
BANJARMASIN – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjarmasin H Harry Wijaya menyatakan dukungan program olah sampah menjadi energi listrik yang mulai dirintis pemerintah kota setempat dengan kerja sama dua kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Banjar dan Barito Kuala.
“Kami menyambut baik pertemuan tiga kepala daerah untuk koordinasi dan sinergi mewujudkan bersama program dari pemerintah pusat tersebut,” ujarnya di Banjarmasin, Senin.
Sebagaimana diketahuinya, Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar dan Kabupaten Barito Kuala sebagai salah satu lokasi pilot project nasional untuk transformasi sampah menjadi energi listrik yang digagas Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.
“Ini luar biasa kalau bisa diwujudkan, kita sangat mendukung, bahkan jika harus dibuatkan regulasinya,” kata Harry.
Karena sampah besar yang diproduksi ketiga daerah itu sangat besar, utamanya Kota Banjarmasin yang lebih 400 ton per harinya menurut data dinas lingkungan hidup kota.
“Kalau bisa dimanfaatkan untuk diolah menjadi tenaga listrik dengan teknologi saat ini, tentunya luar biasa dan menjadi solusi untuk penanganan darurat sampah di Kota Banjarmasin,” ujarnya.
Harry menyatakan, kotanya saat ini berjuang untuk mengelola sampah dengan baik setelah Tempat Pemrosesan Akhir sampah (TPAS) Basirih ditutup, hingga perlu langkah inovasi untuk keluar dari darurat sampah ini.
“Program ini salah satu inovasinya, meskipun tidak mudah mewujudkannya, sebab perlu tempat representatif dan biaya yang cukup besar, tapi jika tiga daerah komitmen bersatu, tentunya bisa cepat terwujud,” papar Harry.
Sebagaimana disampaikan Wali Kota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR nenyatakan, daerahnya siap menjadi percontohan untuk program nasional ubah sampah menjadi energi listrik sebagai upaya percepatan tata kelola lingkungan dan persampahan.
Bahkan, siap bersinergi dengan dua kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Banjar dan Barito Kuala sinergi karena memiliki karakteristik dan dinamikanya masing-masing dengan poros langkah menuju waste to energy.
Mengingat timbulan volume sampah di ketiga daerah yang jumlahnya hampir mencapai 678 ton per hari seiring kondisi kepadatan penduduk yang kian bertambah.
Langkah percepatan pengelolaan sampah menjadi energi listrik ini dinilai taktis untuk membantu menuntaskan persoalan yang ada.
Ada empat opsi lahan yang diajukan kepada Kementerian Lingkungan Hidup sebagai lokasi terpadu pengelolaan sampah menjadi energi listrik ini, lahan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Tabing Rimbah Barito Kuala, TPAS Basirih Kota Banjarmasin, di sekitar Terminal Gambut Barakat (TGB) dan belakang RSJ Sambang Lihum yang keduanya berada di wilayah Kabupaten Banjar.
Keempat lokasi itu akan melewati pengkajian bersama tim teknis kementerian, maka akan dipilih lokasi yang pas untuk implementasi pengelolaan sampah menjadi energi listrik tersebut. ant

