Mata Banua Online
Selasa, Maret 31, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

“Razia Kedisiplinan Siswa: Solusi Semu tanpa Penanaman Nilai Aqliyah dan Nafsiyah Islam”

by Mata Banua
31 Maret 2026
in Opini
0

Oleh: Zahwa Azizah (Aktivis Muslimah)

Fenomena razia kedisiplinan siswa yang kerap dilakukan oleh pihak sekolah maupun aparat pada dasarnya merupakan upaya untuk menekan berbagai bentuk kenakalan pelajar, seperti membolos, merokok, dan pelanggaran tata tertib lainnya. Upaya penegakan kedisiplinan siswa melalui razia tentu saja belum cukup untuk menyelesaikan berbagai bentuk pelanggaran yang terjadi di lingkungan sekolah. Tindakan tersebut hanya berfokus pada penertiban secara lahiriah, sementara akar permasalahan yang berkaitan dengan pola pikir dan pembentukan kepribadian siswa sering kali belum tersentuh.

Berita Lainnya

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

31 Maret 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

SKB Kesehatan Jiwa Anak Disepakati 9 Kementerian dan Lembaga

31 Maret 2026

Mengutip dari Kompas.com (13/3/26), Sejumlah siswi di Bengkulu kedapatan menyamar sebagai laki-laki dengan mengenakan pakaian dan atribut pria untuk menghindari pengawasan saat bolos sekolah. Mereka ditemukan sedang nongkrong dan merokok oleh petugas saat dilakukan razia pada jam pelajaran. Dalam operasi tersebut, petugas mengamankan beberapa pelajar yang tidak berada di sekolah.

Para siswi itu mengakui perbuatannya dan menyebut bahwa mereka sengaja menyamar agar tidak dikenali, mereka kemudian didata dan diberikan pembinaan agar tidak mengulangi tindakan tersebut.”Mereka mengenakan tutup kepala dan bergaya pria. Kami cek di tasnya, ternyata mereka menyimpan jilbab. Jadi dari rumah pamit sekolah berdandan layaknya perempuan, namun saat bolos, mereka nongkrong dan merokok dengan mengganti dandanan seperti pria,” jelas Sahat M Situmorang.

Fenomena razia kedisiplinan siswa yang dilakukan oleh aparat pemerintah daerah maupun pihak sekolah pada dasarnya merupakan bentuk upaya penertiban terhadap berbagai pelanggaran yang dilakukan pelajar. Namun, upaya tersebut akan menjadi kurang efektif apabila tidak diimbangi dengan penanaman nilai aqliyah dan nafsiyah Islam dalam diri siswa. Razia hanya berfungsi sebagai kontrol dari luar yang bersifat sementara, sedangkan akar persoalan terletak pada pola pikir dan sikap siswa yang belum terbentuk secara benar. Hal ini terlihat dari adanya perilaku tasyabuh, yaitu siswi yang berpenampilan menyerupai seorang laki-laki, yang menunjukkan ketidakpahaman terhadap syariat Islam terkait batasan identitas dan larangan menyerupai lawan jenis.

Nilai aqliyah berkaitan dengan pembentukan pola pikir yang benar, yaitu kemampuan seseorang untuk memahami mana yang baik dan buruk berdasarkan ajaran Islam, serta menyadari konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukan. Sementara itu, nilai nafsiyah berkaitan dengan pembentukan sikap, kontrol diri, dan dorongan batin agar seseorang mampu mengendalikan hawa nafsu serta menjauhi perilaku yang menyimpang. Tanpa kedua aspek ini, siswa cenderung hanya menaati aturan ketika ada pengawasan saja, bukan karena kesadaran pribadi mereka.

Selain itu, lingkungan sekitar juga memiliki peran besar dalam membentuk perilaku seseorang. Pengaruh teman sebaya, media sosial, serta kurangnya pengawasan dari keluarga sering kali menjadi faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan suatu pelanggaran. Ketika lingkungan lebih banyak menormalisasi perilaku yang tidak sesuai dengan aturan, seseorang akan lebih mudah terpengaruh dan menganggap tindakan tersebut sebagai hal yang biasa.

Oleh karena itu, penanaman nilai aqliyah dan nafsiyah Islam tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga perlu didukung oleh keluarga dan masyarakat. Sinergi antara ketiga lingkungan tersebut sangat penting agar nilai yang ditanamkan dapat diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya dukungan lingkungan yang positif, siswa akan lebih mudah membangun kesadaran diri, menjaga perilaku, serta memiliki tanggung jawab terhadap aturan dan norma yang berlaku.

Di samping itu, pendekatan pembinaan yang hanya menekankan hukuman sering kali membuat para siswa terfokus pada cara menghindari sanksi, bukan memahami alasan mengapa suatu perilaku itu dianggap sebagai pelanggaran. Akibatnya, siswa bisa menjadi lebih pandai menyembunyikan pelanggaran daripada benar-benar memperbaiki sikapnya. Karena itu, proses pembinaan perlu diarahkan pada penumbuhan kesadaran, tanggung jawab, dan rasa malu untuk melakukan pelanggaran.

Penanaman nilai Islam sangat berperan penting dalam membentuk hati dan pola pikir siswa agar mereka mampu menilai setiap tindakan berdasarkan benar dan salah, bukan sekadar aman atau tidaknya dari pengawasan. Jika kesadaran ini sudah tertanam, maka kedisiplinan akan menjadi bagian dari karakter, sehingga siswa tetap menjaga perilakunya meskipun tidak ada pihak yang mengawasi mereka secara langsung.

Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh paham sekuler liberal yang menjadikan kebebasan sebagai nilai utama dalam kehidupan. Dalam pandangan ini, pelajar didorong untuk merasa memiliki hak penuh atas setiap tindakan yang mereka dilakukan selama dianggap tidak merugikan orang lain. Konsep kebebasan seperti ini pada akhirnya dapat mendorong munculnya perilaku yang menyimpang, seperti menantang aturan, membolos, merokok, hingga berpakaian menyerupai lawan jenis. Oleh karena itu, solusi yang hanya berupa razia dan penindakan tidak menyentuh akar persoalan, karena belum mampu membentuk kesadaran internal dan kepribadian siswa secara menyeluruh.

Dalam Islam, pembinaan generasi merupakan kewajiban bersama antara keluarga, masyarakat, dan negara. Islam menanamkan akidah Islam sebagai pondasi utama dalam berpikir dan bersikap, sehingga setiap tindakan didasarkan pada pemahaman benar dan salah menurut syariat. Selain itu, Islam menekankan pembentukan syakhsiyah Islamiyah, yaitu kepribadian Islam yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan ajaran Islam. Seorang pelajar dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan kehormatan diri.

Islam juga memiliki aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan sebagai bentuk penjagaan kehormatan dan identitas masing-masing. Larangan menyerupai lawan jenis bukan sekadar aturan simbolik, tetapi merupakan bagian dari penjagaan fitrah manusia. Dalam sistem Islam, negara juga berperan aktif dalam menjaga moral generasi, tidak hanya pada aspek administratif pendidikan, tetapi juga memastikan kurikulum, lingkungan sosial, dan media mendukung terbentuknya generasi yang memiliki syakhsiyah Islamiyah. Di samping itu, masyarakat juga dituntut untuk saling menjaga dalam kebaikan melalui prinsip amar makruf nahi munkar, sehingga tercipta lingkungan yang mendukung terbentuknya perilaku disiplin dan berakhlak.

Oleh karena itu, penegakan kedisiplinan tidak cukup hanya dilakukan melalui razia dan tindakan penekanan semata. Diperlukan pembinaan yang lebih mendalam melalui pendidikan karakter dan penanaman nilai-nilai Islam secara berkelanjutan. Maka setelah itu, kedisiplinan tidak lagi terbentuk karena takut terhadap hukuman, tetapi lahir dari kesadaran diri, tanggung jawab moral, dan keimanan yang kuat.Dengan demikian, sistem Islam adalah sistem sempurna yang sudah terbukti mampu mengatur dan menyelesaikan seluruh urusan atau permasalahan manusia hingga ke akarnya. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita mengganti sistem kita yang rusak dan merusak ini dengan sistem sempurna dari Allah SWT. yaitu, sistem Islam yang hanya akan bisa di terapkan dengan institusi penerapnya, khilafah Islamiyyah.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper