Mata Banua Online
Selasa, Maret 31, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Normalisasi Ghibah Pasca Ramadhan: Antara Kebiasaan dan Penyakit Hati

by Mata Banua
29 Maret 2026
in Opini
0

Oleh: Hamba Sahaya

Fakta: Ghibah yang Kian Terbuka dan Dibungkus “Kebaikan”

Berita Lainnya

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

KorupsiBerjamaah dan SimbolisKepala Daerah

31 Maret 2026
Berburu Wajib Pajak: Beban Rakyat di Tengah Krisis Anggaran

SKB Kesehatan Jiwa Anak Disepakati 9 Kementerian dan Lembaga

31 Maret 2026

Pasca bulan suci Ramadhan, semangat ibadah yang semestinya terjaga justru sering berbanding terbalik dengan perilaku sosial. Salah satu fenomena yang mencolok adalah kembalinya praktik ghibah (membicarakan aib orang lain) secara terbuka—bahkan dalam forum yang mengatasnamakan kebaikan, seperti diskusi keagamaan atau perhalaqahan.

Tidak jarang, pembahasan yang seharusnya fokus pada materi keilmuan justru bergeser menjadi pembicaraan personal tentang individu tertentu yang tidak ada kaitannya dengan topik utama. Lebih ironis lagi, ghibah sering diawali dengan kalimat pembenaran seperti, “Ini bukan ghibah, tapi…” atau “Ini fakta kok…”, seolah-olah memberi legitimasi atas perilaku tersebut.

Berbeda dengan dosa lain yang umumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan disertai rasa bersalah, ghibah justru dilakukan secara kolektif, santai, dan tanpa beban. Ia hadir di berbagai ruang: kantor, tempat ibadah, hingga pertemuan santai antar teman. Bahkan setelah dilakukan, jarang ada penyesalan yang menyertainya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ghibah bukan lagi sekadar pelanggaran moral individual, tetapi telah mengalami normalisasi dalam kehidupan sosial.

Analisis: Akar Masalah pada Keakuan dan Lemahnya Kesadaran Moral

Mengapa ghibah begitu mudah dan “nikmat” dilakukan? Salah satu akar utamanya adalah penyakit hati yang dikenal sebagai keakuan (ananiyah)—perasaan merasa lebih baik, lebih benar, atau lebih unggul dibanding orang lain.

Ketika seseorang melihat kekurangan orang lain, ia tidak berhenti pada pengamatan, tetapi terdorong untuk membandingkan dan kemudian mengomentarinya. Di sinilah peran mata dan lisan menjadi sangat dominan: mata merekam kekurangan, lisan menyebarkannya.

Selain itu, ghibah juga diperkuat oleh faktor sosial. Dalam banyak kasus, ghibah menjadi semacam “perekat” dalam pergaulan. Kesamaan topik pembicaraan—meski berupa aib orang lain—menciptakan rasa kebersamaan yang semu. Akibatnya, seseorang cenderung mengikuti arus agar tetap diterima dalam kelompok.

Masalah lain yang tak kalah penting adalah rendahnya kesadaran terhadap dampak ghibah. Banyak orang tidak menyadari bahwa menyampaikan sesuatu yang benar tentang orang lain tetap tergolong ghibah jika hal tersebut tidak disukai oleh yang bersangkutan. Ketidaktahuan ini sering menjadi alasan pembenaran.

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Imam Syafi’i, menjaga lisan adalah kunci menjaga kehormatan diri. Setiap manusia memiliki aib, dan setiap orang lain juga memiliki kesempatan yang sama untuk mengungkapkannya.

Solusi: Membangun Kesadaran dan Budaya Menjaga Lisan

Menghadapi fenomena normalisasi ghibah, diperlukan upaya yang tidak hanya bersifat individual, tetapi juga sosial.

Pertama, membangun kesadaran diri (self-awareness). Setiap individu perlu menyadari bahwa ghibah adalah dosa yang sering diremehkan justru karena terasa ringan. Mengingat konsekuensi moral dan spiritualnya menjadi langkah awal untuk menahan diri.

Kedua, mengendalikan lisan dan mengalihkan pembicaraan. Meneladani sikap para ulama yang memilih diam atau mengalihkan topik ketika pembicaraan mengarah pada ghibah adalah langkah praktis yang efektif. Tidak semua percakapan harus diikuti.

Ketiga, memilih lingkungan pergaulan yang sehat. Lingkungan yang terbiasa menjaga lisan akan membantu seseorang untuk ikut terbawa dalam kebiasaan baik. Sebaliknya, lingkungan yang gemar mengghibah akan sulit dihindari pengaruhnya.

Keempat, mengubah budaya komunikasi. Pertemuan sosial seharusnya menjadi ruang untuk saling menguatkan, berbagi ilmu, dan membangun kebaikan—bukan ajang membicarakan keburukan orang lain.

Terakhir, membiasakan introspeksi diri. Alih-alih sibuk membicarakan aib orang lain, lebih baik setiap individu fokus memperbaiki kekurangan diri sendiri. Kesadaran bahwa diri kita pun memiliki aib akan menumbuhkan empati dan menahan lisan dari menyakiti orang lain.

Ghibah adalah dosa yang sering kali tidak terasa sebagai dosa. Ia dilakukan tanpa paksaan, tanpa rasa takut, bahkan terkadang tanpa disadari. Inilah yang membuatnya berbahaya.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kita pernah melakukan ghibah—karena hampir semua pernah. Yang lebih penting adalah:

apakah kita mau menyadari, menyesali, dan mulai berhenti melakukannya?

Jika Ramadhan benar-benar memberi dampak, maka salah satu tandanya adalah kemampuan kita untuk lebih menjaga lisan setelahnya.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper