Mata Banua Online
Sabtu, April 25, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Puluhan Merk Beras Terindikasi Curang

by Mata Banua
14 Juli 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\Juli 2025\15 Juli 2025\7\7\ft master.jpg
PACKING BERAS BULOG – Perum Bulog kembali menerima penugasan dari Pemerintah melaksanakan rogram Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) selama periode Juli hingga Desember 2025 sebanyak 1,3 Juta ton beras. Petugas gudang Perum Bulog tengah melakukan packing beras yang akan disalurkan.(foto:mb/ant)

JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menindak produsen beras yang tak mematuhi standar mutu.

Pasalnya Kementerian Per­ta­ni­an (Kementan) dan Satgas Pa­ng­an menemukan praktek pe­ng­o­p­losan beras. Dalam pe­ng­op­los­an itu, beras yang dijual de­ng­an harga premium, ternyata isi­nya campuran dengan beras me­di­um atau tidak sesuai standar mu­tu beras premium.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

“Kami akan menindak tegas prak­tik seperti ini. Ini adalah ben­tuk pengkhianatan terhadap pe­ta­ni, konsumen, dan juga se­ma­ng­at swasembada pangan,” tegas Amran lewat keterangan tertulis, Se­nin (14/7).

Sesuai standar mutu beras ya­ng diatur dalam Standar Nasional In­donesia (SNI) 6128:2020, be­ras premium berkadar air mak­si­mal 14 persen, butir kepala mi­ni­mal 85 persen, dan butir patah mak­simal 14,5 persen.

Tak hanya di SNI, peraturan mu­tu beras juga turut diperkuat oleh Peraturan Badan Pangan Na­si­onal Nomor 2 Tahun 2023 ten­tang Persyaratan Mutu dan Label Beras, serta Peraturan Men­teri Pertanian Nomor 31/PERMENTAN/PP.130/8/2017 te­n­tang Kelas Mutu Beras.

“Sangat kami sayangkan, se­jum­lah perusahaan besar justru te­rindikasi tidak mematuhi stan­dar mutu yang telah ditetapkan. Mas­yarakat membeli beras pre­mi­um dengan harapan kua­li­tas­nya sesuai standar, tetapi ken­ya­ta­annya tidak demikian. Kalau dii­ba­ratkan, ini seperti membeli emas 24 karat namun yang di­te­rima ternyata hanya emas 18 ka­rat,” ujar Mentan Amran.

Amran juga mengingatkan se­luruh pelaku usaha peng­gi­li­ng­an serta distribusi wajib me­la­ku­kan registrasi produk beras.

Registrasi produk beras sen­di­ri diatur dalam Peraturan Men­teri Pertanian (Permentan) No­mo­r 53/Permentan/KR.040/12/2018 tentang Keamanan dan Mu­tu Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT). Pasal 2 menyebutkan re­gistrasi bertujuan melindungi kon­sumen serta meningkatkan ke­pastian usaha dan daya saing pa­ng­an segar asal tumbuhan.

Sesuai regulasi tersebut, pe­la­ku usaha yang mengemas PSAT untuk diperdagangkan wa­jib mencantumkan label pada ke­mas­an. Label minimal harus me­muat nomor pendaftaran, nama pro­duk, berat bersih atau isi ber­sih, serta nama dan alamat pihak yang memproduksi atau me­ng­im­por PSAT ke Indonesia.

Sebelumnya, Brigjen Pol Helfi Assegaf mengatakan Satgas Pa­ngan Polri bergerak cepat me­me­riksa sejumlah produsen beras pre­mium dengan hasil pe­me­rik­sa­an sebanyak 26 merek diduga men­jual beras kualitas biasa yang di­kemas dan dipasarkan sebagai be­ras premium. “Iya, betul kami la­ku­kan pemeriksaan terhadap ya­ng sebelumnya disampaikan Pak Menteri Andi Amran,” ujar Helfi di Jakarta, dikutip Sabtu.

Menurut Helfi, langkah ini me­rupakan tindakan tegas dalam mem­bongkar praktik mafia pa­ng­an yang merugikan petani dan mas­yarakat. Helfi menyebut pu­lu­han merek lain juga akan segera men­yusul untuk diperiksa.

Helfi menjelaskan empat pe­ru­sahaan besar produsen beras pre­mium telah lebih dulu di­pe­riksa oleh Satgas Pangan. Dari to­tal 26 merek yang terindikasi me­lakukan pelanggaran, ucap Helfi, sebanyak 14 di antaranya be­rasal dari empat perusahaan ter­sebut.

“Hasil pemeriksaan me­nun­juk­kan produk-produk ini tidak me­menuhi standar mutu, berat ber­sih, serta harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan peme­ri­n­tah,” sambung Helfi.

Helfi mengatakan empat pe­ru­sahaan tersebut yakni Wilmar Group dengan merek Sania, Sovia, Fortune, dan Siip; Food Sta­tion Tjipinang Jaya dengan me­rek Alfamidi Setra Pulen, Be­ras Premium Setra Ramos, Beras Pu­len Wangi, Food Station, Ramos Premium, Setra Pulen, dan Setra Ramos; Belitang Panen Ra­ya (BPR) dengan produk Raja Pla­tinum dan Raja Ultima; serta Sen­tosa Utama Lestari di bawah naungan Japfa Group dengan merek Ayana. bisn/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper