Mata Banua Online
Kamis, April 9, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

7 Penyebab Berat Badan Susah Turun Padahal Sudah Diet Ketat

by Mata Banua
19 Juni 2025
in Mozaik
0
D:\2025\Juni 2025\20 juni 2025\11\Halaman 1-11 Jumat\7 penyebab.jpg
(foto:mb/web)

Menurunkan berat badan sering kali menjadi perjuangan yang melelahkan. Meski sudah mencoba berbagai metode diet, rutin berolahraga, dan menjaga pola makan, angka di timbangan tetap enggan bergeser.

Anda pun mulai bertanya-tanya, apa penyebab berat badan susah turun meski sudah diet ketat?

Berita Lainnya

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

7 Jenis Makanan yang Bisa Memperparah Jerawat, Perlu Dibatasi

10 Februari 2026
5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

5 Ciri-Ciri Orang dengan Kecerdasan Emosional Rendah, Kata Psikolog

10 Februari 2026

Kesulitan menurunkan berat badan sebenarnya bukan semata soal kemauan. Ada berbagai faktor yang berperan, mulai dari genetik hingga kesehatan mental.

Berikut tujuh faktor utama yang bisa membuat perjalanan menuju berat badan ideal terasa lebih berat.

1. Faktor genetik

Faktor genetik jadi salah satu penyebab berat badan susah turun. Gen memiliki peran besar dalam mengatur berbagai aspek tubuh yang berkaitan dengan berat badan, mulai dari kecepatan metabolisme, pengaturan nafsu makan, hingga seberapa cepat Anda merasa kenyang setelah makan.

Melansir Very Well Health, dalam beberapa kasus langka, kondisi genetik seperti Prader-Willi syndrome, gangguan kromosom yang menyebabkan rasa lapar terus-menerus dan kecenderungan untuk makan berlebihan juga bisa menjadi penghalang besar dalam upaya menurunkan berat badan.

2. Ras dan etnis

Penelitian menunjukkan bahwa ras dan etnis juga dapat memengaruhi pola penambahan dan penurunan berat badan. Sebuah studi pada 2017 mencatat bahwa tingkat obesitas tertinggi di Amerika Serikat ditemukan pada kelompok masyarakat kulit hitam dan Latin, sedangkan tingkat terendah ada pada masyarakat keturunan Asia.

Walau penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, para ahli sepakat bahwa faktor sosial, ekonomi, dan budaya yang melekat pada kelompok etnis tertentu turut memengaruhi kemampuan mereka untuk menurunkan berat badan.

3. Peran hormon

Hormon adalah ‘direktur’ yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk rasa lapar dan pembakaran kalori. Perubahan hormon seperti penurunan estrogen saat perimenopause dan menopause sering kali menyebabkan penambahan berat badan.

Selain itu, ada beberapa hormon lain yang berpengaruh besar terhadap diet. Misalnya saja kortisol yang dikenal sebagai hormon stres, dapat memicu nafsu makan berlebih. Ada juga Ghrelin yang disebut hormon lapar. Hormon ini meningkat ketika tubuh merasa kelaparan.

Selain itu, insulin yang mengatur kadar gula darah juga bisa meningkatkan berat badan, terutama saat terjadi resistensi insulin yang bisa menyebabkan penimbunan lemak.

4. Metabolisme yang lambat

Metabolisme adalah proses tubuh mengubah makanan menjadi energi. Seiring bertambahnya usia, metabolisme cenderung melambat, sehingga pembakaran kalori menjadi lebih lambat pula.

Selain usia, metabolisme juga dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik, massa otot, dan komposisi lemak tubuh. Semakin sedikit otot yang dimiliki, semakin lambat metabolisme Anda bekerja.

5. Gaya hidup sehari-hari

Gaya hidup sangat menentukan keberhasilan program penurunan berat badan. Beberapa kebiasaan yang bisa menjadi penghambat antara lain:

– Kurang aktivitas fisik atau terlalu banyak duduk.

– Pola makan tidak sehat, seperti konsumsi makanan cepat saji atau manis berlebihan.

– Faktor ekonomi yang membatasi akses pada makanan bergizi.

– Konsumsi alkohol berlebihan.

– Kurang tidur.

– Stres berkepanjangan.

Ironisnya, beberapa perubahan gaya hidup sehat seperti berhenti merokok juga bisa memicu kenaikan berat badan karena perubahan metabolisme dan peningkatan nafsu makan.

6. Kesehatan mental

Kondisi mental seperti stres, kecemasan, dan depresi dapat berdampak langsung pada berat badan. Stres kronis dapat meningkatkan hormon kortisol dan memicu perilaku makan berlebihan (emotional eating).

Depresi juga sering membuat seseorang kehilangan motivasi untuk berolahraga atau melakukan aktivitas fisik, dan cenderung mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat untuk memperbaiki suasana hati.

Rendahnya kadar serotonin, hormon yang memengaruhi suasana hati, juga diyakini turut berperan dalam penambahan berat badan.

7. Kondisi medis tertentu

Beberapa kondisi medis bisa membuat penurunan berat badan menjadi lebih sulit atau bahkan menyebabkan penambahan berat badan. Contohnya:

– Hipotiroidisme: Ketika kelenjar tiroid tidak cukup aktif, metabolisme melambat.

– Sindrom cushing: Kelebihan hormon kortisol yang menyebabkan penimbunan lemak.

– Gagal jantung dan penyakit ginjal juga dapat memengaruhi distribusi cairan dan berat tubuh.

– Polycystic ovary syndrome (PCOS): Gangguan hormonal pada wanita yang dapat menyebabkan penambahan berat badan.

– Sleep apnea: Gangguan tidur ini sering dikaitkan dengan obesitas dan bisa mengganggu metabolisme.

Demikian beberapa penyebab berat badan susah turun. Jika ingin penurunan berat badan yang aman, konsultasikan dengan dokter. web

 

Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper