Mata Banua Online
Senin, April 13, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Manuver Politik

by Mata Banua
12 April 2026
in Opini
0

Oleh : Zahra Kamila

Manuver politik adalah tindakan yang dilakukan oleh negara demi meraih tujuan tertentu yang berbeda dengan tujuan yang ditampakkan secara kasat mata oleh tindakan yang dimaksud. Dengan kata lain, manuver politik dilakukan demi merahasiakan tujuan sebenarnya.

Berita Lainnya

Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

Demo No Kings, Kebangkrutan AS dan Penegakan Sistem Pemerintahan Islam

12 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Demo NoKings, Kebangkrutan Amerika Serikat dan Penegakan Khilafah

12 April 2026

Manuver politik Barat yaitu manuver politik negara-negara Barat kapitalis, khususnya Amerika. Negara-negara Barat kapitalis dengan AS sebagai gembongnya melakukan manuver politik dalam semua kevel. Sebab, bagi mereka, manuver politik sudah merupakan metode baku (thariqah) untuk melakukan tipudaya, memanipulasi kebenaran, sekaligus mengisap dan menjajah bangsa-bangsa serta mengeksploitasi kekayaan mereka. Prinsip mereka yang terkenal, yakni, “menghalalkan segala cara demi meraih tujuan,” menjadi dasar bagi setiap manuver politik yang mereka lakukan.

Negara-negara Barat kapitalis, dengan AS sebagai gembongnya, pada dasarnya biasa melakukan manuver politik dalam seluruh aspek: pemikiran, tindakan, maupun sarana. Baik dalam hal-hal yang prinsipil maupun yang bukan, baik dalam hal-hal yang bersifat politik maupun bukan. Semua itu didasarkan pada alasan adanya perkembangan dan perubahan situasi dan kondisi politik ataupun yang lainnya, selain tentu saja didasarkan pada “tujuan menghalalkan segala cara”.

Tujuannya adalah dalam rangka melakukan penyesatan serta manipulasi pemikiran dan politik, juga dalam rangka melakukan ekploitasi atas bangsa-bangsa yang ada demi memenuhi berbagai kepentingan mereka.

Dalam level pemikiran, AS melakukan manuver politik secara real dan praktis di seputar gagasan tentang demokrasi, kebebasan, egalitarianisme (persamaan), sekularisme, dan seluruh pemikirannya yang kapitalistik, juga dalam sejumlah pemikiran tentang HAM, terorisme, oposisi, pluralisme, dialog antaragama dan antar peradaban, kemerdekaan, tata dunia baru, PBB, serta seluruh pemikiran strategisnya yakni menyangkut berbagai tindakan dan sarana yang berkaitan erat dengan berbagai pemikiran kapitalistiknya.

Secara konseptual/teoritis, pemikiran-pemikiran kapitalisme di atas memiliki maksud, makna, dan tujuan tertentu (yang dikesankan mulia). Akan tetapi, dalam tataran praktis, ideologi kapitalisme menghalalkan adanya penyimpangan terhadap pemikiran-pemikirannya.

Gagasan demokrasi, misalnya, secara teoritis menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi dalam negara. Akan tetapi, secara praktis, di AS dan Inggris sendiri (yang notabene negara demokrasi garda depan) , yang berdaulat sesungguhnya adalah kaum kapitalis khususnya. Penyimpangan pemikiran semacam ini memang di perlukan demi mengeksploitasi bangsa-bangsa mereka semata-mata demi kepentingan kaum kapitalis.

Karena itu, meskipun secara teoritis AS , misalnya, sering berteriak dan koar-koar tentang demokrasi, HAM, kemerdekaan, dan sebagainya, tetapi secara praktis AS melakukan sejumlah tindakan yang justru antidemokrasi, melanggar HAM, dan tidak jarang sangat otoriter.

Serangan AS atas Iran, sejak akhir Februari 2026, Venezuela Januari 2026, Suriah sejak akhir 2025 hingga awal 2026 dan masih banyak lagi yang lainnya adalah contoh paling mutakhir dari tindakan AS yang nenyalahi gagasan demokrasi dan HAM yang diembannya .

AS juga sering melakukan berbagai tekanan, perampasan, penguasaan secara paksa, menyalakan api permusuhan, menciptakan berbagai krisis, serta membuat berbagai perangkap yang semua itu dibungkus dengan berbagai pemikirannya yang destruktif (merusak), baik secara konseptual maupun praktis.

Karena itu, kapitalisme dan seluruh bangunan pemikirannya pada dasarnya berbahaya dan merupakan pemikiran yang dapat membunuh manusia, karena mereka dalam hal inilah para kapitalis dan bangsa Amerika melegalkan hegemoni dan dominasi atas bangsa-bangsa di dunia.

Dengan itu, para kapitalis menumpahkan darah bangsa-bangsa yang ada di dunia, memanfaatkan kelemahan mereka, serta mengeksploitasi potensi dan kekayaan mereka sehingga bangsa-bangsa tersebut dijadikan oleh mereka semacam budak.

Berbeda dengan manuver politik dalam Islam. Manuver politik yang dilakukan negara Islam adalah terbatas dalam tindakan, tidak dalam hal-hal yang bersifat prinsipil atau berupa pemikiran.

Pada masa lalu, sebagai kepala negara, Rasulullah SAW juga melakukan sejumlah manuver politik. Di antaranya adalah pembentukan pasukan saraya yang dilakukan beliau pada masa-masa akhir tahun pertama hijrah dan masa-masa awal tahun kedua hijrah.

Manuver politik dalam Islam untuk melakukan kejujuran, mensejahterakan, dan yang pasti untuk meraih tujuan dengan cara yang ma’ruf.

Untuk melepaskan diri dari bahaya tindakan kaum kapitalis ini dan mengalahkan mereka hanya mungkin dilakukan dengan cara bersikap istiqamah, karena itu, upaya menentang berbagai tindakan busuk dan sarana kaum kapitalis ini dalam medan politik tidak cukup dengan cara mengalahkan mereka, membangkitkan perlawanan, dan memerdekakan diri pada diri setiap bangsa dari setiap hegemoni, imperialisme, dan perang yang mereka kobarkan, tidak juga cukup dengan menghancurkan kekuatan mereka. Sebab, pada faktanya, kaum kapitalis hanyalah salah satu buah dari pemikiran kapitalisme yang rusak dan busuk. Karena itu, upaya melawannya harus di mulai dari akar hingga rantingnya, yakni memberangus ideologi kapitalisme itu sendiri serta para pengembannya yang berusaha menyebarluaskan ideologi tersebut melalui jalan imperialisme dan hegemoni atas bangsa-bangsa lain.

Dengan melihat paparan di atas, jelas bahwa ada perbedaan mendasar antara manuver politik Islam dan manuver politik yang dikembangkan dalam kapitalisme. Islam tidak mengenal manuver dalam hal pemikiran dan tindakan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat ideologis. Bahkan sebaliknya, hakikat pemikiran dan aspek-aspek ideologis Islam justru harus ditampilkan secara jelas dan tegas, tidak boleh ada penyimpangan ataupun manipulasi sedikitpun semata-mata demi meraih tujuan. Kita juga tidak boleh berusaha mempertemukan Islam dan demokrasi, dua hal yang memang mustahil dipertemukan hanya karena takut dicap antidemokrasi. Semua itu tidak dapat dikategorikan sebagai manuver politik yang dibenarkan Islam. Sebab, Islam mengharamkan upaya menghalalkan segala cara dalam manuver politik.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper