Mata Banua Online
Sabtu, April 25, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

56,57 Persen Tenaga Kerja di Sektor Informal

by Mata Banua
3 Juli 2025
in Ekonomi & Bisnis
0
D:\2025\Juli 2025\4 Juli 2025\7\7\master 7.jpg
TENAGA INFORMAL – Ojek online (ojol) meski merupakan pekerjaan informal, namun sekarang ini banyak yang menjadikan ojol sebagai pekerjaan utama bagi sebagian masyarakat untuk meraup pundi-pundi rupiah. Ojol menawarkan fleksibilitas bagi mitra driver roda dua, roda empat, dan kurir logistik maupun para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).(Foto:mb/ant)

JAKARTA – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, memaparkan kondisi ke­te­na­ga­kerjaan Indonesia pada 2025 yang masih didominasi sektor informal. Ia me­n­ye­but­kan, sekitar 56,57 persen tenaga kerja be­ra­da di sektor informal, termasuk setengah pe­ngangguran.

Menurut Menaker, tren ini diperkirakan akan terus meningkat. Karena itu, ia me­ng­ajak seluruh pihak, termask para ekonom dan analis, untuk turut mengelola kondisi ters­ebut secara tepat.

Berita Lainnya

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

BTN Tumbuh Positif di Kalsel

24 April 2026
Harga Emas Antam Kembali Merosot

Harga Emas Antam Kembali Merosot

23 April 2026

“Kami bicara perlindungan sosial, dan se­te­rusnya. Kalau ahli ekonomi mungkin ban­yak berbicara soal transisi dari informal ke formal. Apakah meang harus seperti itu? Me­nurut saya belum tentu. Ini menjadi tan­ta­ngan kita bersama,” ujar Yassierli saat memberikan arahan dalam diskusi yang diselenggarakan INDEF, di Jakarta.

Menaker juga menyoroti kualitas tenaga kerja Indonesia yang masih menjadi tan­tangan. Sekitar 85 persen angkatan kerja m­e­miliki pendidikan akhir maksimal SMA/SMK. Jika dirinci, 52,72 persen hanya ta­matan SD/SMP, sedangkan 34,29 persen lu­lusan SMA/SMK. “Ini menjadi tantangan kita. Kalau tingkat pengangguran sekitar 4,76 persn itu masih tergolong standar,” kata Yassierli.

Dalam hal produktivitas, Indonesia ma­sih tertinggal dibandingkan rata-rata negara ASEAN, dengan pertumbuhan yang tergolong lambat. Menurutnya, ini me­rupakan dampak dari proses jangka pan­jang.

“Kalau bicara produktivitas, kita bicara ja­ngka panjang. Tidak bisa kita ingin me­ningkatkannya 10 persen dalam 2-3 tahun. Itu butu waktu,” tuturnya.

Ia menyayangkan bahwa diskusi me­ngenai produktivitas sudah lama tidak menjadi perhatian utama. Padahal, beberapa pe­nelitian menunjukkan bahwa total pro­duktivitas berbanding lurus dengan produk do­mestik bruto (PDB).

“Solusi berbasis peningkatan pro­duk­tivitas itu seperti menghilang sejak tahun 90-an,” ungkapnya.

Yassierli juga menyoroti belum me­madainya keahlian pekerja dlam me­nghadapi transformasi digital serta ren­dahnya human capital index Indonesia yang ma­sih berada di bawah rata-rata negara ASEAN.

Ia menegaskan, Kementerian Ke­te­nagakerjaan tengah merintis berbagai lang­kah solutif untuk mengatasi tantangan ter­sebut, termasuk permasalahan pe­ng­ang­guran. Fokus solusi yang diambil Ke­menaker diarahkan pada dua sisi, yakni supply (penawaran) dan demand (per­min­ta­an) tenaga kerja. rep/mb06

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper