
BANJARMASIN – Ustadz Haji Ahmad Walad Hadrawi mengajak kaum Muslim memanfaatkan malam peribadatan Nisfu Sya’ban semaksimal mungkin, dalam tausyiahnya di Masjid Al Falah Komplek Bumi Pemurus Permai, Kelurahan Pemurus Dalam, Banjarmasin Selatan.
“Pasalnya sebagaimana pendapat para ulama, tidak ada malam yang lebih mulia sesudah ‘lailatul qadar’ (malam qadar), kecuali malam Nisfu Sya’ban,” ujar Ustadz Walad di hadapan jamaah Masjid Al Falah tersebut sesudah shalat Subub Senin.
Ustadz Walad mengungkapkan, bahwa kalau umat Nabi Muhammad saw ada dua hari raya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, sementara malam qadar dan Nisfu Sya’ban hari rayanya Malaikat.
“Sedangkan kita ketahui, makhluk Allah tanpa dosa atau selalu patuh perintah Allah yaitu Malaikat. Karenanya malam qadar dan malam Nisfu Sya’ban momentum cukup istimewa bagi kaum Muslim,” ujar ustadz muda yang pernah mondok di Tarim Hadralmaut, Yaman.
Dia menerangkan, bahwa pada malam nisfu Sya’ban waktu membuat ketetapan atau putusan, sedangkan malam qadar penyerahan keputusan tersebut.
Oleh sebab itu, dalam malam peribadatan nasfu Sya’ban juga perbanyak berdo’a. “Walaupun do’a tersebut tidak akan mengubah ketetapan Allah. Karena fungsi do’a untuk menyelaraskan permintaan kita dengan ketetapan Allah,”.katanya.
Ustadz Walad mengatakan itu, dengan mengutip pendapat Abdullah bin Abbas atau “sepupu” (anak saudara kandung orang tua) Rasulullah Muhammad SAW.
Terkait malam peribadatan Nisfu Sya’ban, Ustadz Walad juga mengutip riwayat Aisyah RA (istri Nabi), bahwa pada tersebut Rasulullah SAW sujud shalat lama sekali (lebih lama dari biasanya). Ketika ditanya; Baginda Rasul menjawab: berdo’a.
Ustadz H Walad Hadrawi saat tausyiah di Masjid Al Falah Komplek Bumi Pemurus Permai Banjarmasin Selatan, sesudah shalat Subuh Senin (2/2/2026). (ANTARA/ Syamsuddin Hasan)
Pada pengajian rutin Kalam Hikmah Ibnu Athaillah al Iskandari, tiap Subuh Senin, Ustadz Walad mengungkapkan, ada tiga sifat/sikap manusia terhadap pemberian Allah antara lain gembira.
“Namun begitu gembira atau dengan kegembiraan luar biasa sehingga lupa kepada pemberi nikmat (Allah) sehingga lalai karena mendapat ‘istidraj’ (jebakan berupa limpahan nikmat, harta, kekuasaan, dan kesenangan duniawi yang diberikan Allah SWT kepada hamba yang terus-menerus berbuat maksiat dan jauh dari-Nya),” demikian Ustadz Walad Hadrawi. ant

