JAKARTA – Kenaikan harga bahan baku plastik hingga 50% akibat eskalasi di Timur Tengah mulai menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi ini memicu keluhan dari pelaku usaha, terutama yang bergantung pada kemasan plastik.
Menteri UMKM Maman Abdurrahman menyampaikan bahwa pemerintah telah menerima aspirasi dari pelaku UMKM terkait lonjakan harga tersebut.
Maman menuturkan, pihaknya telah menugaskan jajaran eselon I untuk berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mencari solusi atas keaikan harga bahan baku plastik yang berasal dari turunan minyak mentah.
Dia menjelaskan, kenaikan harga plastik tidak terlepas dari lonjakan harga bahan baku berbasis minyak di pasar global. Hal ini berdampak langsung terhadap biaya produksi UMKM, khususnya sektor makanan dan minuman (mamin) yang membutuhkan kemasan plastik.
Maman menyebut, pemerintah masih membahas mitigasi bagi UMKM imbas lonjakan harga bahan baku plastik di tingkat antarkementerian. Dia menilai masih terlalu dini untuk meminci kebijakan tersebut.
Meski begitu, Maman memastikan pemerintah akan menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan usaha pelaku UMKM di tengah tekanan kenaikan biaya bahan baku. “Seperti apa langkah-langkahnya, saya pikir terlalu dini untuk saya kasih jawaban, walaupun kita sudah tahu langkah-langkahnya seperti apa, tetapi saya pikir biarkan dulu ini menjadi pembicaraan di tim eselon I, eselon II,” jelasnya. Sebelumnya, Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) mencatat lonjakan harga bahan baku plastik sudah merembet ke ingkat konsumen.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chevalier mengatakan, kondisi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas di tengah daya beli masyarakat yang sudah melemah. Dia menjelaskan kenaikan biaya bahan baku plastik ini secara otomatis mengerek biaya produksi industri hilir, yang kemudian diteruskan ke harga produk akhir seperti kemasan makanan dan minuman (mamin), hingga produk farmasi.
“Kantong-kantong kresek saja yang tadinya harga berapa, sekarang sudah naik hampir 50% harganya,” kata Henry .
Henry menjelaskan, penutupan Selat Hormuz telah memicu gangguan srius pada rantai pasok bahan baku plastik. Kondisi ini membuat pelaku usaha tidak berani melakukan kontrak dengan pelanggan karena risiko kelangkaan pasokan, meskipun secara finansial mereka masih mampu.
Di sisi lain, upaya impor bahan baku plastik juga terganggu. Bahkan, dia menuturkan, perusahaan asuransi disebut enggan menanggung pengiriman yang melintasi Selat Hormuz sehingga pelayaran turut menahan risiko. Akibatnya, arus pasokan semakin terhambat.
Bukan hanya itu, negara pemasok di Asia seperti China, Thailand, dan Vietnam kini lebih memprioritaskan kebutuhan domestik dan mulai membatasi ekspor. Sejumlah negara bahkan menahan pasokan untuk menjaga ketersediaan dalam negeri. Imbasnya, pasokan bahan baku plastik di dalam negeri berada pada level yang tidak aman. rep/mb06

