
JAKARTA – Pemilik usaha warung tegal (warteg) memutar otak untuk menyiasati kenaikan harga sejumlah bahan pangan, mulai dari cabai, daging ayam, hingga daging sapi.
Berbagai strategi dilakukan demi bisa bertahan tanpa menaikkan harga secara signifikan dan menggerus cuan harian.
Dewi, seorang penjual warteg di Jatiasih, Bekasi, mengaku saat harg bahan pokok tertentu naik ia memilih untuk mengurangi porsi ke pelanggan.
Misalnya, saat harga cabai naik di periode Nataru, ia mengurangi penggunaan bahan tersebut dibandingkan harus menaikkan harga.
“Kayak sambal tuh ya paling kita kasihnya agak dikurangin dikit biar bisa tetap untung lah,” ungkap Dewi.
Namun, ketika harga ayam potong naik, ia merasa lebih baik menaikkan harga sedikit, yakni sebesar Rp1.000 untuk setiap potongnya. “Kalau ayam pas naik kemarin, ya mau enggak mau naikin harga seribu toh ya semoga pembeli bisa paham,” ceritanya.
Hal senada juga dirasakan oleh Fitri seorang penjual warteg lainnya yang mengaku mengurangi bahan yang dipakai ketika memasak.
“Paling kalau kayak lauk balado-baladoan tuh kan pakai cabai. Nah itu jumlah cabai yang dipakai saat memasakdikurangi,” ujar Fitri saat ditemui secara terpisah.
Kendati demikian, ia menyampaikan tidak mengurangi jumlah porsi yang diberikan kepada pelanggan.
Harga sejumlah bahan pokok di tingkat konsumen masih tinggi sejak periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
Berdasarkan Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional, Sabtu lalu Ayam ras menanjak pada Desember lalu mencapai Rp42.449 per kg. Bulan anuari harganya Rp42.942 per kg. Begitu juga harga cabai rawit merah mencapai Rp83.852 per kg. cnn/mb06

