Mata Banua Online
Kamis, April 2, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Wisata Religi Masjid Jami Assalafiyah Jadi Saksi Bisu Sejarah

by Mata Banua
2 Maret 2026
in Ramadhan
0

 

Berita Lainnya

Himbauan Tunda Berangkat Umroh

Himbauan Tunda Berangkat Umroh

2 Maret 2026
Saat Berbuka Pilih Buah Jangan Sekedar Manis

Saat Berbuka Pilih Buah Jangan Sekedar Manis

2 Maret 2026

MASJID Jami Assalafiyah atau yang juga disebut Masjid Achmad Djaketra, cagar budaya bersejarah yang ada di Jakarta Timur. Masjid ini menjadi rekam jejak Pangeran Jayakarta, yang merupa­kan sosok pendiri dari bangunan tersebut.

Dalam bahasa Arab, “Jami” artinya “besar”, dan “Assalafiyah” artinya “pendahulu yang shaleh”. Pada awal abad ke-17 tepatnya di tahun 1620, Pangeran Achmad Djaketra alias Pangeran Jayakarta membangun Masjid Jami Assalafiyah, yangawalnya hanya berbentuk musala.

Pangeran Jayakarta, pahlawan yang berperan besar dalam mendepak para kolonial Belanda dari Jakarta (dulunya Batavia). Pangeran Jayakarta mem­bangun Masjid Jami Assalafiyah tepat setahun setelah ia bersama para pengikutnya hijrah ke Jatinegara Kaum.

Saat itu, VOC membumihanguskan perumahan abdi dalam dan rakyat Jayakarta yang ada di Kota Tua. Oleh karena itu, Pangeran Jayakarta pergi dari Jakarta Kota bersama para pengikutnya, dan membangun sebuah masjid di Jakarta Timr.

Masjid ini bukan hanya sebagai rumah ibadah, tetapi juga saksi bisu yang melihat perubahan zaman di tanah Jakarta. Bahkan masjid ini disebut sebagai salah satu masjid tertua di Jakarta Timur.

Hingga hari ini, Masjid Jami Assalafiyah telah mengalami beberapa kali renovasi, tapi masih memiliki ornamen khas berupa empat soko guru yang terbuat dari kayu jati.

Usia tiang kayu ini sudah ratusan tahun, tetapi masih terus dipertahankan keasliannya meskipun interior masjid sudah banyak yang dimodifikasi.

Mimbar masjid setinggi 1,5 meter juga masih asli dan digunakan hingga hari ini. Sementara itu, beberapa barang peninggalan Pangeran Jayakarta beserta keturunannya disimpan di dalam masjid.

Ada senjata tradisional, koin peninggalan Belanda, hingga dokumen kuno yang umurnya sudah ratusan tahun lalu.

Masjid ini, selain melestarikan warisan budaya Jakarta, juga merupakan situs edukasi bagi masyarakat untuk melihat rekam jejak perkembangan Islam di Jakarta.

Di dalam kompleks masid, terdapat makam Pangeran Jayakarta dan keturu­nan­nya, meninggalkan jejak keberadaan dan perjuangan sang pangeran di masjid yang ia bangun sendiri.

Pada tahun 1993, melalui Keputusan Gubernur (SK) No. 475, Masjid Jami Assalafiyah ditetapkan sebagai bangunan warisan budaya. Saat ini masjid tersebut mampu menampung 800 jemaah, dengan luas lahan 7.000 meter persegi dan luas bangunan 450 meter persegi.

Masjid Jami Assalafiyah berlokasi di Jalan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Jika ingin berkunjung ke Masjid Jami Assalafiyah, bisa menggunakan transportasi umum.

Naik bus TrasJakarta koridor 10 rute Tanjung Priok – PGC 2, kemudian turun di Halte Bus Prumpung Pedati. Setelah itu, perjalanan dapat dilanjutkan meng­gunakan transportasi online. cnn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper