Mata Banua Online
Jumat, April 10, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Petani Curhat Gula Rafinasi Impor Banjiri Pasar

by Mata Banua
9 April 2026
in Ekonomi & Bisnis
0
(foto:mb/web)

JAKARTA – Menteri Pertanian (Men­tan) Andi Amran Sulaiman me­ng­aku menerima laporan dari pe­tani mengenai gula rafinasi im­por yang seharusnya di­pe­run­tuk­kan bagi kebutuhan industri, te­tapi justru membanjiri pasar.

Kondisi tersebut muncul se­te­lah terungkap produksi gula na­sional masih menurun, se­da­ng­kan produk turunannya se­per­ti molase justru sulit terserap pa­sar.

Berita Lainnya

Beras 5 Kg Tak Sesuai Takaran

Harga Buyback Emas Antam Naik 10,38 Persen

9 April 2026
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp85.200

Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp85.200

9 April 2026

Amran mengungkap harga mo­lase terus turun sejak awal 2025 hingga Maret 2026. Se­te­lah sempat mencapai Rp1.980 per liter pada Februari 2025, har­ga melemah hingga sekitar Rp1.024 per liter pada Maret 2026.

“Produksi kita kurang, tapi mo­lase gula tidak bisa laku. Di Ja­wa Timur itu terjadi di Ok­to­ber, tidak bisa laku. Ada ano­ma­li di situ,” kata Amran dalam ra­pat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Se­na­yan.

Gula rafinasi yang se­ha­rus­nya untuk kebutuhan industri jus­tru masuk ke pasar konsumsi. Bah­kan, menurut Amran, bukan se­kadar bocor, tetapi membanjiri pa­s­ar. “Kalau bocor (jumlahnya) se­dikit. Ini banjir. Nah itu terjadi, ka­mi langsung ditelepon, ada la­por­an dari petani, itu rafinasi ya­ng langsung masuk ke lapangan, ke pasar,” ujar Amran.

Amran mengatakan laporan ban­jir gula rafinasi datang dari se­jumlah wilayah seperti Jawa Te­ngah, Kalimantan Timur, dan Su­lawesi Selatan. Rembesan gula ra­finasi tersebut kemudian dijual se­ba­gai gula konsumsi.

Menurut dia, hal tersebut ter­jadi karena tingkat keputihan gu­la rafinasi impor memiliki standar International Com­mi­s­si­on for Uniform Methods of Su­gar Analysis (ICUMSA) yang mi­rip dengan gula putih pro­duk­si lokal.

“Rembesannya kita di­ta­ng­kap di Jawa Tengah, kemudian Ka­limantan Selatan dan beberapa dae­rah lainnya. Gula rafinasi, te­tapi dimasukkan ke pasar se­ba­gai white sugar atau gula kon­sumsi. Ini membahayakan,” ujar Amran.

Selain itu, Amran juga me­ne­mukan tebu ratoon sudah da­lam kondisi tidak layak produksi se­besar 70 hingga 80 persen.

Ia mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah me­ng­a­rahkan pembongkaran ratoon se­luas 300 ribu hektare dari total se­kitar 500 ribu hektare tanaman lama.

Rencana bongkar akan di­lakukan bertahap sekitar 100 ribu hektare per tahun selama ti­ga tahun. Anggaran yang d­si­ap­kan untuk 2025 sebesar Rp1,7 triliun. Tahun ini, ia tidak me­njelaskannya secara detail.

Melalui revitalisasi ini, pe­me­rintah menargetkan Indonesia bi­sa swasembada gula putih pa­ling lambat pada 2027.

Amran menyebut saat ini se­li­sih antara produksi dan k­e­bu­tuh­an gula konsumsi nasional ti­ng­gal sekitar 200 ribu ton. Pro­duk­si gula berada di kisaran 2,6 juta ton-2,7 juta ton, sedangkan konsumsi mencapai sekitar 2,8 juta ton-2,9 juta ton per tahun. cnn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper