Mata Banua Online
Jumat, Februari 13, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

PLN Perkuat Penerapan Energi Eersih di Perusahaan Pertambangan

by Mata Banua
12 Februari 2026
in Ekonomi & Bisnis
0
Penandatanganan perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (REC) antara PT PLN dengan PT Borneo Indobatubara di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Senin (9/2/2026). (Foto:mb/ANTARA/HO-PT PLN)

JAKARTA- PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah bersama PT Borneo Indobatubara (BIB) komitmen untuk memperkuat penerapan energi bersih guna mendukung praktik pertambangan yang lebih hijau (green mining) serta pengurangan emisi gas rumah kaca.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian jual beli Renewable Energy Certificate (REC) yang mana BIB menambah pembelian REC dari PLN sebanyak 23.040 unit atau setara 40.000 megavolt ampere (MVA) listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

Berita Lainnya

Otorita Siapkan Jalan Akses Utama KIPP IKN

Otorita Siapkan Jalan Akses Utama KIPP IKN

12 Februari 2026
Danantara Ambil Alih Proyek PLTSa Samarinda

Danantara Ambil Alih Proyek PLTSa Samarinda

12 Februari 2026

Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, mengatakan kerja sama itu sebagai dukungan PLN terhadap transisi energi industri nasional.“PLN berkomitmen penuh untuk mendukung daya saing industri nasional dengan mendorong penggunaan energi bersih yang ramah lingkungan melalui layanan listrik hijau 100 persen yang dipasok oleh pembangkit berbasis EBT,” katanya.

Dia menjelaskan REC adalah sertifikat digital yang mewakili atribut lingkungan dari satu megawatt hour listrik yang berasal dari sumber energi terbarukan, seperti surya, air, atau panas bumi.Sertifikat tersebut menjadi bukti bahwa listrik yang digunakan pelanggan benar-benar dilengkapi dengan kontribusi EBT, meski secara teknis listriknya mengalir melalui grid umum PLN yang juga mencampurkan berbagai sumber energi.

Dengan membeli REC, lanjutnya, perusahaan tidak perlu membangun langsung infrastruktur EBT sendiri, tetapi tetap bisa mengklaim penggunaan listrik hijau untuk memenuhi target keberlanjutan, pengurangan emisi, dan tuntutan konsumen atau regulator.

Instrumen ini juga tercatat secara tracking elektronik, sehingga memastikan transparansi dan keabsahan konsumsi energi terbarukan yang disertifikasi.”Hal ini tidak hanya sekadar jual beli sertifikat, tetapi juga langkah nyata memperkuat daya saing industri Indonesia di tengah tuntutan global dekarbonisasi dan peningkatan praktik keberlanjutan,” katanya.

Adi mengungkapkan permintaan terhadap REC di Indonesia menunjukkan tren yang signifikan, pada 2024 pengguna REC atau konsumsi energi hijau mencapai lebih dari 10,9 terawatt hour (TWh) naik lebih dari 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya, .”Kenaikan minat ini juga mencerminkan meningkatnya kesadaran industri dalam memenuhi tuntutan pemangku kepentingan untuk meminimalkan jejak karbon,” katanya.

Sementara itu Chief Operating Officer BIB Raden Utoro mengapresiasi komitmen PLN yang mendukung penuh pelaksanaan program Green Mining Realization di lingkungan operasional perusahaan.”Kerja sama ini sangat krusial karena keandalan pasokan listrik menjadi kebutuhan mutlak, mengingat gangguan pasokan dapat menghentikan seluruh aktivitas operasional tambang,” katanya.

Dia menyatakan keandalan pasokan listrik bersih menjadi kebutuhan penting, terutama untuk operasional titik tambang BIB yang terus berkembang. Dukungan teknis dan infrastruktur ketenagalistrikan, termasuk transmisi dan pembangunan gardu induk akan menopang kebutuhan daya puncak yang diperkirakan mencapai 200–240 MVA pada 2028.

Menurut dia, program tersebut menjadi yang pertama di Indonesia untuk skala besar, dengan target elektrifikasi pada 2026 mencapai 25 persen armada alat berat berbasis listrik, naik menjadi 75 persen pada 2028, serta membidik target nol emisi pada 2028–2029.

General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menyambut positif keputusan PT BIB. Ia menegaskan bahwa penjualan 23.040 unit REC ini merupakan pencapaian terbesar di wilayah Kalimantan.ant/rds

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper