Mata Banua Online
Selasa, April 14, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Merawat Sehat, Merawat Makna di Usia Lanjut

by Mata Banua
13 April 2026
in Opini
0
Sadimin, S.Si.T, M.Kes (Dosen Jurusan Kesehatan Gigi Poltekkes Kemenkes Semarang)

Menua adalah keniscayaan biologis sekaligus kenyataan sosial yang tidak dapat ditawar. Namun menjadi tua tidak identik dengan menjadi sakit, tidak berdaya, atau tersisih. Dalam konteks Indonesia hari ini—ketika angka harapan hidup terus meningkat dan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) bertambah signifikan—isu kesehatan lansia bukan lagi persoalan pinggiran, melainkan agenda strategis bangsa. Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana memperpanjang usia, tetapi bagaimana memastikan usia yang panjang itu tetap sehat, bermartabat, dan bermakna.

Kesehatan merupakan fondasi utama dalam setiap fase kehidupan. Saat tubuh sehat, seseorang dapat bekerja, beribadah, berinteraksi sosial, bahkan berkontribusi bagi masyarakat. Sebaliknya, ketika kesehatan menurun, ruang gerak menjadi terbatas dan kualitas hidup pun tereduksi. Pada usia lanjut, tantangan menjaga kesehatan memang semakin kompleks. Penurunan sistem imun, melemahnya fungsi organ, serta melambatnya proses regenerasi sel merupakan bagian dari proses penuaan yang alamiah. Sel-sel tubuh yang dahulu tangguh kini tak lagi secepat dulu memperbaiki diri. Inilah realitas biologis yang harus diterima, namun bukan untuk disesali.

Berita Lainnya

Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

Ideologi Di Era Digital

13 April 2026
Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

Pelajar Jadi Pengedar: Prihatin Tak Cukup, Perlu Kerjasama Semua Pihak

13 April 2026

Masalahnya, penuaan biologis kerap diperberat oleh akumulasi gaya hidup tidak sehat di masa muda. Pola makan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, stres berkepanjangan, serta minimnya istirahat adalah “utang kesehatan” yang sering kali baru ditagih saat seseorang memasuki usia senja. Tidak mengherankan jika penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, gangguan kardiovaskular, hingga penyakit sendi mendominasi keluhan lansia saat ini. Dalam konteks kekinian, beban penyakit kronis ini bahkan semakin berat akibat perubahan pola hidup masyarakat urban yang serba cepat dan instan.

Namun kesehatan lansia tidak semata-mata soal fisik. Proses menua juga membawa perubahan kognitif dan psikososial. Secara biologis, massa otak dapat berkurang sekitar 5–10 persen pada usia lanjut. Penurunan ini berpengaruh terhadap daya ingat, kecepatan berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan. Salah satu kondisi yang banyak diperbincangkan adalah Alzheimer, penyakit degeneratif yang menyebabkan kemunduran daya ingat, gangguan perilaku, serta perubahan kepribadian. Tanda-tandanya bisa sederhana: lupa menyebutkan kata, lupa melakukan aktivitas rutin seperti mengenakan pakaian atau menyikat gigi, hingga perubahan suasana hati yang drastis.

Meski demikian, kepikunan bukanlah vonis yang sepenuhnya tak dapat diperlambat. Ilmu kesehatan modern menunjukkan bahwa stimulasi mental yang konsisten dapat membantu menjaga fungsi kognitif. Membaca, berdiskusi, bermain catur, menulis, berkebun, hingga mengikuti kegiatan sosial terbukti mampu “mengaktifkan” sel-sel otak agar tetap bekerja. Prinsipnya sederhana: organ yang jarang digunakan akan lebih cepat mengalami penurunan fungsi. Karena itu, lansia perlu terus dirangsang untuk berpikir, berinteraksi, dan berkarya.

Aktivitas fisik pun menjadi pilar penting. Tentu bukan olahraga berat yang menguras energi, melainkan aktivitas terukur seperti jalan kaki, bersepeda santai, senam lansia, atau latihan peregangan. Aktivitas ini tidak hanya menjaga kebugaran jantung dan pembuluh darah, tetapi juga membantu menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah risiko jatuh—salah satu penyebab kecacatan pada lansia. Pola makan pun harus disesuaikan. Sistem pencernaan yang tidak lagi sekuat masa muda menuntut asupan yang lebih lembut, bergizi seimbang, rendah garam, rendah gula, dan cukup serat.

Di luar aspek biologis, lansia juga menghadapi perubahan peran sosial. Masa pensiun sering kali dimaknai sebagai “berhenti”, padahal sejatinya ia hanya perubahan fase. Banyak lansia mengalami kecemasan karena kehilangan jabatan, penghasilan tetap, atau lingkaran pergaulan kerja. Perasaan tidak lagi dibutuhkan dapat memicu stres bahkan depresi. Dalam situasi seperti ini, dukungan keluarga menjadi faktor protektif yang sangat penting. Kehadiran anak dan cucu, perhatian sederhana, serta komunikasi yang hangat dapat menjadi “obat” psikologis yang tak ternilai.

Islam sendiri memberikan penghormatan tinggi kepada orang tua dan lansia. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda: “Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang muda dan tidak menghormati yang tua.” (HR. Tirmidzi). Pesan ini menegaskan bahwa memuliakan lansia bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari ajaran moral dan spiritual. Dalam konteks kekinian, penghormatan itu harus diwujudkan dalam bentuk nyata: akses layanan kesehatan yang ramah lansia, ruang publik yang inklusif, serta kebijakan sosial yang melindungi hak-hak mereka.

Lebih jauh, lansia tidak seharusnya diposisikan sebagai beban. Paradigma ini perlu diubah. Banyak lansia yang masih produktif, memiliki pengalaman panjang, kearifan, dan jejaring sosial yang luas. Dengan sedikit dukungan, mereka dapat tetap berkarya—berkebun, membuka usaha kecil, menjadi relawan, bahkan berbagi ilmu kepada generasi muda. Konsep “active ageing” atau penuaan aktif yang kini didorong secara global menekankan pentingnya partisipasi lansia dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan spiritual.

Pemerintah melalui berbagai program pemberdayaan lansia sebenarnya telah berupaya menciptakan ruang tersebut. Posyandu lansia, klub senam, hingga pelatihan kewirausahaan merupakan langkah positif. Namun tantangan ke depan adalah memastikan program itu berjalan berkelanjutan dan menjangkau hingga ke tingkat desa. Tanpa intervensi yang sistematis, ledakan jumlah lansia di masa depan dapat menjadi persoalan serius, baik dari sisi kesehatan maupun pembiayaan sosial.

Pada akhirnya, sehat di usia lanjut bukanlah hasil kerja semalam. Ia adalah akumulasi dari pilihan-pilihan hidup sejak muda. Namun bagi mereka yang telah berada di usia senja, harapan tetap terbuka. Dengan menjaga aktivitas fisik, merawat kesehatan mental, memperkuat spiritualitas, serta membangun dukungan keluarga dan komunitas, usia lanjut dapat menjadi fase yang damai dan bermakna.

Menua bukan tentang menunggu waktu berlalu, melainkan tentang memaknai sisa waktu dengan kualitas terbaik. Di situlah letak kemuliaan usia lanjut: bukan pada berapa lama seseorang hidup, tetapi pada bagaimana ia menjalani hidupnya—tetap sehat, tetap berguna, dan tetap dihormati.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper