
JAKARTA – Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga logam mulia di dalam negeri berpotensi menembus Rp3,1 juta per gram dalam sepekan ke depan. Proyeksi ini ditopang potensi penguatan harga emas dunia yang diperkirakan melampaui level psikologis 5.000 dolar AS pe troy ounce.
Harga emas dunia pada Sabtu (11/4) pagi tercatat di level 4.749 dolar AS per troy ounce. Di pasar domestik, harga logam mulia berada di kisaran Rp2.860.000 per gram dengan kecenderungan bergerak fluktuatif mengikuti dinamika global.
“Dalam sepekan ke depan, harga emas dunia berpotensi menembus di atas 5.000 dolar AS per troy ounce hingga 5.138. Harga logam mulia bisa mendekati Rp3.100.000 per gram,” kata Ibrahim.
Ia menjelaskan, pergerakan harga emas dalam waktu dekat cenderung melebar. Pada sisi bawah, harga emas berpotensi terkoreksi hingga 4.638 dolar AS per troy ounce, bahkan dapat turun lebih dlam ke 4.358 dolar AS dalam skenario tekanan yang lebih kuat.
Di pasar domestik, harga logam mulia diperkirakan dapat turun ke Rp2.840.000 per gram pada fase koreksi awal. Penurunan lanjutan membuka peluang harga bergerak ke kisaran Rp2.780.000 per gram. “Dalam sepekan, penurunan bisa terjadi hingga 4.358 dolar AS per troy ounce,” ujar Ibrahim.
Pada sisi atas, harga emas memiliki ruang penguatan dengan resistance awal di level 4.897 dolar A per troy ounce. Kenaikan ini berpotensi mendorong harga logam mulia ke Rp2.880.000 per gram sebelum melanjutkan tren lebih tinggi.
Pergerakan harga yang lebar tersebut dipengaruhi perkembangan geopolitik global, terutama dinamika di kawasan Timur Tengah. Rencana perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan menjadi salah satu faktor utama yang dicermati pelaku pasar. “Jika terjadi gencatan senjata, harga minak berpotensi turun dan berdampak pada pergerakan emas,” ucap Ibrahim.
Ia menilai, meredanya konflik dapat menekan inflasi global dan membuka ruang bagi bank sentral Amerika Serikat untuk menurunkan suku bunga. Kondisi ini berpotensi meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Risiko tetap tiggi apabila perundingan tidak mencapai kesepakatan. Gangguan distribusi energi di jalur strategis seperti Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dan memperkuat dolar AS. “Jika konflik berlanjut dan distribusi minyak terganggu, dolar bisa menguat dan inflasi meningkat,” kata Ibrahim.
Di sisi lain, pelemahan rupiah yang diperkirakan masih bertahan di atas level 17.000 per dolar AS ikut mendorong harga logam mulia di dalam negeri. Permintaan emas oleh bank sentral global juga meningkat sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa.
Pergerakan harga logam mulia dalam waktu dekat akan sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Pasar menunggu kepastian dari dinamika konflik dan kebijakan ekonomi untk menentukan arah selanjutnya. rep/mb06

