Mata Banua Online
Jumat, April 17, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Bea Cukai Batasi Barang Bawaan Haji Furoda

by Mata Banua
16 April 2026
in Ekonomi & Bisnis
0

JAKARTA – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) memberikan fasilitas pembebasan bea ma­suk dan pajak atas barang kiriman jemaah ha­ji hingga US$3.000, tetapi insentif itu tak ber­laku bagi jemaah haji furoda.

Kepala Seksi Impor III Di­rek­torat Teknis Kepabeanan DJBC, CindhMarjuang Praja me­ng­atakan pembebasan bea masuk ter­sebut merupakan bentuk ap­re­siasi pemerintah terhadap je­ma­ah haji Indonesia yang berjuang ke­ras mengupayakan ibadah de­ng­an biaya besar dan antrean be­ra­ngkat yang panjang.

Berita Lainnya

Kalsel Ekspor Produk Ikan Segar

Kalsel Ekspor Produk Ikan Segar

16 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Turun

Harga Emas Antam Kembali Turun

16 April 2026

Marjuang menjelaskan pem­be­basan bea masuk diberikan un­tuk barang kiriman jemaah haji den­gan total nilai maksimal US$3.000 atau sekitar Rp51,39 ju­ta (kurs Rp17.130) per orang da­lam satu periode haji. Namun, pe­ng­iriman dibatasi hanya dua ka­li, dengan masing-masing pe­ng­iriman maksimal US$1.500.

Menurutnya, skema ini di­se­suaikan dengan pola perjalanan je­maah yang umumnya berada di dua kota suci, yakni Makkah dan Ma­dinah, sehingga me­mu­ng­kin­kan pengiriman dilakukan dari ma­sing-masing lokasi.

Selain itu, terdapat batasan wak­tu pengiriman, yakni mulai da­ri keberangkatan kloter pertama hi­ngga maksimal 30 hari setelah ke­pulangan kloter terakhir.

Marjuang menambahkan, apa­bila nilai atau frekuensi pe­ng­iriman melebihi ketentuan, ma­ka atas kelebihannya akan di­k­e­n­­akan bea masuk sebesar 7,5 per­sen serta pajak pertambahan ni­lai (PPN) sesuai aturan yang ber­laku.

Meski demikian, fasilitas ter­se­but hanya berlaku bagi jemaah haji yang berangkat melalui jalur kuo­ta, yakni haji reguler dan haji khu­sus (ONH Plus). Sementara jemaah non-kuota atau yang ke­rap disebut haji furoda tidak ter­ma­suk dalam skema pembebasan ini.

“Jemaah haji ini terdaftar, ar­tinya secara data ada di pe­me­rin­tah resmi. Karena data ini pen­ting untuk melakukan validasi. Ma­na yang harus diberikan fa­si­li­tas, mana yang tidak,” katanya d­a­lam kegiatan edukasi pe­la­yanan dan fasilitas kepabeanan ba­gi jemaah haji yang digelar se­ca­ra virtual pada Kamis (16/4).

DJBC juga mengatur se­jum­lah ketentuan teknis, di antaranya ke­­wajiban mencantumkan iden­ti­tas jemaah berupa nomor pas­por dalam dokumen pengiriman, ser­ta batas dimensi paket ma­k­si­mal 60 cm x 60 cm x 80 cm.

Selain itu, terdapat batasan wak­tu pengiriman, yakni mulai da­ri keberangkatan kloter pertama hi­ngga maksimal 30 hari setelah ke­pulangan kloter terakhir.

Marjuang menambahkan apa­bila nilai atau frekuensi pe­ng­i­rim­an melebihi ketentuan, maka atas kelebihannya akan di­ke­na­kan bea masuk sebesar 7,5 per­sen serta pajak pertambahn nilai (PPN) sesuai aturan yang ber­laku. rep/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper