Mata Banua Online
Senin, April 6, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Jejak Ziarah Kebudayaan dan Peradaban

by Mata Banua
24 Maret 2026
in Opini
0
Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd (Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang, Peneliti dan Penulis Buku)

Siang itu udara Kota Demak terasa terik. Matahari berada tepat di atas kepala ketika azan zuhur berkumandang dari menara Masjid Agung Demak. Suara panggilan salat itu mengalun pelan, namun memiliki daya panggil yang kuat—mengajak siapa saja yang mendengarnya untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Di halaman masjid, lantai tegel yang panas terasa menyengat kaki para peziarah yang berjalan tanpa alas. Namun begitu memasuki area tempat wudu, suasana berubah. Air yang mengalir dari kran menghadirkan kesejukan yang menenangkan, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi batin.

Ada semacam keteduhan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Setelah mengambil air wudu dan memasuki ruang salat, suasana terasa berbeda. Para jamaah berbaris rapi dalam saf-saf yang padat. Mereka datang dari berbagai daerah dengan tujuan yang beragam, tetapi pada saat itu semua larut dalam satu kesadaran: menunaikan salat sebagai bentuk penghambaan kepada Tuhan. Sejenak dunia yang penuh hiruk pikuk ditinggalkan, digantikan dengan keheningan spiritual yang menghadirkan rasa lega dalam hati.

Berita Lainnya

Upaya Indonesia dalam Penanganan Isu Nuklir Iran

Upaya Indonesia dalam Penanganan Isu Nuklir Iran

5 April 2026
Belum Ada Titik Temu Kenaikan UMP 2026

Demi Menghemat Anggaran Negara, Haruskah PPPK Jadi Korban ?

5 April 2026

Masjid Agung Demak memang bukan sekadar tempat ibadah biasa. Bangunan bersejarah ini menjadi salah satu saksi penting perkembangan Islam di tanah Jawa. Pada hari-hari tertentu, seperti menjelang dan di bulan Ramadan dan musim keagamaan lainnya, tempat ini dipenuhi para peziarah yang datang untuk menapak tilas sejarah para wali. Mereka berjalan menyusuri kompleks makam yang berada di sekitar masjid, membaca doa, dan mengenang para tokoh yang pernah memainkan peran besar dalam perjalanan dakwah Islam di Nusantara.

Perjalanan Kebudayaan

Perjalanan ke tempat-tempat seperti ini sering disebut sebagai ziarah. Namun bagi sebagian orang, ziarah tidak selalu dimaknai semata sebagai aktivitas spiritual. Ada pula yang memandangnya sebagai perjalanan kebudayaan—sebuah upaya untuk membaca kembali jejak sejarah dan nilai-nilai yang pernah membentuk wajah masyarakat Indonesia. Dalam perspektif inilah perjalanan ke Demak dan Kadilangu dapat dilihat sebagai ziarah kebudayaan: perjalanan yang tidak hanya berisi doa, tetapi juga refleksi tentang bagaimana agama dan budaya saling berkelindan dalam sejarah bangsa.

Di belakang Masjid Agung Demak, terdapat beberapa makam tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Demak. Di sana dimakamkan Raden Patah, pendiri sekaligus sultan pertama kerajaan Islam Demak. Di dekatnya terdapat makam Sultan Trenggono yang melanjutkan kepemimpinan kerajaan tersebut. Tidak jauh dari sana juga terdapat makam Pangeran Sabrang Lor atau Pati Unus serta beberapa tokoh lain yang pernah memainkan peran penting dalam sejarah politik dan dakwah di tanah Jawa.

Kompleks makam itu bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir para tokoh sejarah. Ia juga menjadi ruang simbolik yang menyimpan memori kolektif masyarakat. Para peziarah yang datang tidak hanya membawa doa, tetapi juga rasa ingin tahu tentang masa lalu. Sebagian datang dengan motivasi spiritual, sebagian lainnya karena ketertarikan pada sejarah, sementara tidak sedikit pula yang sekadar mengikuti tradisi keluarga yang telah berlangsung turun-temurun.

Dimensi Spiritual

Dalam tradisi Islam sendiri, ziarah kubur memiliki dimensi spiritual yang cukup kuat. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, “Kuntu nahaitukum ‘an ziyarati al-qubur, ala fazuruha fa innaha tuzakkirukum al-akhirah”—“Dahulu aku melarang kalian menziarahi kubur, tetapi sekarang ziarahlah kalian, karena hal itu dapat mengingatkan kalian kepada kehidupan akhirat.” Hadis ini menunjukkan bahwa ziarah kubur bukan sekadar ritual, melainkan sarana refleksi agar manusia menyadari keterbatasan hidupnya di dunia.

Kesadaran semacam ini sering muncul secara spontan ketika seseorang berdiri di depan makam tokoh-tokoh besar masa lalu. Mereka yang dahulu pernah memimpin kerajaan, menyebarkan agama, atau membangun peradaban, pada akhirnya juga kembali ke tanah. Kesadaran tentang kefanaan hidup itu sering kali menghadirkan pertanyaan reflektif dalam hati: bagaimana manusia memaknai perjalanan hidupnya sendiri.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kadilangu, sebuah kawasan yang tidak terlalu jauh dari pusat kota Demak. Di tempat inilah makam Sunan Kalijaga berada. Nama tokoh ini memiliki posisi yang sangat penting dalam sejarah dakwah Islam di Jawa. Sunan Kalijaga dikenal sebagai sosok yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan kebudayaan lokal secara kreatif dan bijaksana.

Strategi dakwah yang ia gunakan berbeda dengan pendekatan konfrontatif. Ia memilih jalan kultural, memanfaatkan seni, sastra, dan tradisi lokal sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran agama. Wayang, tembang Jawa, hingga berbagai simbol budaya digunakan sebagai medium dakwah yang mampu diterima oleh masyarakat pada zamannya.

Pendekatan semacam ini membuat ajaran Islam dapat berakar secara damai di tengah masyarakat Jawa yang saat itu memiliki tradisi budaya yang kuat. Islam tidak hadir sebagai kekuatan yang memutus tradisi lama secara kasar, tetapi sebagai nilai baru yang perlahan-lahan memberi makna baru pada kebudayaan yang telah ada.

Ketika berdiri di depan makam Sunan Kalijaga, refleksi tentang pendekatan budaya ini terasa semakin relevan. Dalam kehidupan Indonesia yang majemuk saat ini, nilai toleransi dan keterbukaan seperti yang pernah dicontohkan para wali terasa sangat penting untuk dihidupkan kembali. Indonesia adalah rumah bagi beragam suku, bahasa, dan agama. Keragaman tersebut hanya dapat terjaga jika masyarakat memiliki sikap saling menghargai dan kesediaan untuk berbagi ruang kehidupan bersama.

Sunan Kalijaga, melalui pendekatan budayanya, seakan mengajarkan bahwa hidup berdampingan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan. Perbedaan bukanlah alasan untuk saling mencurigai, tetapi kesempatan untuk saling belajar dan memperkaya pengalaman budaya. Nilai ini dalam wacana modern sering disebut sebagai multikulturalisme—sebuah kesadaran bahwa masyarakat yang beragam membutuhkan sikap saling menghormati agar dapat hidup dalam harmoni.

Konteks Indonesia

Dalam konteks Indonesia masa kini, pesan tersebut terasa semakin relevan. Di tengah berbagai dinamika sosial dan politik yang kadang memunculkan ketegangan identitas, warisan kebijaksanaan para wali dapat menjadi sumber inspirasi. Mereka telah menunjukkan bahwa agama dapat menjadi kekuatan yang menghadirkan kedamaian, bukan sebaliknya.

Ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Demak dan Kadilangu pada akhirnya bukan sekadar perjalanan spiritual atau wisata religi. Ia juga merupakan perjalanan intelektual untuk membaca kembali jejak peradaban bangsa. Dari sana kita belajar bahwa sejarah Indonesia dibangun oleh nilai-nilai toleransi, kebijaksanaan, dan kemampuan berdialog dengan kebudayaan yang beragam.

Warisan inilah yang seharusnya terus dirawat oleh generasi masa kini. Sebab perjalanan sejarah bangsa tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berlanjut melalui cara kita memahami masa lalu dan menerjemahkan nilainya untuk menjawab tantangan masa depan.

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper