdasan, dan ketelitian. Dengan kesempatan yang sama, kaum perempuan bisa menjadi aset yang hebat.

Seiring dengan semangat Kartini yang tak pernah padam, telah menciptakan kesetaraan gender bagi perempuan untuk berkontribusi, sesuai kemampuan dan potensi.

Mengaku fokus dengan apa yang dikerjakan, Ipeh dan Fitria merupakan cerminan pejuang emansipasi wanita di era masa kini.

Sejatinya, di balik produk kereta buatan INKA yang dipercaya masyarakat, setiap tahapan yang dijalani ada andil para perempuan hebat yang berkiprah dengan penuh ketekunan, ketelitian, konsistensi, dan komitmen terhadap kualitas sebagai penjaga standar.

Semakin berbobot kontribusi para “Kartini” ini dalam proses pembuatan kereta api, maka akan semakin banyak perempuan lain yang menjadikannya sebagai sosok penuh inspirasi. (ant)

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper