
MASJID Al-Alam Marunda, aksi bisu yang menyimpan sejarah perjalanan Jakarta, perjuangan, penyebaran Islam, hingga jejak kolonialisme di pesisir utara Laut Jawa. Masjid ini juga kerap dikenal dengan sebutan “Masjid Si Pitung”, karena cerita menarik yang ada di baliknya.
Pada tahun 1527, pasukan Fatahillah yang merupakan panglima Kesultanan Demak mengatur strategi spiritual sebelum menyerang Portugis di Sunda Kelapa. Kemudian mereka mendirikan Masjid Al-Alam di tahun tersebut, sebagai tempa ibadah sekaligus persinggahan yang membangkitkan semangat para pejuang.
Arsitektur masjid ini khas dengan gaya masjid di Jawa pada abad ke-16, yang disokong dengan empat tiang utama. Masjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi mengingat usianya yang sudah tua, tetapi diperkirakan bangunan aslinya terbuat dari kayu, bambu, dan atap ijuk. Namun sekarang Masjid Al-Alam telah diberi sentuhan ornamen Betawi.
Kata “Al-Alam” berasal dari bahasa Arab, artinya “alam” atau “dunia”. Nama ini disematkan saat bangunan tersebut ditetapkan sebagai cagar budaya di tahun 1972.
Melansir NU Online, banyak orang yang percaya dari cerita turun-temurun, bahwa Masjid Al-Alam ini dibangun hanya dalam satu malam. Namun banyak pula yang menyangkal cerita tersebut.
Pilihan Redaksi
Masjid Al-Alam berlokasi di Jalan Marunda Kelapa Nomor 1, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Lokasinya yang di tepi pantai menegaskan bahwa ia adalah pusat komunitas maritim pada zamannya.
Meskipun telah melihat begitu banyak zaman di Indonesia, masjid ini tetap berdiri kokohsebagai masjid tertua di Jakarta sekaligus simbol ketahanan Islam.
Keberadaan Masjid Al-Alam ini merupakan tonggak penting penyebaran agama Islam di abad ke-16. Pada masa itu, banyak pedagang dari berbagai daerah yang singgah ke Sunda Kelapa, mereka mampir ke masjid untuk beribadah.
Setelah itu, banyak ulama lokal yang menggelar kegiatan keagamaan seperti dakwah maupun pengajian untuk menyebarluaskan agama Islam. Mereka memadukannya degan seni marawis hingga silat yang merupakan tradisi Betawi.
Di masa kolonial, Masjid Al-Alam tetap berdiri sebagai pusat spiritual meskipun dibatasi oleh Belanda. Di sini komunitas maritim Marunda yang terdiri dari nelayan dan pedagang menjaga solidaritas mereka.
Memasuki masa penjajahan Jepang dan era kemerdekaan, Al-Alam menjadi pusat perayaan dan kegiatan sosial, mulai dari Maulid Nabi hingga acara galang dana. Sekarang, Masjid Al-Alam bukan hanya rumah ibadah biasa, melainkan juga pusat pelestarian sejarah, budaya, dan destinasi wisata religi.
Sebutan “Masjid Si Pitung” disematkan mulai dari abad ke-19. Pahlawan Betawi, Si Ptung dipercaya sering beribadah di Masjid Al-Alam pada masa itu.
Diceritakan bahwa “Robin Hood Betawi” ini sering beribadah di masjid tersebut sebelum atau sesudah menjalankan aksinya merampas harta Belanda yang kemudian ia bagikan ke rakyat miskin. Bahkan menurut legenda yang beredar, Si Pitung juga bersembunyi di dalam masjid untuk menghindari kejaran pasukan Belanda.
Cerita menarik Masjid Al-Alam tak berhenti sampai di situ. Masjid ini juga memiliki sebuah sumur yang legendaris. Pada zaman dulu sebelum orang-orang menggunakan keran, mereka memanfaatkan sumur untuk mendapat air. Sumur di sekitar masjid ini diperuntukkan kepada jamaah yang hendak mengambil air wudhu. cnn/mb06

